Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Pemerintahan / Masjid Raya Baiturrahman Resmi Jadi Cagar Budaya Nasional

Masjid Raya Baiturrahman Resmi Jadi Cagar Budaya Nasional

Jum`at, 06 Maret 2026 23:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Mesjid Raya Baiturrahman. Foto:  dok/iStock


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Kementerian Kebudayaan Indonesia resmi menetapkan Masjid Raya Baiturrahman sebagai situs cagar budaya nasional. Pengakuan itu diserahkan dalam acara penutupan Aceh Ramadhan Festival, Jumat (6/3/2026), dan mendapat sambutan hangat dari warga setempat.

Sertifikat penetapan diwakili oleh Wakil Gubernur Aceh, Fadhlullah Dek Fadh, yang menyerahkan dokumen tersebut kepada wakil imam besar masjid. Penyerahan berlangsung di hadapan ribuan warga yang hadir dalam acara buka puasa bersama dan peringatan malam Nuzulul Qur'an.

Hadir pada penutupan itu pula Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian, Menteri Sosial Saifullah Yusuf, dan Gubernur Aceh Muzakir Manaf. Suasana tampak meriah; panitia menyiapkan sekitar 5.000 porsi makanan untuk dibagikan kepada warga yang berbuka di kawasan masjid.

Dalam sambutannya, Dek Fadh menegaskan status masjid sebagai kebanggaan masyarakat Aceh dan Indonesia. Menurutnya, bangunan itu menjadi saksi bisu berbagai peristiwa sejarah dari konflik berskala besar hingga bencana tsunami dan kini berperan sebagai ikon pariwisata Tanah Rencong.

"Masjid ini adalah salah satu masjid kebanggaan Republik Indonesia. Masjid ini menjadi tempat wisata bukan hanya untuk provinsi Aceh tapi tempat wisata nasional," ujar Dek Fadh, menekankan nilai historis dan simbolik bangunan tersebut.

Mendagri Tito menyambut baik penetapan resmi itu, menyebut Masjid Raya Baiturrahman bukan hanya ikon Aceh, melainkan bagian dari warisan budaya bangsa. "Penyerahan sertifikat ini membuktikan bahwa ini sebuah kebanggaan — pengakuan resmi pemerintah bahwa ini situs pariwisata Indonesia," kata Tito.

Penetapan sebagai cagar budaya diharapkan memperkuat upaya pelestarian dan mempermudah pengelolaan situs agar fungsi keagamaan, sejarah, dan pariwisata dapat berjalan beriringan. Panggung budaya yang sempat menjadi tempat berkumpul ribuan warga pada penutupan festival menjadi pengingat: warisan seperti ini perlu dijaga bersama, bukan hanya dipamerkan.

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI