Senin, 26 Oktober 2026
Beranda / Pemerintahan / Rangkaian Agenda Pemko Banda Aceh, dari Perkuat Pendidikan hingga Beri Subsidi Sembako

Rangkaian Agenda Pemko Banda Aceh, dari Perkuat Pendidikan hingga Beri Subsidi Sembako

Senin, 26 Oktober 2026 14:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Ratnalia

Rangkaian Agenda Pemko Banda Aceh, dari Perkuat Pendidikan hingga Beri Subsidi Sembako pada 22 - 25 Oktober 2026. [Foto: kolase/dokumen dialeksis.com]


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Pemerintah Kota Banda Aceh menjalankan sejumlah agenda pada 22 - 25 Oktober 2026, mulai dari pembukaan pengajuan bantuan pendidikan keagamaan, penyediaan sembako bersubsidi, hingga pembenahan kurikulum pelatihan kerja.

Berdasarkan rangkuman tabulasi redaksi Dialeksis hingga Senin (26/10/2026), kegiatan tersebut menyasar kebutuhan masyarakat dalam bidang pendidikan, ekonomi rumah tangga, dan pengembangan keterampilan.

Rangkaian agenda itu dimulai dengan pembukaan pengajuan Bantuan Senif Fisabilillah 2026 melalui Baitul Mal Kota Banda Aceh. Pendaftaran berlangsung pada 22 - 28 Oktober 2026, dengan sasaran tenaga pengajar TPA/TPQ, majelis taklim, dan balai pengajian. Program ini ditujukan untuk mendukung kesejahteraan pengajar serta keberlangsungan pendidikan dan pembinaan keagamaan.

Ketua Baitul Mal Kota Banda Aceh, Yusuf Al Qardawy, menyampaikan bahwa penerimaan berkas persyaratan dijadwalkan pada 29 Oktober hingga 2 November 2026. Berkas diserahkan ke Kantor Baitul Mal di Jalan Politeknik Aceh, Kompleks Keistimewaan, Gampong Pango Raya, Kecamatan Ulee Kareng, pukul 09.00 - 16.00 WIB.

Persyaratan pengajuan disesuaikan dengan kategori penerima. TPA/TPQ, misalnya, harus telah beroperasi minimal dua tahun, terdaftar pada Dinas Pendidikan Dayah Kota Banda Aceh, memiliki sedikitnya 30 santri dan tiga pengajar, serta mempunyai tempat pengajian tersendiri.

Untuk majelis taklim, persyaratannya mencakup minimal 15 jemaah dan kegiatan pengajian sekurang-kurangnya sekali dalam sebulan. Sementara balai pengajian harus memiliki sedikitnya 15 santri aktif. Pemohon perlu melengkapi dokumen kelembagaan dan keterangan aktif sesuai ketentuan masing-masing kategori.

Dua hari setelah pembukaan pengajuan bantuan tersebut, Pemko Banda Aceh melalui Dinas Koperasi, UKM, dan Perdagangan menggelar pasar murah di halaman Masjid Bani Salim, Gampong Lampaseh Kota, Sabtu (24/10/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya menjaga keterjangkauan kebutuhan pokok dan mengendalikan inflasi daerah.

Pemko menyediakan subsidi sebesar Rp80.000 per paket sembako. Komoditas dalam paket meliputi beras 10 kilogram, minyak goreng dua liter, gula satu kilogram, dan telur 30 butir.

Kepala Dinas Koperasi, UKM, dan Perdagangan Banda Aceh, Bukhari Sufi, menjelaskan bahwa pasar murah diarahkan untuk meringankan pengeluaran rumah tangga. Pelaksanaannya melibatkan Bulog Banda Aceh, dengan harapan masyarakat dapat memperoleh bahan pangan lebih terjangkau sekaligus membantu menjaga kestabilan harga komoditas strategis.

Pada Minggu (25/10/2026), agenda pemerintah kota berlanjut pada pengembangan keterampilan masyarakat. Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, membuka diskusi kelompok terpumpun atau FGD peninjauan dan pendalaman kurikulum serta modul Banda Aceh Academy di Balai Keurukoen.

Dalam kegiatan tersebut, Illiza meminta materi pelatihan disusun dengan memperhatikan kebutuhan industri dan perkembangan dunia kerja. Penyusunan kurikulum perlu melibatkan masukan pihak di luar penyelenggara agar keterampilan peserta sesuai dengan kebutuhan lapangan.

Ia juga menekankan kerja sama pemerintah dengan pelaku industri, akademisi, komunitas, dan perbankan. Banda Aceh Academy diharapkan dapat memperluas kesempatan masyarakat untuk memperoleh pekerjaan maupun mengembangkan usaha.

Peninjauan kurikulum tersebut diarahkan agar program pelatihan lebih relevan dan mampu menyesuaikan diri dengan perubahan kebutuhan tenaga kerja.

Pada hari yang sama, aktivitas sosial masyarakat berlangsung di Gampong Pango Raya. Warga bergotong royong memasak kuah beulangong untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.

Hidangan kari khas Aceh itu dimasak bersama dalam wadah besar, kemudian dinikmati warga serta dibagikan kepada anak yatim dan keluarga kurang mampu. Kegiatan masyarakat tersebut menjaga tradisi kenduri maulid sekaligus mempererat hubungan antarwarga melalui kebiasaan memasak dan berbagi makanan. [ra]

Keyword:


Editor :
Indri

riset-JSI