Beranda / Pemerintahan / Samarinda Belajar Angkutan Massal dari Kota Serambi Mekah

Samarinda Belajar Angkutan Massal dari Kota Serambi Mekah

Jum`at, 03 Mei 2024 21:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Kadis Perhubungan Aceh, Teuku Faisal, menerima kunjungan Kadis Perhubungan Kota Samarinda, Hotma Rulitua Manalu di Aula Multimoda (Kamis, 2 Mei 2024). Foto: Humas Dishub Aceh


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Kepala Dinas Perhubungan Aceh, Teuku Faisal, menerima kunjungan Kepala Dinas Perhubungan Kota Samarinda, Hotma Rulitua Manalu, beserta rombongan di Aula Multimoda pada Kamis, 2 Mei 2024.

Kunjungan Dinas Perhubungan Kota Samarinda ke Dinas Perhubungan Aceh bertujuan untuk melakukan studi banding guna mempelajari program layanan angkutan umum massal perkotaan Trans Koetaradja yang telah diterapkan di Kota Banda Aceh dan Aceh Besar.

Perencanaan operasional bus Trans Koetaradja dimulai setelah gempa dan tsunami terjadi di Aceh pada tahun 2004. Saat itu, seluruh layanan angkutan umum yang beroperasi di Kota Banda Aceh terhenti total.

"Setelah tsunami, kami mulai menyiapkan moda angkutan massal perkotaan yang modern dan berkelanjutan di Banda Aceh karena seiring perkembangan zaman, transportasi umum massal akan dibutuhkan untuk mengurangi potensi kemacetan yang dapat terjadi," ujar Teuku Faisal.

Teuku Faisal menambahkan bahwa Pemerintah Aceh memiliki komitmen tinggi terhadap penyelenggaraan angkutan umum perkotaan seperti Trans Koetaradja. Hal ini dibuktikan dengan subsidi operasional bus Trans Koetaradja sejak tahun 2016 hingga saat ini, sehingga masyarakat dapat menikmati layanan angkutan ini secara gratis.

Keberhasilan ini tidak terlepas dari dukungan Pemerintah Pusat melalui Kementerian Perhubungan RI dalam penyediaan bus di masa awal operasional Trans Koetaradja.

Sementara itu, Kadishub Kota Samarinda, Hotma Rulitua Manalu, menyebutkan bahwa studi banding ini dilatarbelakangi keinginan Pemerintah Kota Samarinda untuk menyiapkan layanan angkutan massal perkotaan berbasis bus rapid transit (BRT) di Kota Samarinda. Layanan BRT juga bertujuan untuk mendukung transportasi berkelanjutan di Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara ke depan.

Oleh karena itu, Hotma menjelaskan bahwa pihaknya ingin mempelajari sistem manajemen dan pengoperasian layanan angkutan massal perkotaan dari daerah-daerah yang telah berhasil menerapkan sistem BRT sebagai acuan untuk diaplikasikan di Kota Samarinda.

Setelah pertemuan, rombongan melakukan kunjungan lapangan untuk melihat langsung operasional Trans Koetaradja. Rombongan menaiki bus feeder Trans Campus dari asrama mahasiswa USK hingga Halte Masjid Jami' Darussalam. Kemudian, mengunjungi Halte Masjid Raya Baiturrahman sebagai halte pusat layanan Trans Koetaradja.

Kunjungan lapangan diakhiri dengan mengunjungi Depo UPTD Angkutan Massal Trans Koetaradja sembari melihat ruang pusat kendali yang menjadi salah satu fasilitas untuk memantau operasional Trans Koetaradja secara langsung.

Sebagai informasi, Trans Koetaradja saat ini memiliki 59 unit armada yang terdiri dari 25 unit bus besar dan 34 unit bus sedang. Layanan Trans Koetaradja telah dinikmati oleh 17.407.580 juta pengguna jasa sejak awal beroperasi pada tahun 2016 hingga tahun 2023 kemarin. Jumlah pengguna jasa tertinggi tercatat pada tahun 2019 yang mencapai lebih dari 5 juta orang.

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI
Komentar Anda