DIALEKSIS.COM | Jakarta - Kebutuhan layanan fertilitas di Indonesia terus meningkat seiring tingginya angka infertilitas pada pasangan usia subur. Kementerian Kesehatan mencatat sekitar 10-15 persen pasangan usia subur di Indonesia mengalami gangguan kesuburan dan membutuhkan intervensi medis untuk memperoleh keturunan.
Wakil Menteri Kesehatan Prof. dr. Dante Saksono Harbuwono mengatakan layanan fertilitas tidak hanya berfokus pada penanganan medis, tetapi juga menyangkut aspek psikologis dan harapan pasangan yang menjalani program kehamilan.
“Di layanan fertilitas, yang kita rawat bukan hanya tubuh, tetapi juga jiwa dan harapan. Pasangan yang datang bukan sedang mengobati penyakit fisik, tetapi memperjuangkan hadirnya kehidupan,” ujar Dante dalam pernyataan resmi yang diterima pada Rabu (27/5/2026).
Secara global, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat sekitar 17,5 persen populasi dewasa atau satu dari enam orang mengalami infertilitas pada 2025. Sementara di Indonesia, jumlah pasangan usia subur yang mengalami infertilitas diperkirakan mencapai 4 hingga 6 juta pasangan dari total 39,8 juta pasangan usia subur.
Di tengah kondisi tersebut, minat masyarakat terhadap layanan Teknologi Reproduksi Berbantu (TRB) atau bayi tabung (In Vitro Fertilization/IVF) terus meningkat. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan jumlah pasien IVF secara nasional meningkat dari sekitar 23 ribu pasien pada 2021 menjadi 36 ribu pasien pada 2024.
Saat ini terdapat 59 rumah sakit di 15 provinsi yang telah memiliki izin layanan IVF. Salah satu fasilitas yang menjadi rujukan ialah Klinik Yasmin RSCM yang menyediakan layanan penanganan infertilitas, bayi tabung, endometriosis, sindrom ovarium polikistik (PCOS), gangguan haid, preservasi fertilitas, hingga penanganan keguguran berulang.
Dante menilai penguatan layanan fertilitas menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas generasi masa depan Indonesia.
“Kalau pertumbuhan generasi ini baik, kita akan punya usia produktif yang kuat menuju Indonesia Emas 2045. Karena itu kualitas layanan kesehatan reproduksi harus terus dijaga dan dikembangkan,” kata dia.[in]