DIALEKSIS.COM | Lhokseumawe - Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh menggelar kegiatan Pendampingan Sanggar Terdampak Bencana yang dilaksanakan pada tanggal 3 - 5 Agustus 2026 di kota Lhokseumawe.
Kegiatan ini diikuti oleh 30 pengelola sanggar yang berada di wilayah Kota Lhokseumawe, Kabupaten Aceh Utara, Aceh Tamiang, Langsa dan Bireuen. Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Kepala Bidang Bahasa dan Seni mewakili Kadisbudpar Aceh.
Kepala Bidang Bahasa dan Seni Disbudpar Aceh Nurlaila Hamjah, S.Sos, MM menjelaskan bahwa pendampingan ini dirancang dalam dua tahap kegiatan masing2 selama 3 hari.
Di tahap pertama peserta diajak untuk melakukan proses refleksi, penyusunan visi hingga perumusan strategi rebranding sanggar/komunitas. Selanjutnya, pendampingan online selama dua minggu dan peserta dibimbing untuk praktek branding dan promosi sanggar melalui medsos.
“Ditahap kedua nantinya peserta akan dibekali tips dan trik penyusunan program kerja sanggar serta kemampuan untuk membangun jejaring dan menjalin komunikasi dengan calon mitra baik dari instansi pemerintah, swasta, BUMN/BUMD maupun institusi funding lainnya. Ditahap ini juga nantinya turut diperkenalkan lembaga mitra dan cara mengakses agar dapat berkolaborasi dalam pelaksanaan program seni budaya”, sambung Laila.
Pihaknya memahami bahwa bencana hidrometrologi beberapa waktu telah memberikan dampak yang tidak ringan, termasuk keberlangsungan aktivitas seni dan budaya di sanggar-sanggar dan komunitas.
"Namun, saya percaya bahwa dengan semangat kebersamaan, kepedulian, dan kerja sama, kita mampu bangkit dan membangun kembali ruang-ruang kreatif yang menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat." tuturnya.
Melalui kegiatan pendampingan ini, dirinya berharap para manager sanggar memperoleh pengetahuan, penguatan kapasitas dan solusi yang bermanfaat untuk pulih dan bangkit kembali serta berperan menggerakkan ruang-ruang kreatif yang merupakan ekspresi seni budaya termasuk pembinaan generasi muda.
Karena pendampingan ini, katanya, sangat penting untuk keberlanjutan sanggar/komunitas seni dan ini juga merupakan wujud kepedulian Disbudpar Aceh kepada pegiat dan pelestari seni budaya, maka diharapkan peserta berkomitmen mengikuti kegiatan dengan baik dan serius agar nantinya memperoleh benefit maksimal sehingga memiliki daya tahan menghadapi berbagai tantangan kedepan.
"Semoga kegiatan ini menjadi langkah nyata dalam memperkuat ketahanan sanggar menghadapi berbagai tantangan di masa mendatang. Terakhir kami ingin sampaikan bahwa setelah mengalami kejadian besar kita tidak hanya perlu bangkit dan berkarya, tetapi juga harus lebih cerdas, kuat dan memiliki pengetahuan untuk bertumbuh”, tutup Nurlaila. [*]