Jum`at, 12 Juni 2026
Beranda / Gaya Hidup / Seni - Budaya / Simbol Pemersatu Aceh, 23 Juli Layak Jadi Hari Lahir Alam Peudeung

Simbol Pemersatu Aceh, 23 Juli Layak Jadi Hari Lahir Alam Peudeung

Jum`at, 12 Juni 2026 15:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Naufal Habibi

Ketua Yayasan Sultan Alaidin Mansyursyah yang juga cucu Sultan Aceh, Tuanku Warul Waliddin. [Foto: Dokumen untuk dialeksis.com]


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Ketua Yayasan Sultan Alaidin Mansyursyah yang juga cucu Sultan Aceh, Tuanku Warul Waliddin, menilai 23 Juli layak ditetapkan sebagai Hari Lahir Alam Peudeung karena memiliki makna historis sebagai simbol pemersatu Aceh.

Menurut Tuanku Warul, berdasarkan catatan sejarah Kesultanan Aceh, pada 23 Juli 1507 Sultan Ali Mughayatsyah mendeklarasikan persatuan berbagai wilayah di Aceh di Banda Aceh Darussalam sekaligus menetapkan Alam Peudeung Mirah sebagai bendera kerajaan.

“Pada 23 Juli 1507, Sultan Ali Mughayatsyah mendeklarasikan persatuan berbagai wilayah kerajaan seperti Samudera Pasai, Perlak, Pedir, Daya dan seluruh wilayah Aceh di bawah Alam Peudeung Mirah. Karena itu, tanggal tersebut sangat layak diperingati sebagai Hari Lahir Alam Peudeung sebagai simbol pemersatu Aceh,” ujar Tuanku Warul kepada media dialeksis.com, Jumat (12/6/2026).

Ia menjelaskan, Alam Peudeung bukan sekadar bendera kerajaan, melainkan lambang persatuan yang menyatukan berbagai kerajaan dan wilayah di Aceh dalam satu visi bersama. Semangat itulah yang menurutnya perlu terus diwariskan kepada generasi masa kini.

“Ini harus menjadi renungan bagi kita semua dalam membangun Aceh ke depan. Sultan Aceh telah meletakkan visi pembangunan melalui 21 Wasiat Sultan Aceh yang diwariskan hingga hari ini. Semangat itu harus terus dijaga dan diterjemahkan sesuai tantangan zaman,” katanya.

Tuanku Warul juga mengajak generasi muda Aceh untuk menghidupkan kembali semangat “Turi Droe Tusoe Droe” yang menjadi ruh dari Alam Peudeung. Nilai tersebut mengandung pesan tentang kemandirian, persatuan, dan tanggung jawab bersama dalam membangun masa depan Aceh.

“Spirit Alam Peudeung harus menjadi spirit kemajuan berkelanjutan bagi masa depan Aceh. Generasi muda harus mampu mengambil nilai-nilai itu untuk menghadapi berbagai tantangan zaman,” ujarnya.

Menurutnya, kejayaan Kesultanan Aceh pada masa lalu tidak hanya terlihat dari kekuatan politik dan militernya, tetapi juga dari pengaruh intelektual yang diakui di berbagai negeri Islam.

“Manuskrip-manuskrip Kesultanan Aceh pernah menjadi rujukan di berbagai negeri Islam, mulai dari Brunei, Malaysia hingga Thailand. Bahkan banyak manuskrip berharga yang kemudian dibawa keluar dari Aceh. Ini menunjukkan betapa besarnya pengaruh peradaban Aceh pada masa lalu,” jelasnya.

Karena itu, ia menilai nilai pemersatu yang terkandung dalam Alam Peudeung sangat relevan untuk diaktualisasikan pada masa kini, khususnya di kalangan mahasiswa dan generasi muda yang akan menjadi pemimpin Aceh di masa depan.

Tuanku Warul menegaskan bahwa generasi Aceh masa kini harus mampu membuktikan diri melalui prestasi dan karya nyata dengan menjadikan semangat Alam Peudeung sebagai landasan persatuan.

“Generasi Aceh ke depan harus mampu membuktikan diri dengan prestasi. Spirit Alam Peudeung adalah semangat pemersatu yang harus dimanifestasikan dalam berbagai bidang kehidupan. Jika semangat persatuan itu hidup kembali, maka Aceh akan memiliki modal besar untuk bergerak menuju kemajuan,” pungkasnya. [nh]

Keyword:


Editor :
Indri

riset-JSI