Beranda / Sosok Kita / Arabiyani, Aktivis Aceh Kini Telah Tiada

Arabiyani, Aktivis Aceh Kini Telah Tiada

Sabtu, 04 Februari 2023 20:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Bahtiar Gayo
Arabiyani. [Foto: Fadli Abdullah]

DIALEKSISCOM | Soki - Aceh kembali diselimuti duka, kali ini sosok seorang aktivis perempuan yang meninggalkan alam fana. Pejuang perempuan yang tangguh, sudah mengukir catatan sejarah di Bumi Serambi Mekkah.

Namanya Arabiyani, istri dari Kautsar, salah seorang politikus Aceh yang tergabung dalam bintang mercy. Kepergian akvitis yang kerap disapa Iyak ini, bukan hanya para aktivis yang merasa kehilangan sosok perempuan tangguh dari Aceh.

Dunia maya juga dihiasi dengan berita duka. Media sosial meramaikannya. Arabiyani Abu Bakar menghembuskan napas terakhir menghadap Sang Khalik di Rumah Sakit Dharmais Jakarta, Sabtu (4/2/2023) dini hari tadi tepatnya pukul 1.20 WIB.

Almarhumah dipulangkan dari Jakarta dan dishalatkan di Masjid Al Mukarramah Jalan Sisingamangaraja 181 Banda Aceh. Almarhumah sudah berjuang melawan sakit yang dideritanya. Namun Tuhan sayang padanya dan mengambilnya kembali.

Kepergian perempuan tangguh ini mengejutkan banyak pihak, terutama para akvitis. Dari berbagai sumber yang berhasil Dialeksis.com kumpulkan, banyak testimoni yang bermunculan tentang sosok Iyak.

Arabiyani adalah aktivis perempuan yang pernah terlibat dalam gerakan perlawanan memperjuangkan hak-hak perempuan Aceh saat masih bergolak konflik GAM-RI maupun pasca tsunami 2004.

Dia dikenal vocal, punya prinsip, khususnya dalam memperjuangkan hak-hak perempuan Aceh dan kesetaraan gender. Dia ikut terlibat berbagai gerakan perjuangan perempuan, baik pada masa konflik bersenjata RI-GAM maupun pasca tsunami.

Saat konflik Aceh, Arabiyani merupakan salah satu akvitis yang ikut bergabung bersama SMUR.

Bahkan Iyak pernah terlibat langsung dalam aksi mogok makan bersama aktivis SMUR (Solidaritas Mahasiswa untuk Rakyat) pada Mei 1998.

Saat itu, aktivis SMUR yang dikomandoi Aguswandi mengancam mogok makan sampai mati. Mereka menuntut tidak dilaksanakanya Pemilu di Aceh dan menghentikan praktik militerisme yang kerap merenggut korban jiwa di kalangan rakyat sipil.

Kemudian wanita yang ikut melaksanakan aksi mogok makan ini mengabdikan dirinya pada sebuah organisasi yang terus bergerak membela hak-hak perempuan. Organisasi ini dinamai, Mitra Sejati Perempuan Indonesia (MiSPI).

Bersama aktivis perempuan Syarifah Rahmatillah, almarhumah turut membidani lahirnya Lembaga Swadaya Masyarakat yang memperjuangkan hak-hak perempuan ini.

Kemudian dia mendirikan kantor hukum advokat dan pengacara di bawah bendera Arabiyani & Partners Law Firm di Jl T Nyak Arief Nomor 368 Banda Aceh. Lembaga hukum ini didirikanya karena panggilan jiwa dalam membela mereka yang terzalimi.

Kepergiannya membuat para aktivitis Aceh kehilangan sosok perempuan tangguh. Dimata para sahabat, dia dikenal sebagai wanita periang yang pintar, berani, supel dan rendah hati.

Lihatlah bagaimana para akvitis dan mereka yang sudah mengenal sosok Iyak memberikan testimoninya di dunia maya.

Aktivis perempuan Aceh Syarifah Rahmatillah Al-Syarief, baginya Iyak adalah bagian dari kenangan hidupnya yang tak pernah pudar di lintas masa. Dia sudah menjadikan Iyak sebagai adik dan rekannya dalam perjuangan.

Ia merasa tersentak begitu menerima kabar Iyak telah pergi selamanya. "Innalillahi wainnailaihi rajiun.. Kau pergi iyak adikku.. Arabiyani Arabiyani ABUBAKAR... Aku selalu merindukan mu.. Thn 1998..

"Kita bersama mendirikan MiSPI.. Perempuan tangguh yg jarang sedih.. Allah lebih mencintai adikku.. Sampai jumpa di Surga Allah.." tulis di laman facebooknya.

Bukan hanya Syarifah yang merasa kehilangan, Barlian AW, budayawan dan mantan wartawan senior Serambi Indonesia juga mengungkapkannya di laman facebooknya. Menurut Barlian AW, Iyak adalah sosok perempuan yang baik.

"Semasa hidupnya almarhumah adalah orang baik di tengah keluarga dan masyarakat luas. Semoga Allah memberi tempat yang layak kepada almarhumah. Keluarga yang ditinggalkan semoga tabah menghadapi musibah ini,” tulis Barlian.

Demikian dengan Raihal Fajri, Direktur Eksekutif Katahati Institute, baginya Iyak sosok yang menjadi sahabat sekaligus teman seperjuangan suka dan duka.

Ada banyak kenangan yang mereka ukir yang bergabung dalam berbagai gerakan advokasi rakyat Aceh maupun di kancah panggung politik. Iyak pernah mencalonkan diri sebagai calon anggota DPRA dari Partai Aceh pada Pemilu Legislatif 2019. Namun cita-citanya belum terwujud.

"Innalillahi wa inna ilaihi raji'un, Arabiyani Arabiyani atau yang kita kenal dengan Kak Iyak telah berpulang hari ini, ada banyak cerita dengan sosok ini, pelanggaran HAM, pencalonan dan parpol, kandidat saat DPIA, keramik, buku-buku hingga food combining untuk hidup sehat. Semoga Almarhumah husnul khatimah, keluarga yang ditinggalkan tabah," tulis Raihal di laman Facebooknya.

Perasaan duka juga disampaikan aktivis perempuan dari lembah Merapi Bener Meriah, Sri Wahyuni. Di laman Facebook miliknya, aktivits perempuan ini menuliskan” Selamat jalan kawan seperjuangan Arabiyani tugas mu sudah selesai, sebagai perempuan Aceh ko Tangguh! Allahummaqfirlaha."

Bukan sampai di situ, Sri Wahyuni kemudian mengunggah status lainnya tentang kedekatannya dengan almarhumah yang sering menasehatinya. Demikian dengan Doktor Edy Putra Kelana juga menulis statusnya di laman Facebook.

Dalam Bahasa Gayo, ia menuliskan rasa hatinya, yang artinya kira-kira begini. Selamat jalan sahabatku Arabiyani dari Bintang. Perjuanganmu seperti mengalir darah Datu Beru (Pejuang wanita dari Gayo).

Pada saat konflik kamu adalah salah satu kaum Hawa yang gigih berjuang. Kegigihanmu sampai sekarang tidak berhenti membela kaum yang tertindas. Semoga diberikan Allah tempat yang terindah untukmu.

Istri dari Kautsar, politikus Aceh ini menghembus nafas terakhirnya dalam pangkuan suaminya. Kautsar yang kehilangan teman hidupnya, menitipkan pesan dalam sebuah kalimatnya.

"Mohon dimaafkan segala kesalahannya. Segala sesuatu terkait hutang piutang dapat membangun komunikasi dengan saya. Semoga beliau diterima disisi Allah SWT," tulisnya.

Aceh kehilangan aktivis perempuan yang dikenal berani, jujur, pintar dan senantiasa berjuang untuk yang tertindas, khususnya kaum hawa. Kini dia telah menyelesaikan tugasnya di muka bumi ini. Semoga Aceh yang ditinggalkannya, akan muncul Arabiyani yang lainnya, yang punya prinsip serupa dengannya.

Selamat beristirahat dengan damai wahai aktivis perempuan. Kamu sudah mengukir sejarah di negeri ini, semoga Allah membalasnya dengan menempatkan dirimu di surga. [BG]

Keyword:


Editor :
Indri

riset-JSI
Komentar Anda