Logo Dialeksis
Beranda / Sosok Kita / Harapan Baru di Kepemimpinan Idham Azis

Harapan Baru di Kepemimpinan Idham Azis

Jum`at, 01 November 2019 15:08 WIB

Font: Ukuran: - +

 Kapolri Jenderal Pol  Idham Azis (Foto/cnn)

DIALEKSIS.COM - Setiap masa ada orangnya dan setiap orang ada masanya. Kini giliran Idham Azis yang memimpin polisi di bumi Pertiwi. Orang kepercayaan Tito Karnavian ini menggantikan posisi komandannya yang dipercayakan sebagai Mendagri. 

Mantan Kabareskrim Polri ini bukan hanya pangkatnya dinaikan menjadi jenderal, namun di dadanya disematkan lencana sebagai pemimpin tertinggi di jajaran kepolisian. Presiden Jokowi mempercayainya. 

Jenderal Polisi. Drs. Idham Azis, M.Si resmi dilantik menjadi Kapolri, Jumat (1/11/2019) pagi menjelang siang. Lelaki kelahiran, Salo, Kendari, Sulawesi Utara, 30 Januari 1963, masih menyisakan waktu 13 bulan lagi masa pengabdianya menjelang pensiun.

Dialeksis.com mengumpulkan data dari berbagai sumber, siapa Kapolri yang baru dilantik itu. Idham merupakan orang kepercayaan Jenderal Tito Karnavian. Mendagri semasa bertugas di kepolisian sering di dampingi Idham dalam melaksanakan tugasnya. 

Idham merupakan anak kedua dari lima bersaudara, buah hati pasangan Abdul Azis dengan Tuti Pertiwi Azis. Idham merupakan lulusan Akpol tahun 1988 dan berpengalaman dalam bidang reserse. 

Dalam catatan karirnya, Idham termasuk polisi “berbintang terang”, kenaikan pangkatnya termasuk cepat. Tugas yang diembanya sukses. Sebelum dipercayakan menjadi Kapolri dan mendapat kenaikan pangkat menjadi Jenderal, dia menjabat sebagai Bareskrim Polri. 

Bersama Tito Karnavian, Petrus Reinhard Golose, Rycko Amelza Dahniel dan sejumlah personil polisi lainya, Idham mendapat penghargaan dari Kapolri ketika dijabat jenderal Sutanto, atas keberhasilan melumpuhkan kelompok teroris Dr.Azhari cs. Aksi mereka tercatat dalam lembaran sejarah, 9 November 2005 di Batu, Jawa Timur.

Sehari setelah melumpuhkan kelompok Azhari cs, Idham diperintahkan untuk berangkat ke Poso, bergabung dengan Tito Karnavian yang sudah terlebih dahulu berada di Poso. Tito meminta Idham menjadi wakilnya dalam menangani kasus mutilasi seorang gadis di Poso.

Sejak 12 November 2005, Idham Azis resmi mendampingi Tito Karnavian, jabatanya Idham sebagai wakil ketua Satgas Bareskrim Poso. Multi talenta yang dimiliki Idham dalam bidang anti terorisme, dia dipercayakan untuk ke Sulawesi Tengah yang saat itu rawan dengan kelompok sipil bersenjata.

Idham Azis kecil menyelesaikan Sekolah Dasar di SD 8 Kendari, demikian dengan SMP dan SMA semuanya diselesaikan di Kendari. Idham Azis diterima masuk sebagai anggota kepolisian dan lulus Akademi Kepolisian pada tahun 1988. 

Mulai Idham mengukir karir di Kepolisian dengan pangkat awal Inspektur dua (dulu Ietnan dua). Awal tugasnya dipercayakan di Pamapta, bagian Reserse Polres Bandung. Satu tahun kemudian dia dipercayakan menjabat Kepala Urusan Bina Operasi Lalu Lintas Kepolisian Resor Bandung.  

Karirnya mulai naik, menjabat sebagai Kepala Kepolisian Majalaya Resor Bandung Kepolisian Wilayah Priangan. Disusul kemudian sebagai Kapolsek Dayeuhkolot Resor Bandung . Pada tahun 1995 ketika pangkat dipundaknya sudah Ajun Komisaris (Kapten) dia mengikuti pendidikan Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK). 

Saat pangkatnya Mayor (Kompol), Idham  tergabung dalam satuan unit VC Satuan Reserse UM Direktorat, sebagai wakil Kepala Satuan Serse di Polda Metro Jaya.

Tahun 2001, Idham menyelesaikan pendidikan meraih gelar master di bidang Kajian Ilmu Kepolisian (KIK) Universitas Airlangga. Idham menunjukan prestasi yang bagus, tidak puas dengan gelar yang sudah digenggamnya, namun dia kembali melanjutkan pendidikan kepolisiannya di Sekolah Staf dan Pemimpin (Sespim) Polri pada tahun 2002.

Idham mendapat pangkat perwira menengah di kepolisian (AKBP),dia menjabat sebagai Kasat I Direktorat Reserse Kriminal Khusus, tidak lama kemudian kembali dia dipercayakan sebagai Kasat III Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro jaya.

Karirnya terus menanjak, pada tahun 2004 dia dipercayakan sebagai Wakapolres Metro Jakarta Barat. Kemudian Idham diterbangkan ke pulau kelahiran dan tempat dia dibesarkan, namun bukan di Sulawesi Utara, namun ke Sulawesi Tengah sebagai Inspektur Bidang Operasi Inspektorat Polda Sulawesi Tengah.

Setahun kemudian dia menjabat sebagai Kanit Pemeriksaan Sub Detasemen Investigasi Densus/Anti-Teror. Kemampuanya mengundang rasa kagum Kapolri yang saat itu dijabat jenderal Sutanto.

Kapolri memberikan penghargaan kepada Idham bersama Tito Karnavian, Petrus Reinhard Golose, Rycko Amelza Dahniel, atas keberhasilanya melumpuhkan teroris. Setahun kemudian, dia bertugas di Bareskrim Polri sebagai Kanit IV Direktorat I/Keamanan & Transnasional. 

Tahun 2008, Idham Azis diangkat sebagai Kepala Sub Detasemen Investigasi Densus 88/Anti-Teror Badan Reserse Kriminal Polri. Beberapa bulan kemudian dia dipercayakan sebagai Kapolres Metro Jakarta Barat. Kemudian menjabat Direktur Reserse Kriminal Umum di Polda Metro Jaya pada tahun 2009. 

Pada tahun 2010 Idham Azis dipercayakan sebagai Wakil Kepala Densus 88/Anti-Teror Polri. Kemudian tahun 2013, dia menjabat sebagai direktur Tindak Pidana Korupsi Badan Reserse Kriminal Polri . Pangkatnya juga sudah naik menjadi Brigadir Jenderal. 

Tuhan sudah menggariskan perjalan Idham Azis untuk menjabat sebagai Kapolri, namun sebelum sampai ke tampuk pimpinan polisi ini, Idham juga sudah merasakan menjadi Kapolda Sulawesi Tengah (2014). 

Setahun kemudian dia ditarik sebagai Inspektur Wilayah II Inspektorat Wilayah Umum Polri.

Ketika jenderal Tito Karnavian menjadi Kapolri, Tito mempercayakan Idham pada tahun 2016 sebagai sebagai Kepala Divisi Profesi & Pengamanan Polri, pangkatnya juga naik menjadi Inspektur Jenderal Polisi. 

Kemudian jenderal Tito mempercayakanya sebagai Kapolda Metro Jaya. Dua tahun sebagai Kapolda Metro Jaya, Idham dipercayakan sebagai Kepala Badan Reserse Kriminal Polri. Pangkatnya naik menjadi Komisaris Jenderal Polisi bintang tiga. 

Di tahun yang sama saat dia menjabat sebagai kepala Bareskrim Polri, Presiden Joko Widodo mempercayakanya sebagai Kapolri mengantikan jenderal Tito Karnavian, pangkat dipundak Idham juga dinaikan menjadi jenderal polisi. 

Tuhan sudah menggariskan perjalanan hidup seorang hamba. Lika liku perjalan hidup harus dilalui seseorang. Walau menjelang pensiun, masih ada masa pengabdian selama 13 bulan, Idham sudah mendapatkan kehormatan sebagai orang nomor satu di kepolisian. 

Harapan rakyat di bumi pertiwi ini disematkan di pundak Putra asal Sulawesi Utara ini. Semoga di masa kepemimpinya, polisi semakin profesional, pengayom masyarakat ini semakin baik dan dicintai rakyat. 

Dunia  senantiasa berputar, demikian dengan dinamika hidup manusia. Setiap manusia ada masanya dan setiap masa ada manusianya. Kini giliran Idham Azis yang memimpin polisi Indonesia.   (Bahtiar Gayo) 


Editor :
Redaksi

riset-JSI
Komentar Anda