Logo Dialeksis - Masker
Beranda / Sosok Kita / Luthfia Gadis Cilik Dari Simeulue Mewakili Aceh ke MTQ Nasional

Luthfia Gadis Cilik Dari Simeulue Mewakili Aceh ke MTQ Nasional

Senin, 23 November 2020 08:00 WIB

Font: Ukuran: - +


Negeri yang dikelilingi pulau-pulau kecil di Aceh, kini namanya menjadi buah bibir. Dari negeri yang dikenal dengan hasil lautnya, muncul mutiara yang mengharumkan nama Serambi Mekkah. Simuelue punya manusia pilihan dalam melantunkan ayat suci Alqur,an.

Gadis sulung yang baru duduk di bangku kelas 2 SMP (Dayah Madrasatul Quran, di kawasan Baet, Aceh Besar) menjadi salah seorang duta Aceh untuk mengikuti MTQ Nasional. Remaja ini berasal dari Simuelu dan merupakan sejarah pertama bagi negeri kepulauan ini mengirimkan dutanya ke MTQ nasional.

Luthfia Wahyu Marnisa,13, namanya menjadi buah bibir. Dia merupakan salah satu wakil Aceh Musabaqah Tilawatil Quran Nasional (MTQN) Ke-28 di Padang, Sumatera Barat (Sumbar).

Dari 60 duta Aceh di ajang MTQ ini, untuk golongan tilawah kanak-kanak putra, ada Shahibul Kiram asal Aceh Jaya, dan untuk anak-anak putri, tercatat nama Luthfia Wahyu Marnisa asal Simeulue.

Luthfia Wahyu Marnisa termasuk sosok istimewa bagi Aceh, karena dia merupakan manusia pertama dari Simeulue yang ikut MTQ ke tingat nasional.

Siapa Luthfia Wahyu Marnisa? Dialeksis.com menghubungi Mardian, kepala desa (keuchik) Desa Air Dingin, Kecamatan Simeulue Timur, Kabupaten Simeulue. Ayah kandung Luthfia.

“Alhamdulilah, berkat doa semua pihak, anak saya Luthfia sudah mengharumkan nama Simeulue, sudah mengharumkan nama Aceh, Terima kasih atas dukungan, bantuan semua pihak yang selama ini sudah menempa dan mendoakan anak saya,” sebut Mardian yang dihubungi Dialeksis.com via selular.

Luthfia gadis 13 tahun merupakan anak sulung dari 4 bersaudara. Dia merupakan satu-satunya anak perempuan pasangan Mardian dengan Yurnawati. Gadis yang dianugerahi Allah suara merdu ini, sejak kecil sudah diajari Mardian mengaji. Ayahnya merupakan guru pertama Luthfia.

Luthfia Wahyu Marnisa lahir di Air Dingin, Kecamatan Simeulue Timur, 25 Maret 2007. Menurut ayahnya, anaknya ini punya hobi Tilawah, shalawatan, membaca,melukis, menari, fotografi, mengkoleksi buku, dan bernyanyi.

Sejak kecil potensinya sudah kelihatan. Beragam prestasi sudah diukirnya. Mulai dari juara tingkat desa, kecamatan, kabupaten, sudah diraihnya. Bahkan dia mendapatkan juara dua MTQ TK Provinsi di Kabupaten Pidie.

Mardian menambahkan, Luthfia juga pernah meriah juara 1 pentas PAI tingkat Sekolah di Kabupaten, juara 1 pentas PAI di Provinsi Aceh. Juara harapan pentas PAI TK nasional, juga meraih juara 1 lomba kegiatan Tilawah di Sekolah di dayah Madrasatul Quran, Aceh Besar.

Menurut Mardian, Luthfia yang awalnya dia tempa untuk mampu membaca Al Qur,an. Setelah cukup mahir, anaknya masuk TPA Darul Hasanah yg dipimpin ust. Salman. Kemudian dia dia dibina bersama ustadz Salman, ustadz Supriadi, ustadz Zul hamsyah.

Melihat potensi Luthfia yang terus berkembang, ahirnya anak Mardian ini dibiayai Dinas Syariat Islam untuk mengikuti pembinaan. Luthfia dibina ustadz Iqbal Hasan, ustadz Mardhatillah, ustadz Zamni Yunus, ustadz Hamli Yunus dan banyak lagi para guru-guru uang tidak asing lagi di tingkat Nasional bahkan tingkat internasional, sebut Mardian.

Menurut Mardian, kini Luthfia sedang dibimbing dan mengikuti pelatihan UPTD PPQ Dinas Syariat Islam Aceh. Tetapi, jelasnya Luthfia belum bisa maksimal mengikutinya, karena mengalami sakit Ambeyen Interma (menurut analisa dokter RSUZA)

“sampai saat ini anak saya Luthfia belum juga sembuh, masih dalam pengobatan. Otomatis ujian Tuhan berupa penyakit ini dapat mengganggu kegiatanya baik di sekolahnya maupun terhadap karir qari'ahnya,” sebut Keuchik Desa Air Dingin ini.

Luthfia bercita-cita ingin menjadi dokter atau polwan, jelas Mardian ketika ditanya apa keinginan si sulung ini. “Semoga cita-citanya dikabulkan Allah,” sebutnya.

Mardian bersyukur, anak sulungnya sudah membawa nama baik Kabupaten Simeulue, sudah membawa nama Aceh untuk MTQ ke tingkat nasional. Semoga dengan mewakili Aceh ke kancah nasional dapat menambah ilmunya dibidang tilawah dari para qariah.

“Semoga pembekalan qari-qariah yang sudah dilakukan selama ini cukup baik, kedepanya akan lebih baik lagi dan maksimal, agar Aceh yang mengirimkan dutanya ke tingkat nasional hasilnya mengharumkan nama Serambi Mekkah,” sebutnya.

Mardian mengaku terharu, ketika anaknya Luthfia punya keinginan untuk memberangkat orang tuanya umrah ke tanah suci. Semoga keinginan anaknya diberi Allah kelapangan.

Luthfia gadis yang beranjak remaja, baru duduk di bangku Tsanawiyah kelas dua, sudah mengharumkan Aceh, khususnya tanah kelahiranya, negeri dalam balutan pulau. Simueulue ternyata punya manusia pilihan untuk mengukir sejarah di level nasional. (Bahtiar Gayo)


Editor :
Redaksi

riset-JSI
Komentar Anda