Kamis, 22 Oktober 2026
Beranda / Sumatera Pulih / Dari Saluran Air Cot Trieng hingga 31 Sungai, Satgas PRR Perkuat Pemulihan Aceh

Dari Saluran Air Cot Trieng hingga 31 Sungai, Satgas PRR Perkuat Pemulihan Aceh

Rabu, 21 Oktober 2026 19:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Redaksi

Revitalisasi saluran air lingkungan Cot Trieng. Kecamatan Muara Satu, Kota Lhokseumawe, Provinsi Aceh yang sebelumnya tertutup lumpur akibat banjir dan tanah longsor sehingga menghambat aliran air. Pembangunan tersebut tidak hanya memperbaiki fungsi drainase, tetapi juga membuka kesempatan kerja bagi warga setempat. [Foto: Tim Media Satgas PRR]


DIALEKSIS.COM | Lhokseumawe - Bagi Rivalza, warga Gampong Cot Trieng, Kecamatan Muara Satu, Kota Lhokseumawe, pemulihan pascabencana bukan sekadar angka dalam laporan. Perubahan paling nyata terlihat ketika hujan turun dan air yang sebelumnya mengalir ke rumah kini mulai menemukan jalurnya melalui saluran yang diperbaiki.

Rumah warga di sekitar pinggir jalan sebelumnya kerap menjadi jalur limpasan ketika drainase tersumbat. Air membawa tanah dan kotoran hingga masuk ke permukiman, terutama saat hujan deras.

Kini, kondisi itu mulai berubah. Saluran yang diperbaiki membuat air lebih terarah dan warga tidak lagi menghadapi persoalan yang sama seperti sebelumnya.

“Alhamdulillah, dengan dibangunnya fasilitas yang sekarang ini, kami sangat mendukung. Kami sangat memberi atensi khusus kepada pemerintah yang telah peduli untuk membangun fasilitas saluran yang rusak tersebut. Manfaatnya sangat bagus. Rumah-rumah kami di sekitar pinggir jalan itu, airnya tidak lagi mengalir ke rumah. Airnya mengalir terus karena sudah ada saluran yang dibuat,” ucap Rivalza.

Perbaikan saluran Cot Trieng diperkirakan mencakup lebih dari 400 meter atau mendekati 500 meter. Saluran sebelumnya tertutup lumpur akibat banjir dan tanah longsor sehingga menghambat aliran air. Pembangunan tersebut tidak hanya memperbaiki fungsi drainase, tetapi juga membuka kesempatan kerja bagi warga setempat. Tenaga lokal dilibatkan dalam pekerjaan sehingga manfaat pembangunan ikut bergerak ke sisi ekonomi masyarakat.

Kolaborasi Menjadi Kunci

Kebutuhan menghubungkan pekerjaan dari tingkat gampong hingga pemerintah daerah sejalan dengan arah pemulihan pascabencana. Dalam Rencana Induk Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera 2026-2028, pemulihan drainase diarahkan bersama penataan infrastruktur dasar, normalisasi sungai dan perbaikan tanggul sebagai bagian dari pengendalian banjir terpadu.

Artinya, pembangunan sebuah saluran lingkungan tidak berdiri sendiri. Fungsi saluran di tingkat gampong perlu terhubung dengan jaringan yang lebih besar agar air dapat dialirkan secara berkelanjutan.

Gambaran lebih luas terlihat dari laporan Satgas PRR. Di Kota Langsa, sejumlah saluran lingkungan telah mencapai 100 persen pembersihan sedimentasi lumpur, termasuk saluran di Jalan Ahmad Yani, Lapangan Merdeka, Taman Bambu Runcing, Jalan Cut Nyak Dhien dan sejumlah lokasi lainnya.

Namun, pemulihan belum seluruhnya selesai. Laporan yang sama masih mencatat Krueng Ujung Pacu di Lhokseumawe mengalami sedimentasi, masuk kategori rusak berat, belum dinormalisasi dan belum dikerjakan PU. Di Aceh Utara, terdapat 17 lokasi dalam indikator normalisasi sungai yang dicatat dalam kategori rusak berat dengan persoalan sedimentasi dan belum mendapat penanganan.

Rivalza, warga Gampong Cot Trieng, Kecamatan Muara Satu, Kota Lhokseumawe, Provinsi Aceh yang merasakan manfaat dari revitalisasi saluran air di lingkungannya. [Foto: Tim Media Satgas PRR]

Dari Gampong ke Skala Aceh

Kebutuhan kolaborasi semakin terlihat ketika cakupan pemulihan diperluas ke tingkat provinsi.

Kepala Posko Wilayah Satgas PRR Aceh, Safrizal ZA, menyebut capaian pemulihan merupakan hasil kerja bersama pemerintah, TNI-Polri, kementerian/lembaga, pemerintah daerah dan masyarakat. Berdasarkan data harian Posko Wilayah per 16 Oktober 2026, untuk normalisasi sungai, dari 31 sungai sasaran, sebanyak 10 sungai telah selesai dan 21 sungai masih dalam proses. Sementara normalisasi muara mencakup 23 sasaran, dengan dua muara selesai dan 21 lainnya masih dalam penyelesaian.

Safrizal menegaskan Satgas PRR terus mengawal pekerjaan yang masih berjalan dengan memperkuat koordinasi lintas sektor dan memastikan intervensi pembangunan benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat.

Bagi warga seperti Rivalza, ukuran keberhasilan akhirnya sederhana: ketika hujan turun, air tidak lagi masuk rumah.

Dari saluran sepanjang ratusan meter di sebuah gampong, hingga puluhan sungai yang dinormalisasi di tingkat provinsi, pemulihan memperlihatkan bahwa pekerjaan pascabencana membutuhkan satu rantai yang saling terhubung -- pemerintah pusat menyediakan dukungan, pemerintah daerah mengoordinasikan penanganan, gampong memastikan kebutuhan lapangan terakomodasi, sementara masyarakat menjadi penerima sekaligus bagian dari proses pemulihan. [*]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI