DIALEKSIS.COM | Redelong - Pemulihan akses Wih Delung Semayun di Kabupaten Bener Meriah menjadi bagian dari agenda rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana Sumatra 2026-2028. Aliran sungai dan jembatan mengalami kerusakan parah, terputus, akibat banjir dan tanah longsor pada akhir 2025.
Pembangunan tidak hanya diarahkan untuk mengembalikan akses yang terdampak bencana, tetapi juga memperkuat infrastruktur agar lebih aman menghadapi risiko di masa mendatang.
Ketua Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatra (Kasatgas PRR) sekaligus Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian mengatakan sebagian besar jalan dan jembatan yang terdampak bencana di Sumatera kini telah kembali berfungsi setelah ditangani secara bersama oleh Kementerian Pekerjaan Umum, TNI, Polri dan pihak terkait lainnya.
“Jembatan, jalan, rata-rata semuanya sudah fungsional, kecuali beberapa jembatan daerah dan ini dikeroyok semua, baik oleh PU, TNI, Polri semua bergerak,” kata Tito saat membuka Rapat Koordinasi Percepatan Pelaksanaan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Alam di Sumatra, di Ruang Rapat Posko Nasional Satgas PRR, Kantor Pusat Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Jakarta, Senin (26/10/2026).
Pemulihan dengan Konsep Build Back Better
Arah rehabilitasi dan rekonstruksi tersebut sejalan dengan Rencana Induk Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (Renduk PRRP) Sumatra 2026-2028.
Ketua Pengarah Satgasnas PRR sekaligus Menko PMK, Sugiono, menegaskan pembangunan kembali harus memperhatikan aspek keamanan, keberlanjutan serta potensi risiko bencana di masa depan.
“Saya juga perlu menegaskan bahwa arah rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana harus jelas. Kita harus membangun kembali dengan lebih baik, lebih aman, dan lebih berkelanjutan. Prinsip inilah yang harus menjadi pegangan kita dalam melaksanakan rehabilitasi dan rekonstruksi,” kata Sugiono, Senin (26/10/2026).
Ia mengatakan proses pemulihan juga perlu mempertimbangkan perubahan iklim dan kemungkinan terjadinya bencana serupa.
“Pemulihan ini juga harus berorientasi jangka panjang dan mengantisipasi kemungkinan terjadinya bencana serupa,” ujarnya.
Prinsip tersebut dikenal sebagai Build Back Better, Safer and Sustainable, yaitu membangun kembali dengan memperkuat ketahanan infrastruktur, mengurangi risiko bencana, serta memastikan pembangunan dapat berkelanjutan.
Box Culvert dan Retaining Wall Perkuat Akses
Konsep tersebut diterapkan dalam pekerjaan pemulihan Wih Delung Semayun di Jalan Buntul Nangka, Kampung Paya Gajah, Kecamatan Bukit, Bener Meriah.
Pekerjaan mencakup pembangunan Box Culvert dan Retaining Wall. Box culvert merupakan struktur beton berbentuk kotak yang berfungsi sebagai saluran air atau gorong-gorong, sekaligus dapat digunakan sebagai lintasan pendek yang mampu menopang beban kendaraan di atasnya.
Sementara itu, retaining wall atau dinding penahan tanah berfungsi menahan tekanan lateral tanah pada area dengan perbedaan elevasi. Struktur ini membantu mengurangi risiko longsor, erosi dan pergeseran tanah pada kawasan lereng maupun tepi jalan.
Proyek tersebut bernilai Rp4,8 miliar (Rp4.840.995.000) dan dikerjakan CV Cipta Indah. Dari tujuh segmen dinding penahan tanah yang menjadi bagian pekerjaan, empat segmen telah selesai, sedangkan tiga segmen lainnya masih dalam proses pengerjaan.
Pembangunan ini diharapkan mampu mengembalikan akses yang terdampak banjir sekaligus meningkatkan ketahanan jalan terhadap potensi gangguan serupa.
Bener Meriah Masuk dalam Pemulihan Pascabencana Sumatra
Kebutuhan pemulihan di Bener Meriah tergolong besar. Berdasarkan data Rencanan Induk Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (Renduk PRRP) Sumatra 2026-2028, nilai kerusakan akibat bencana di daerah tersebut mencapai sekitar Rp4,54 triliun, sedangkan kerugian diperkirakan Rp1,19 triliun. Dengan demikian, total kerusakan dan kerugian mencapai sekitar Rp5,73 triliun. Sementara kebutuhan rehabilitasi dan rekonstruksi diperkirakan mencapai Rp5,93 triliun.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pemulihan infrastruktur konektivitas menjadi bagian penting dari proses pemulihan secara menyeluruh. Jalan dan jembatan diperlukan untuk menunjang aktivitas ekonomi, pendidikan, pelayanan publik serta mobilitas masyarakat.
Dengan progres empat dari tujuh segmen pekerjaan, pemulihan Wih Delung Semayun terus berjalan. Penyelesaian proyek diharapkan tidak sekadar mengembalikan akses, tetapi juga menghadirkan infrastruktur yang lebih kuat, aman dan siap menghadapi risiko bencana berikutnya. [*]