DIALEKSIS.COM | Kolom - Riuh rendah denting cangkir berpadu dengan aroma kopi yang baru disaring. Di sebuah warung kopi pinggiran Banda Aceh, suasana ba’da Subuh selalu punya ritme khas. Pelanggan setia yang mayoritas jamaah masjid melepas penat seusai ibadah. Ada yang menyeruput kopi pahit tanpa gula. Ada yang setia dengan kopi manis. Dan, tak sedikit memilih sanger -- perpaduan kopi dan susu kental manis yang pas.
DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Di Aceh, warung kopi bukan sekadar tempat duduk dan menyeruput. Ia adalah ruang sosial, ruang wacana, dan kadang--ruang advokasi.
Sebagai nakhoda, pasangan ini harus mampu mengendalikan kemudi. Pandai mengukur kekuatan angin, sehingga kapal tidak terhempas, karam di tengah lautan. Apalagi negeri dalam aroma kopi ini sedang sakit.

