Beranda / Tajuk / Bijak dan Berbudayakah Kita Merendam Bukti Sejarah?

Bijak dan Berbudayakah Kita Merendam Bukti Sejarah?

Sabtu, 26 Agustus 2023 08:00 WIB

Font: Ukuran: - +



Makam kuno di areal Sungai Keureuto. Foto: for Dialeksis.com


DIALEKSIS.COM | Tajuk - Apakah bijak dan berbudayakah kita bila ingin melalukan pembangunan harus merendam bukti sejarah? Pertanyaan ini ditujukan kepada para pihak yang saat ini berusaha mencari solusi, selain opsi menenggelamkan dan atau memindahkan jejak warisan budaya makam-makam kuno di areal Sungai Keureuto.

Terdengar “pilu” memang jika warisan budaya yang telah menghiasi roda zaman era Kesultanan Peureulak dan Kesultanan Samudera Pasai harus hilang oleh kebutuhan pembangunan waduk. 

Waduk atau Bendungan Keureuto memang penting. Proyek ini merupakan salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN) yang berfungsi menampung air dari sungai Krueng Keureuto. Tujuannya bendungan ini bisa multifungsi bermanfaat bagi masyarakat Aceh Utara secara khusus. 

Misalnya, menyediakan air irigasi yang mampu mengairi lahan seluas 9.420 hektar yang terdiri dari intensifikasi Daerah Irigasi (DI) Alue Ubay seluas 2.743 hektar dan ekstensifikasi dI Pasee Kanan seluas 6.677 hektar.

Menjadi tempat tampungan khusus banjir, sehingga mampu mengurangi debit banjir sampai dengan periode ulang 50 tahun di Kawasan Aceh Utara, dan juga sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) dengan kapasitas 6,34 MW. 

Intinya, proyek ini adalah salah satu proyek besar di pulau Sumatera yang dibangun pemerintah, banyak manfaat didapatkan masyarakat jika proyek ini berhasil guna. 

Tetapi, gemerlap mega proyek Bendungan Keureuto ternyata tidak luput dari cedera. Sebut saja penemuan makam-makam kuno di tepi Krueng Keuroto bagian pedalaman di Kabupaten Bener Meriah, yang ciri nisannya berasal dari 700 tahun lalu. Bahkan bisa lebih menurut perkiraan arkeolog, kini terancam dipindahkan karena diduga berada di areal limpahan air bendungan. 

Fakta lainnya dari laporan tim verifikasi yang sudah turun ke lokasi, terdiri dari unsur Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah I, unsur Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Aceh dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bener Meriah mengatakan ada beberapa titik sebaran makam-makam kuno

Salah satu titik kompleks, hampir seluruhnya dipindahkan makam kunonya (52 makam telah dipindahkan) tanpa melalui proses komunikasi dengan pemerintah.

Tentu saja, prilaku memindahkan diam-diam tersebut, mencemari mega proyek dan kita sangat menyayangkan. Padahal, jika pelaksana proyek melakukan komunikasi yang cepat dan tepat maka tentu saja pihak pemerintah akan memberikan solusi tanpa harus melukai.

Barangkali ada ketakutan dibalik penemuan makam-makam kuno ini. Bisa saja asumsinya akan menyebabkan gangguan pelaksanaan proyek nasional. Namun, di sisi lain, pelaksana proyek juga harus memahami bahwa ada regulasi pelindungan warisan budaya sesuai amanat sebagaimana isi Undang-undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. 

Karena itu solusi untuk mengatasi ketakutan pelaksana proyek, bahwa keberadaan makam-makam kuno akan menghambat pekerjaan adalah membuka diri berkomunikasi dengan pemerintah.

Pemerintah Aceh, Pemerintah Kabupaten Bener Meriah dan juga asistensi dari pihak Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah I akan welcome dan bahkan bisa berkolaborasi memberikan jalan keluar terbaik, dimana pekerjaan pembuatan waduk bisa jalan dan objek diduga cagar budaya sebaran makam-makam kuno juga bisa terlindungi.

Jadi intinya lagi, pihak proyek jangan berpikir aneh-aneh. Intinya buka diri berkomunikasi. Komunikasi adalah kunci. Tidak perlu buru-buru mengambil kesimpulan merendam atau memindahkan makam-makam kuno berusian 700an tahun dan bisa saja lebih kuno lagi.

Tidak ada persoalan yang tidak mampu diselesaikan, asalkan semua pihak membuka diri, membangun komunikasi, mencari solusi terbaik. Proyek strategis ini berjalan dengan baik, makam leluhur yang sudah bersemayam di sana cukup lama juga terselematkan.

Ibarat menarik rambut dalam tepung, rambutnya tertarik tepung juga tidak terserak. Tidak ada yang dirugikan.Kita bangsa berbudaya dan bermartabat. Semua persoalan akan mampu diselesaikan dengan tidak ada yang harus dikorbankan.

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI
Komentar Anda