Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Tajuk / Daycare, Kepercayaan yang Retak

Daycare, Kepercayaan yang Retak

Rabu, 29 April 2026 13:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Redaksi
Ilustrasi. Kekerasan anak terjadi di daycare. [Foto: Desain ChatGPT oleh dialeksis.com]

DIALEKSIS.COM | Tajuk - Di negeri ini, kebenaran sering kali butuh satu syarat untuk diakui: viral lebih dulu. Termasuk kekerasan terhadap anak. Tanpa rekaman video, mungkin ia hanya akan tetap menjadi bisik-bisik, dianggap “hal biasa”, atau lebih parah lagi -- ditutup rapat demi menjaga nama baik.

Kasus daycare di Banda Aceh kembali mengajarkan satu hal yang sebenarnya sudah terlalu sering kita pelajari: sistem kita bekerja paling cepat setelah semuanya terlambat.

Sebelum viral, semuanya tampak baik-baik saja. Setelah viral, barulah izin diperiksa, pengawasan diperketat, dan empati dipertontonkan. Seolah-olah keselamatan anak adalah fitur tambahan yang hanya diaktifkan ketika publik marah.

Tentu, kita bisa saja menyalahkan satu pengasuh. Itu mudah, cepat, dan memuaskan secara emosional. Tetapi seperti biasa, kambing hitam hanya berfungsi menutupi kandang yang sebenarnya bolong.

Masalahnya bukan satu orang. Masalahnya adalah sistem yang sejak awal memang longgar -- kalau tidak mau disebut abai.

Ulrich Beck pernah mengingatkan tentang risk society: masyarakat modern yang sibuk menciptakan solusi, tetapi diam-diam juga memproduksi risiko baru. Daycare merupakan salah satunya. Ia lahir dari kebutuhan nyata -- orang tua bekerja, keluarga besar menyempit, waktu menjadi barang mahal. Namun di negeri dengan regulasi yang seringkali hanya rapi di atas kertas, daycare tumbuh lebih cepat daripada pengawasannya.

Hasilnya bisa ditebak: tempat yang seharusnya aman berubah menjadi ruang penuh tanda tanya.

Kita menyebutnya “layanan pengasuhan”, padahal dalam banyak kasus, ia lebih mirip eksperimen sosial -- tanpa standar yang jelas, tanpa tenaga yang benar-benar siap, dan tanpa pengawasan yang memadai.

John Bowlby mungkin akan mengernyit jika melihat ini. Teori attachment-nya menegaskan bahwa rasa aman di awal kehidupan adalah fondasi bagi kesehatan mental seseorang. Namun di sini, fondasi itu justru diuji di tempat yang seharusnya menjaganya.

WHO sudah lama mengingatkan trauma masa kecil tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya berubah bentuk -- menjadi kecemasan, ketakutan, atau relasi yang rapuh di masa depan. Dengan kata lain, luka hari ini bisa menjadi masalah sosial esok hari.

Ironisnya, semua ini terjadi bukan di tempat yang berbahaya secara kasat mata, tetapi di ruang yang diberi label “aman” dan “terpercaya”.

Dari sisi kelembagaan, ceritanya bahkan lebih klasik. James Reason menyebutnya system failure -- kegagalan yang bukan disebabkan satu kesalahan besar, melainkan akumulasi dari banyak kelalaian kecil yang dibiarkan. Tanpa izin? Biasa. Tanpa SOP? Lumrah. Tanpa pengawasan rutin? Dimaklumi. Sampai akhirnya semua “yang biasa” itu bertemu dalam satu peristiwa luar biasa: kekerasan terhadap anak.

Lalu publik marah. Negara bergerak. Satgas diusulkan. Evaluasi dijanjikan.

Kita pernah melihat adegan ini sebelumnya. Berkali-kali.

Persoalannya bukan pada kurangnya reaksi, melainkan pada kebiasaan bereaksi. Negara terlalu sering hadir sebagai pemadam kebakaran, bukan sebagai arsitek bangunan yang tahan api.

Padahal yang dibutuhkan sebenarnya tidak rumit, hanya sering diabaikan: perizinan yang tidak sekadar formalitas, inspeksi yang benar-benar dilakukan (bukan sekadar dicatat), sertifikasi pengasuh yang serius, dan sistem pengaduan yang tidak membuat korban takut untuk bersuara.

Lebih mendasar lagi, kita perlu jujur pada satu hal: pengasuhan anak bukan pekerjaan sambilan. Ia bukan aktivitas yang bisa diserahkan pada siapa saja yang “kebetulan suka anak-anak”. Ia adalah profesi -- yang menuntut kompetensi, empati, dan tanggung jawab yang tidak bisa ditawar.

Banda Aceh hari ini hanyalah cermin. Besok, kota lain bisa menyusul.

Dan selama kita masih nyaman dengan pola “tunggu viral baru bertindak”, selama itu pula setiap daycare yang berdiri sesungguhnya adalah pertaruhan.

Sementara para orang tua -- tanpa pilihan yang benar-benar aman -- dipaksa menjadi penjudi yang mempertaruhkan sesuatu yang seharusnya tidak pernah masuk meja taruhan: masa depan anak mereka. [red]

Keyword:


Editor :
Indri

riset-JSI