Logo Dialeksis
Bank Aceh (pelantikan ketua DPRA)
Beranda / Tajuk / Pejabat dalam Pusaran Asmara

Pejabat dalam Pusaran Asmara

Selasa, 20 Agustus 2019 09:35 WIB

Font: Ukuran: - +

DIALEKSIS.COM - Wanita sebagai penghias dunia. Bagi pria sejati hidup ini kurang sempurna  bila tanpa wanita. Namun dibalik anggun mempesona, ada kalanya wanita menghasilkan petaka berbalut prahara. 

Lihatlah sejumlah pejabat yang bermasalah, karena terpesona keanggunan sang  wanita. Banyak tokoh publik yang keluarganya tidak lagi harmonis. Mereka “kehilangan” muka dan tahta menjadi taruhanya.

Banyak sudah catatan sejarah. Pejabat, tokoh publik yang terperangkap karena pesona wanita. Ada yang terungkap ke publik dan menjadi pembahasan, namun ada juga yang ditutupi, gemanya hanya sesaat dan kalangan tertentu yang mengetahuinya.

Lihatlah bagaimana hiruk-pikuknya sejumlah pejabat yang terjerat “bunga penghias dunia” ini. Bagaimana ramainya media membahas Bupati Garut, Aceng Fikri. Wakil Walikota Magelang Joko Prasetyo. Bupati Cirebon, Dedi Supardi. Walikota Palembang, Edy Santana Putra.

Di Aceh, jeratan wanita dalam bingkai asmara juga menerpa sejumlah pejabat. Bupati Simeulu misalnya, kasusnya sampai menjadi keputusan DPRK setempat.  Lembaga terhormat ini  mengusulkan pemakzulan Erly Hasim.

Usulan itu diajukan dewan ke Mahkamah Agung. Erly Hasim hanya menunggu keputusan. Tahta yang dibangunnya dalam pertarungan Pilkada, dipertaruhkan karena merangkai asmara.

Kasus teranyar, giliran Bupati Aceh Jaya yang ramai dibicarakan. Dia dilaporkan oleh seorang mahasiswi ke Reskrimsus Polda Aceh, karena dugaan pelecehan seksual. Pelapor didampingi Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA), pengaduanya masih dalam proses pihak Polda Aceh.

Kisah asmara yang cukup ramai dibicarakan publik, menimpa orang nomor satu di Aceh, kini gubernur  non aktif. Rangkaian perjalanan asmara Irwandi Yusuf dengan Steffy Burase bagaikan sebuah sinetron berseri. Publik senantiasa mengikutinya.

Demikian dengan sejumlah pejabat publik lainya, ada yang terjerat kisah asmara. Mulai dari kepala desa, pemuka masyarakat. Bercerita jalinan asmara, bagaikan mengurai benang kusut yang tak akan ada habisnya.

Apakah karena persoalan asmara, DPR Aceh menyiapkan rancangan qanun tentang poligami, sehingga pejabat dapat merangkai asmara, boleh memiliki istri lebih dari satu. 

DPR Aceh beragumen, poligami mencegah zina dan menghindari nikah siri. Nikah siri tidak melindungi perempuan dan anak dari hasil perkawinanya. Rancangan qanun itu sempat ramai menjadi topik pembahasan.

Kisah asmara memang menjadi catatan sejarah. Sejumlah pemimpin pernah terjerat asmara. Kisahnya ada yang berliku-liku, bahkan ada yang sampai berujung di penjara.

Sebagai pemimpin, sebagai pejabat publik, seharusnya mereka fokus dalam mengurusi rakyat. Bukan disibukan dengan dunia percintaan. Mereka harus mengurus hajat hidup orang banyak. Mengerahkan daya dan pikiranya demi rakyat.

Mereka disumpah untuk mengutamakan kepentingan rakyat daripada kepentingan pribadi dan golongan. Namun banyak kalangan pejabat yang terjerat persoalan pribadi, dalam merangkai kisah asmara.

Tuhan memberikan hati kepada manusia, sehingga ketika cinta itu bersemi, sulit manusia menolaknya. Namun sebagai pejabat publik, ada aturan yang harus ditaati dalam persoalan cinta. 

Sebagai pejabat mereka harus fokus mengurus rakyat, bukan dibuaikan dalam persoalan asmara.() 


Editor :
Redaksi

Diskominfo (pelantikan ketua DPRA)
humas exspo
Komentar Anda