Beranda / Berita / Aceh / Peluang dan Dinamika Dapil Aceh 2 DPR RI : Muslim dan Tagore Eksis, Nasir Djamil Kuda Hitam

Peluang dan Dinamika Dapil Aceh 2 DPR RI : Muslim dan Tagore Eksis, Nasir Djamil Kuda Hitam

Minggu, 10 Maret 2019 14:01 WIB

Font: Ukuran: - +

Ilustrasi

DIALEKSIS.COM | Pemilu 2019 tinggal menghitung hari. Sejumlah calon legislatif (calehg) kini kian rajin terjun ke lapangan dalam rangka meraih simpati publik. Beragam strategi dijalankan dalam rangka meraih kursi dewan, baik di tingkat lokal (DPRK/DPRA) maupun di tingkat pusat (DPD dan DPR RI).

Di Aceh, wilayah pemilihan  untuk tingkat DPR RI dibagi ke dalam dua daerah pemilihan (dapil). Yakni dapil Aceh I yang terdiri dari  Aceh Selatan, Aceh Tenggara, Aceh Barat, Kota Banda Aceh, dan Kota Subulussalam.

Kemudian dapil  Aceh II meliputi Aceh Timur, Aceh Tengah, Aceh Utara, Bireuen, Aceh Tamiang, Bener Meriah, Kota Lhokseumawe, dan Kota Langsa.

Untuk konteks Dapil II Aceh, terdapat  82 caleg yang memperebutkan 6 kursi DPR RI. Artinya, 1 kursi akan diperebutkan oleh 13 caleg.

Lantas siapa  kandidat maupun partai yang berpeluang lolos dari Dapil yang berjuluk Dapil Rock N Roll ini?


Dinamika Politik Dapil 2 : Kuat Tekanan Politik

Pengamat Politik dan Keamanan Aceh, Aryos Nivada, kepada media mengatakan dinamika politik Dapil 2 lebih ketat dari pada Dapil 1, bila dilihat dari tekanan maupun dinamikanya.

"Apabila kita perbandingan antara Dapil Aceh 1 dan Dapil Aceh 2, Dapil 1 lebih cair dan tidak terlalu kuat tekanan politiknya. Sebaliknya Dapil Aceh 2 lebih kental serta kuat tekanan politiknya.  Dapil Aceh 2 lebih  mengedepankan gaya gaya politik patron klien. Nuansa kedekatan emosional juga kuat sekali di Dapil 2." Ujar Aryos.

Peneliti Jaringan Survei ini kemudian memaparkan sejumlah temuan di lapangan dari hasil survei lembaganya. Dimana  Terdapat beberapa partai yang memiliki elektabilitas tinggi di Dapil Aceh 2.

"Pertama, Gerindra, Kedua, Demokrat, Ketiga, PDIP, Keempat, Golkar , Kelima, PKS dan Keenam Nasdem. PPP yang sebelumnya berhasil menempatkan kadernya di senayan pada Pemilu 2014 lalu di Dapil ini, Yaitu Anwar Idris, kali ini bergeser" kata alumnus Universitas Gadjah Mada ini.

Kemudian dari segi kandidat yang memiliki peluang elektablitas keterpilihan, menurut Aryos terdapat dua orang yang memiliki elektabilitas tinggi sehinga memiliki peluang besar untuk duduk di Kursi DPR RI pada Pemilu 2019. Yaitu Muslim dari Demokrat dan Tagore Abubakar dari PDIP.

"kenapa dua orang ini tetap eksis di Dapil 2, karena memiliki kuat dibasisnya. Muslim misalnya, itu basisnya masih kuat di Aceh Timur dan Langsa. Kemudian memiliki irisan sedikit di Aceh Utara dan Tamiang. Namun yang paling kecil di Bener Meriah. Dapat dikatakan perseberan suara Muslim hampir merata di Dapil Aceh 2. Terlebih  ketika kedatangan SBY ke Aceh. Ternyata sedikit banyak mampu mempengaruhi grade elektabilitas keterpilihannya pada Pemilu 2019" jelasnya.

Sedangkan kenapa Tagore Abubakar tetap eksis, menurut aryos lagi lagi karena dia akan jaga basis konstituennya di wilayah tengah.

"Apalagi adiknya Tagore Abubakar, yaitu Shabela Abubakar kini menjadi Bupati Aceh Tengah.  Tagore mengakar sekali di wilayah tengah. Sehingga dia akan bertahan di basis wilayah tengah.Namun sangat tergantung juga isu isu yang akan dimainkan dirinya di wilayah tersebut" jelas penulis buku Wajah Pilkada Aceh 2017 ini.

Dari hasil Pemilu 2014, Tagore memiliki lahan suara di Aceh timur dan Aceh Tamiang. Meski tidak banyak .  sekitar 1000 an. Di Aceh Timur sekitar 1.264 suara. Di Aceh Tamiang itu 904.

"ini berguna bagi tambahan perseberan suara Tagore" pungkas Aryos.


Nasir Djamil sang Kuda Hitam

Aryos menjelaskan lebih lanjut bahwa akan ada kejutan di Dapil 2 ini. Yaitu kehadiran sosok yang semula tidak diperhitungkan namun memiliki peluang dan basis modalitas politik yang kuat untuk menang, atau  di istilahkan dengan "kuda hitam".

Aryos menjelaskan bahwa dengan masuknya kandidat baru di Dapil Aceh 2,  yaitu Nasir Djamil melalui PKS, mampu menggerus suara kandidat petahana yang sebelumnya sudah diunggulkan di Dapil 2.

"suara dari Politisi Partai Demokrat, Muslim akan tergerus oleh Nasir Djamil terutama di basis utama suara Muslim yaitu wilayah Aceh Timur dan Langsa.   Dimana ternyata Nasir Djamil juga kuat di kedua wilayah itu secara basis" tukasnya.

Dari segi sosok, Nasir Djamil dinilai memiliki pamor dan rekam jejak yang telah lama diketahui publik. memiliki daya tawar yang tinggi serta modalitas politik yang telah dibangun sejak lama.

"Kalau dilihat dari isu isu yang dimainkan cukup banyak. Sosok dirinya dikenal publik sebagai sosok yang kuat memperjuangkan nasionalisme keacehan. Disisi lain juga tegak terhadap nasionalisme keindonesian. Sehingga dirinya memiliki diferensiasi atau keunikan yang lebih baik daripada kandidat lainnya" rinci aryos.

Dosen Fisip Unsyiah ini juga  menjelaskan lebih detil peluang nasir sebagai kuda hitam. Di wilayah wilayah seperti Bireun dan Aceh Utara. Nasir Djamil telah membangun relasi dengan kalangan akar rumput dari partai lokal, yaitu Partai Aceh  yang memiliki basis konstituen di kedua wilayah tersebut.

"Jadi Nasir juga memiliki sebaran suara di Bireun dan Aceh Uatra. sehingga peluangnya lolos termasuk besar untuk bisa masuk di Dapil 2 ini" ucapnya

Adapun alasan mengapa nasir Djamil migrasi dari Dapil 1 pada pemilu sebelumnya menjadi dapil 2 pada pemilu 2019 kali ini, Aryos menjelaskan bahwa ini merupakan strategi PKS.

" Kenapa Nasir Djamil bergeser dari Dapil 1 ke dapil 2, hal ini karena faktor strategi politik partainya, yaitu PKS agar mendapat dua kursi baik di Dapil 1 maupun Dapil 2.

Kalau di Dapil 1 ada Gufron dan Rafly. Jadi memperbesar peluang mendapatkan dua kursi nasir djamil migrasi ke Dapil 2." tukas aryos.



Yang terlempar di Dapil 2

Di dapil Aceh 2 terdapat sejumlah petahana yang terlempar dari Dapil ini. Mereka tidak lagi memilki peluang kuat ekses dari hilangnya daya tawar/bergaining politik.

"Contohnya adalah Firmandez.  Pada Pemilu 2014, di Bireun dia memiliki suara melimpah sekitar 16 ribuan. Hal ini karena pengaruh faktor Bupati sebelumnya yaitu Ruslan M Daud. Dia berkontribusi besar all out  memenangkan firmandez ketika itu." papar aryos.

Aryos menjelaskan dalam konteks hari ini Bupati Bireun adalah Shaifan Nur yang notabene tidak memiliki hubungan emosional yang kental  dengan firmandez sebagaimana halnya firmandez dan bupati bireun sebelumnya Ruslan.  

"Tentunya ini berdampak pada peluang dirinya untuk meraih suara di Bireun. Peluang Firmandez di Aceh Utara juga akan memudar. Hal ini ekses dari berkurangnya kontribusi firmandez terhadap partai lokal yang dulunya pernah mendukungnya ketika pencalonan  DPR RI Pada Pemilu 2014.  Menariknya Firmandez juga sedang diterpa banyak kasus yang membuat peluangnya semakin mengecil di Dapil 2" tutup Aryos. (PD)


Editor :
Pondek

riset-JSI
Komentar Anda