DIALEKSIS.COM | Kolom - Dalam ekosistem kekuasaan, seorang juru bicara (Jubir) sering dianggap hanya sebagai corong â” instrumen teknis penyulap narasi rumit menjadi konsumsi publik yang renyah. Tapi, sejarah membuktikan jabatan ini adalah high-wire act, tanpa jaring pengaman. Satu diksi yang melesat salah, maka seluruh singgasana bisa luluh lantak.
Konsep ini tampaknya menemukan urgensi barunya di Aceh hari ini, wilayah dengan sejarah panjang perlawanan simbolik dan sensitivitas tinggi terhadap keadilan sosial dan identitas.
Nassim Nicholas Taleb memperkenalkan âBlack Swanâ sebagai peristiwa tak terduga (outlier), berdampak masif, dan baru terasa logis setelah kejadian (retrospective predictability). Dalam politik, Black Swan sering muncul bukan karena invasi militer, melainkan dari "terpelesetnya" lidah seorang pejabat (baca Jubir).
Inilah fenomena lapsus linguae kesalahan lisan karena mengungkap sesuatu yang seharusnya disembunyikan.
Contoh klasik GĂźnter Schabowski pada November 1989 adalah personifikasi dari cluelessness fatal. Saat menggumamkan kata "Sofort" (Segera) di depan kamera live TV, dia mengundang Black Swan ke ruang tamu Jerman Timur. Tembok Berlin runtuh bukan karena ledakan bom, tapi akibat subjek dan predikat yang gagal bertemu konteksnya.
Jauh sebelum itu, sejarah mengenal Marie Antoinette dengan kutipan legendaris: "Quâils mangent de la brioche" ("Biarkan mereka makan kue"). Meski keasliannya diragukan, persepsi publik sudah telanjur membeku.
Hukum Vox Populi, Vox Dei (Suara rakyat adalah suara Tuhan) berlaku. Ketika lidah penguasa dianggap menghina penderitaan rakyat, narasi tersebut menjadi sedisi (hasutan perlawanan) paling efektif. Rakyat tidak butuh analisis ekonomi makro untuk marah. Mereka hanya butuh satu kalimat yang membuktikan pemimpin mereka "budek" secara sosial.
Bagaimana dinamika ini relevan dengan Aceh, hari ini? Aceh adalah wilayah pasca-konflik dan bekas bencana dahsyat dengan memori kolektif cukup kuat, ditambah identitas Syariat Islam yang menjadi fondasi sosial-politik. Jubir di Aceh baik pemerintah, ulama, maupun elit politik tentu saja memikul beban ganda.
Di nanggroe keuneubah endatu, isu kemiskinan dan ketimpangan ekonomi sangat sensitif. Sebuah pernyataan Jubir yang meremehkan kritikan sosial - misalnya, saat mempersoalkan rencana âkebiriâ program JKA dapat memicu reaksi cepat.
Narasi "Biarkan mereka makan kue" versi Aceh bisa muncul kala elit politik gagal menunjukkan empati dalam komunikasi mereka. Publik Aceh yang kritis tidak akan ragu untuk menyuarakan ketidakpuasan melalui Vox Populi.
Sebagai negeri yang menerapkan Syariat Islam, setiap narasi Jubir yang salah memvisualisasikan masukan bisa memicu perdebatan panas politik. Kesalahan satu kata bisa dianggap sebagai penghinaan terhadap nilai-nilai yang dijunjung tinggi masyarakat Aceh.
Di era keterbukaan informasi dan media sosial, upaya menciptakan pseudo-event kejayaan pemerintah di Aceh â” sementara realitas lapangan belum optimal â” omongan Jubir bisa menjadi bumerang. Rakyat Aceh semakin cerdas dan memiliki akses ke informasi tandingan, misalnya jejak digital. Kegagalan komunikasi karena memutarbalikkan fakta, akan menghancurkan kredibilitas penguasa dan mempercepat keruntuhan kepercayaan publik.
Mengapa satu kata bisa meruntuhkan "pilar raksasa"? Pakar komunikasi politik menekankan manajemen simbol. Jubir adalah penjaga gerbang simbolik. Saat sang penjaga gerbang tertidur atau salah ucap, terjadi chaos informasi.
Dalam kondisi krisis, rakyat Aceh mencari kepastian. Jika Jubir memberikan informasi yang salah namun terdengar pasti, massa â” terutama di era media sosial serba cepat â” dapat bergerak berdasarkan "kebenaran" tersebut. Di sinilah terjadi The Butterfly Effect. Kepakan lidah di ruang pers bisa memicu badai politik atau bahkan ketidakstabilan sosial di Serambi Mekkah.
Menjadi Jubir bukan sekadar pandai bikin rilis atau modal suara merdu dengan wajah camera-face. Ia harus memiliki ketajaman intuisi dan kehati-hatian paripurna. Bukan malah setiap kritik harus ditanggapi. Parahnya lagi, kalau sampai berimprovisasi sendiri. Sejarah mencatat bahwa rudal bisa meleset, bom bisa gagal meledak, tapi kata-kata yang terlanjur keluar tidak bisa ditarik kembali.
Bagi para penguasa di Aceh, berhati-hatilah dalam memilih mulut yang bicara atas nama kalian. Karena sering kali, kehancuran sebuah rezim tak dimulai dari serangan musuh dari luar, di Aceh musuh sudah tak ada lagi, melainkan akibat kesalahan kecil di balik pernyataan yang kemudian bermetamorfosis menjadi seekor Angsa Hitam yang mematikan.
Di Aceh, sensitivitas identitas, sejarah panjang perlawanan, dan tuntutan keadilan menjadikan peran Jubir sangat krusial. Satu kesalahan narasi bukan hanya meruntuhkan pilar kekuasaan, tetapi juga mengusik fondasi sosial yang telah dibangun dengan penuh perjuangan.
Satu Kata Bisa Meruntuhkan...
Penulis: Nurdin Hasan | Jurnalis Freelance