Rabu, 24 Juni 2026
Beranda / Berita / Nasional / Ikuti Penas XVII, Distanbun Aceh Belajar Model Industri Terintegrasi Trans Continent di Gorontalo

Ikuti Penas XVII, Distanbun Aceh Belajar Model Industri Terintegrasi Trans Continent di Gorontalo

Minggu, 21 Juni 2026 07:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Ismail Rasyid memandu rombongan Aceh yang terdiri dari Dinas Pertanian dan Perkebunan dan Dinas Peternakan meninjau proyek peternakan sapinya di Gorontalo. [Foto: dokumen untuk dialeksis.com]


DIALEKSIS.COM | Gorontalo - Keikutsertaan Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Aceh dalam Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XVII di Gorontalo tidak hanya dimanfaatkan untuk mengikuti rangkaian kegiatan utama. 

Di sela agenda nasional tersebut, Pelaksana tugas (Plt) Kepala Distanbun Aceh Dr Ir Azanuddin Kurnia, SP, MP, IPU, ASEAN Eng bersama rombongan mengunjungi kompleks industri Trans Continent di Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo pada Kamis (18/6/2026). 

Rombongan Aceh yang turut dihadiri oleh Mukhlis, Habiburrahman, serta sejumlah staf dari Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh dan Dinas Peternakan Aceh, diterima langsung oleh CEO Trans Continent Ismail Rasyid beserta jajaran manajemen perusahaan.

Dalam kunjungan tersebut, rombongan Aceh mendapat penjelasan mengenai rantai bisnis industri kelapa dan tanaman hijauan pakan ternak, mulai dari pengadaan bahan baku, proses produksi, hingga strategi pemasaran produk ke berbagai negara.

"Lahan perkebunan yang mencakup tanaman kelapa dan tanaman hijauan pakan ternak, juga digunakan untuk berbagai komoditas hortikultura, termasuk setelah panen tanaman timun dan beberapa tanaman muda lainnya. Total lahan yang dikelola mencapai sekitar 20 hektare dengan sistem pengembangan komoditas yang disesuaikan dengan potensi pasar dan tingkat keuntungan," jelas Ismail kepada rombongan.

Selain sektor pertanian, rombongan juga melihat langsung unit peternakan sapi dengan kapasitas sekitar 500 ekor. Fasilitas tersebut masih dalam tahap pengembangan, meskipun sebagian besar kandang telah selesai dibangun. Di area yang sama juga terdapat kolam perikanan serta sejumlah alat berat dan fasilitas pendukung usaha lainnya.

Azanuddin Kurnia mengaku terkesan dengan pengelolaan kawasan usaha terpadu tersebut. Ia menilai integrasi berbagai sektor seperti pertanian, peternakan, dan perikanan dalam satu kawasan menunjukkan manajemen usaha yang terstruktur dan produktif. Ia juga menyoroti keterlibatan tenaga kerja asal Aceh yang turut berkontribusi dalam operasional usaha tersebut.

"Daya juang sahabat kita ini sangat luar biasa dan pantang menyerah. Sebagai sahabat dan kawan sekampung dari Aceh, tentu kita bangga ada sahabat kita yang sukses di kampung orang," puji Azanuddin dalam keterangannya, Minggu (21/6/2026).

Menurutnya, pengalaman lapangan yang diperoleh dari kunjungan ini diharapkan dapat menjadi bahan pembelajaran untuk diterapkan di Aceh. Ia menilai potensi pengembangan sektor pertanian dan peternakan di Aceh masih terbuka luas jika dikelola secara terpadu dan berorientasi pasar.

Selain meninjau fasilitas produksi, rombongan juga berdiskusi mengenai peluang kerja sama, penguatan kelembagaan petani, serta strategi mendorong investasi di sektor perkebunan.

"Mari kita bangun kampung agar banyak terbuka lapangan kerja dan ekonomi masyarakat dapat naik dan terangkat kembali terutama pascabencana. Telurkan konsep dan kemampuan kepada para pihak di Aceh agar kita cepat bangkit kembali," ajak Azanuddin.

Menanggapi hal tersebut, Ismail Rasyid menyampaikan bahwa pengembangan usaha akan terus dilakukan di berbagai daerah yang memberikan dukungan dan kemudahan dalam operasional. Ia menegaskan pentingnya kepatuhan terhadap regulasi serta peran masyarakat lokal dalam mendukung keberlanjutan usaha.

“Terkait untuk membangun kembali Aceh, Insya Allah kita akan tetap membantu membangun Aceh sesuai dengan kemampuan kita," pungkasnya. [*]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI
dishes