Beranda / Berita / Aceh / Banyaknya Laka Laut, Pengelola Wisata Pantai Dihimbau Untuk Pasang Rambu Peringatan

Banyaknya Laka Laut, Pengelola Wisata Pantai Dihimbau Untuk Pasang Rambu Peringatan

Kamis, 18 Agustus 2022 09:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : fatur

Rambu peringatan bahaya di pantai. [Foto: Istimewa]

DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Banyaknya laka laut yang terjadi akhir-akhir ini terutama di sekitar objek wisata khususnya di Pantai Aceh membuat masyarakat khawatir. 

Walaupun begitu Basarnas Banda Aceh sudah menyampaikan himbauan kepada masyarakat sampai hari ini, dan juga Basarnas Banda Aceh juga meminta pengelola objek wisata khususnya pantai di Aceh untuk memasang rambu peringatan di area yang rawan dan beresiko terhadap pengunjung.

“Terkait dengan banyaknya musibah yang terjadi di kawasan-kawasan objek wisata khususnya wisata pantai yang ada di Aceh, dihimbau kepada seluruh masyarakat agar memperhatikan keselamatan diri dan keluarga saat beraktivitas di tempat-tempat beresiko khususnya pada wisata pantai,” ujar Kepala Basarnas Banda Aceh, Ibnu Harris Al Hussain berdasarkan keterangannya kepada Dialeksis.com, Kamis (18/8/2022). 

Dia juga mengharapkan agar pengelola wisata untuk membuat rambu-rambu peringatan di tempat-tempat yang dianggap rawan beresiko terhadap pengunjung.

“Rambu-rambu tersebut dipasang permanen agar para pengunjung dapat menjauh dari area berbahaya tersebut,” ujarnya lagi. 

Ia juga mengharapkan adanya sebuah regulasi dari pihak-pihak terkait tentang tempat wisata terutama dari sisi keselamatan. “Salah satunya dengan membentuk petugas pengamanan objek wisata, Basarnas sendiri siap melatih petugas tersebut,” tukasnya.

Sejauh ini, dirinya mengungkapkan bahwa Basarnas Banda Aceh telah menangani 27 musibah membahayakan jiwa manusia diantaranya; orang tenggelam, orang hilang di gunung/hutan, dan evakuasi korban diseluruh wilayah kerja Basarnas Banda Aceh. 

“Sementara untuk di Banda Aceh dan Aceh Besar saja terdapat 5 kasus orang tenggelam dan 1 kasus evakuasi medis,” sebutnya.

Ia mengungkapkan lagi bahwa hal tersebut terjadi selama periode Januari hingga Agustus 2022. “Bahkan juga ada beberapa kasus yang tidak masuk dalam laporan penanganan Basarnas Banda Aceh, ini dikarenakan korban telah selesai dievakuasi,” pungkasnya. [ftr]

Keyword:


Editor :
Alfatur

riset-JSI
Komentar Anda