Rabu, 22 Juli 2026
Beranda / Berita / Aceh / Dosen UTU Pelopori Inovasi Apon Kupi, Biaya Produksi Turun 53 Persen

Dosen UTU Pelopori Inovasi Apon Kupi, Biaya Produksi Turun 53 Persen

Rabu, 22 Juli 2026 09:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Dedy Darmansyah memelopori transformasi Apon Kupi di Meulaboh, Selasa (21/7/2026). Foto: doc pribadi/Dialeksis


DIALEKSIS.COM | Meulaboh - Dosen Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Teuku Umar (UTU), Dedy Darmansyah, S.P., M.Si., memelopori transformasi usaha kopi lokal Apon Kupi melalui penerapan model UMKM hijau dan teknologi pascapanen.

Program tersebut berhasil menekan biaya produksi hingga 53,3 persen sekaligus melahirkan varian baru kopi Liberika khas Aceh Barat.

Keberhasilan pendampingan itu ditandai dengan peluncuran logo, kemasan, serta sejumlah varian produk baru Apon Kupi di Meulaboh, Selasa (21/7/2026).

Dedy mengatakan, inovasi tersebut dilaksanakan melalui program bertajuk “Implementasi Model UMKM Hijau dan Teknologi Pascapanen untuk Peningkatan Nilai Tambah Produk Kopi Robusta di Kabupaten Aceh Barat”.

Program itu melibatkan Dinas Perdagangan, Perindustrian, Koperasi dan UKM Kabupaten Aceh Barat serta Akademi Komunitas Negeri (AKN) Aceh Barat.



Dalam proses pendampingan, Dedy dan tim menemukan adanya plasma nutfah kopi Liberika yang tumbuh di Aceh Barat, tetapi belum pernah dipasarkan sebagai produk tersendiri.

Sebelumnya, Apon Kupi hanya menjual varian Arabika dan Robusta. Sementara biji Liberika yang jumlahnya relatif sedikit masih tercampur dalam pengolahan kopi Robusta sehingga memengaruhi konsistensi cita rasa.

Melalui pendekatan ilmiah, bahan baku kopi kemudian dipisahkan secara konsisten berdasarkan jenisnya. Langkah tersebut melahirkan varian Kopi Liberika khas Aceh Barat sekaligus memperkuat karakter rasa kopi Robusta lokal agar lebih stabil.

Selain mengembangkan varian produk, tim juga menerapkan teknologi pascapanen untuk meningkatkan efisiensi usaha.

Fasilitas yang diberikan meliputi rumah pengering atau green house untuk penjemuran kopi ceri, mesin huller sebagai pengganti proses penumbukan manual, serta mesin sangrai berkapasitas tiga kilogram.

Penggunaan mesin sangrai mandiri memberikan dampak langsung terhadap biaya operasional Apon Kupi.

Sebelumnya, pelaku usaha harus membayar jasa penyangraian kepada pihak ketiga sebesar Rp300 ribu untuk setiap 40 kilogram kopi. Setelah memiliki mesin sendiri, biaya pengolahan untuk jumlah yang sama turun menjadi Rp140 ribu.

Dengan demikian, biaya produksi dapat dihemat hingga 53,3 persen. Penggunaan mesin sendiri juga membuat proses penyangraian dapat dilakukan sesuai kebutuhan sehingga kopi yang dipasarkan tetap dalam kondisi segar.

Disperindagkop UKM Aceh Barat mendukung program tersebut melalui perluasan akses pasar dan penguatan kelembagaan usaha. Sementara AKN Aceh Barat memberikan pendampingan teknis dalam pengoperasian peralatan.

Peluncuran produk Apon Kupi dengan logo dan kemasan baru itu dihadiri Dekan Fakultas Pertanian UTU, Kepala Disperindagkop UKM Aceh Barat, dosen pendamping dari UTU dan AKN Aceh Barat, serta sejumlah pelaku usaha kopi.



Dedy menegaskan, pengembangan UMKM kopi tidak cukup hanya berorientasi pada peningkatan jumlah produksi. Pelaku usaha juga perlu membangun identitas, menjaga kualitas, meningkatkan efisiensi, dan menghadirkan inovasi yang sesuai dengan kebutuhan pasar.

“Kehadiran kopi Liberika sebagai produk baru Apon Kupi menjadi bukti bahwa potensi kopi Aceh Barat sangat beragam dan layak diperkenalkan lebih luas kepada masyarakat,” kata Dedy.

Inovasi tersebut diharapkan mampu meningkatkan daya saing Apon Kupi di pasar regional dan nasional. Program ini juga diharapkan menjadi percontohan bagi pengembangan UMKM kopi berbasis nilai tambah di Aceh. []

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI