Rabu, 14 Oktober 2026
Beranda / Berita / Aceh / Duka Beruntun di UIN Ar-Raniry, Kepergian Tiga Akademisi Tinggalkan Pesan Kehidupan

Duka Beruntun di UIN Ar-Raniry, Kepergian Tiga Akademisi Tinggalkan Pesan Kehidupan

Selasa, 13 Oktober 2026 15:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Arn

Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh. [Foto: net]


DIALEKSIS.COM | Aceh - Keluarga besar Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh kembali diselimuti duka. Belum lama kehilangan salah seorang akademisi seniornya, kampus yang menjadi salah satu pusat pendidikan Islam di Aceh itu kembali harus melepas dua putra terbaiknya dalam waktu berdekatan.

Kepergian Dr. Budi Azhari, M.Pd., disusul kabar berpulangnya Israk Ahmadsyah, B.Ec., M.Ec., M.Sc., Ph.D., menambah kesedihan di lingkungan kampus yang pada Agustus lalu juga ditinggalkan mantan rektornya, Prof. Dr. H. Warul Walidin AK, M.A.

Budi Azhari, Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK), meninggal dunia pada Minggu (11/10/2026) sekitar pukul 21.00 WIB di RSUD dr. Zainoel Abidin, Banda Aceh.

Selang sehari, kabar duka kembali datang dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI). Berdasarkan informasi yang diterima redaksi, Israk Ahmadsyah, yang pernah menjabat Wakil Dekan II FEBI periode 2022–2026, berpulang pada Senin (12/10/2026).

Kepergian dua akademisi dalam waktu hampir bersamaan itu menyisakan kesedihan bagi keluarga, sahabat, kolega, dan mahasiswa yang pernah mendapatkan bimbingan keduanya.

Budi dikenang sebagai pribadi rendah hati, ramah, dan luwes dalam berteman. Dalam kenangan yang disampaikan kepada redaksi, ia mudah bergaul serta mengutamakan hubungan baik dengan orang-orang di sekitarnya.

Kesediaannya membantu juga tergambar dalam testimoni sejumlah sahabat yang dihimpun Dialeksis melalui Facebook. Almarhum dikenang suka memberi nasihat, membantu orang lain, serta membayari kopi dan makanan saat berkumpul bersama sahabat.

Ardhiyanto Ujung, misalnya, mengenang pertemuan bersama Budi di Aceh Tamiang ketika memberikan dukungan kepada anak-anak sekolah. Perhatian semacam itu menjadi kenangan yang melekat setelah almarhum berpulang.

Catatan in memoriam yang diterbitkan Dialeksis pada 13 Oktober 2026 turut merangkum kenangan sejumlah sahabat melalui berita berjudul Budi Azhari dalam Kenangan Sahabat, Sosok Baik Suka Membantu.

Di lingkungan kampus, Budi baru dilantik sebagai Wakil Dekan III FTK pada 11 September 2026. Pada periode sebelumnya, ia mengemban jabatan Wakil Dekan III Fakultas Sains dan Teknologi UIN Ar-Raniry.

Sementara itu, Israk dikenang sebagai sosok yang baik, lembut dalam berbicara, dan bijaksana dalam bersikap. Pengabdiannya di FEBI mencakup tanggung jawab kepemimpinan fakultas serta kegiatan pengajaran.

Laman resmi FEBI mencatat, Israk pernah memimpin kunjungan mahasiswa ke BSI pada 10 Juni 2025 sebagai bagian dari mata kuliah Perbankan Syariah Lanjutan. Kegiatan tersebut menghubungkan materi perkuliahan dengan praktik keuangan syariah.

Dua kabar duka pada Oktober ini mengingatkan kembali pada kepergian Warul Walidin. Akademisi senior FTK tersebut meninggal dunia pada Rabu (12/8/2026) di RSUD dr. Zainoel Abidin dalam usia 67 tahun.

Warul memiliki riwayat pengabdian di kampus sejak 1983 dan pernah memimpin UIN Ar-Raniry pada periode 2018–2022. Dalam keterangan yang dipublikasikan Warta Ar-Raniry pada 12 Agustus 2026, Rektor Prof. Dr. Mujiburrahman, M.Ag., menyampaikan rasa kehilangan atas kepergiannya.

“Beliau guru bangsa, rektor senior. UIN sangat merasa kehilangan,” kata Mujiburrahman.

Wakil Rektor III UIN Ar-Raniry, Reza Idria, M.A., Ph.D. dimintakan responnya Dialeksis, menyampaikan pesan reflektif tentang makna kehilangan, ketulusan pengabdian, dan tanggung jawab mereka yang masih diberi kesempatan menjalani kehidupan.

“Kepergian orang-orang baik selalu meninggalkan ruang sunyi di hati kita. Namun, di balik kesedihan itu, ada pesan yang sangat dalam bahwa hidup bukan semata-mata tentang berapa lama kita berada di dunia, melainkan seberapa banyak kebaikan yang kita tinggalkan untuk orang lain. Mereka telah menyelesaikan perjalanan hidupnya. Kini, giliran kita yang masih diberi umur untuk melanjutkan kebaikan yang pernah mereka tanamkan.”

Menurutnya, kehilangan sejatinya bukan hanya tentang perpisahan, tetapi juga kesempatan bagi setiap manusia untuk merenungkan kembali tujuan hidup dan makna pengabdian.

“Kita boleh bersedih, karena kesedihan adalah bagian dari cinta dan kemanusiaan. Tetapi jangan biarkan duka memadamkan semangat kita. Jadikan kepergian mereka sebagai pengingat untuk lebih tulus bekerja, lebih ikhlas berbagi ilmu, lebih ringan membantu sesama, dan lebih lembut memperlakukan orang-orang di sekitar kita. Sebab, pada akhirnya, jabatan akan berakhir, gelar akan ditinggalkan, tetapi ilmu yang bermanfaat dan kebaikan yang kita tebarkan akan terus hidup dalam ingatan dan doa orang lain.”

Pesan tersebut juga mengandung ajakan agar civitas akademika UIN Ar-Raniry tidak kehilangan semangat berkarya meskipun menghadapi duka yang datang silih berganti.

“Bagi kita yang masih hidup, setiap pagi adalah kesempatan baru yang belum tentu dimiliki orang lain. Maka, jangan sia-siakan waktu untuk menyimpan kebencian, memelihara permusuhan, atau menunda berbuat baik. Selagi masih ada kesempatan, bahagiakan keluarga, muliakan guru, bimbing mahasiswa dengan hati, dan jadikan ilmu sebagai jalan menghadirkan manfaat bagi masyarakat.”

Dalam pernyataan itu, Reza juga diharapkan dapat menyampaikan penguatan kepada keluarga para almarhum, para sahabat, dan mahasiswa yang tengah merasakan kehilangan.

“Kepada keluarga yang ditinggalkan, semoga Allah SWT menghadirkan ketabahan dan ketenangan hati. Tidak semua kehilangan dapat dijelaskan dengan kata-kata. Ada kesedihan yang hanya mampu kita titipkan kepada Allah melalui doa. Kita tidak pernah benar-benar siap berpisah dengan orang yang kita cintai, tetapi kita dapat menjaga cinta itu melalui doa, meneruskan cita-cita baik mereka, dan merawat kenangan dengan penuh keikhlasan.”

Kepergian Warul Walidin pada Agustus, kemudian Budi Azhari dan Israk Ahmadsyah dalam dua hari berurutan pada Oktober, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga besar UIN Ar-Raniry.

Ketiganya memiliki jejak pengabdian dalam pendidikan dan kepemimpinan di lingkungan kampus. Warul melalui perjalanan panjangnya sebagai akademisi dan rektor, Budi melalui perhatian kepada mahasiswa serta hubungan sosial yang hangat, dan Israk melalui pengabdian di bidang pendidikan ekonomi dan keuangan syariah.

Kehilangan itu sekaligus memperlihatkan bahwa pengabdian seorang pendidik tidak berhenti ketika kehidupan berakhir. Ilmu yang diajarkan, nasihat yang diberikan, serta keteladanan yang ditinggalkan dapat terus bertumbuh dalam kehidupan generasi berikutnya.

Bagi mahasiswa, melanjutkan belajar dengan tekun dan menggunakan ilmu untuk membantu sesama menjadi bentuk penghormatan kepada para guru yang telah berpulang. Bagi sesama dosen dan tenaga kependidikan, kehilangan ini menjadi pengingat untuk terus merawat persaudaraan dan membangun lingkungan kampus yang penuh empati.

Sebab, pada akhirnya, manusia tidak hanya dikenang karena jabatan yang pernah diemban atau gelar akademik yang disandangnya. Ia juga dikenang karena bagaimana kehadirannya membuat kehidupan orang lain menjadi lebih baik.

Tiga akademisi telah berpulang. Namun, nilai pengabdian, ketulusan, dan kebaikan yang mereka tinggalkan merupakan warisan yang patut dijaga.

Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah para almarhum, mengampuni segala khilaf mereka, melapangkan kuburnya, serta memberikan ketabahan dan kekuatan kepada keluarga yang ditinggalkan. Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. Sesungguhnya kita milik Allah dan kepada-Nya kita kembali. [arn]

Keyword:


Editor :
Indri

riset-JSI