Logo Dialeksis
Beranda / Berita / Aceh / Ini Isi Khutbah Idul Adha di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh

Ini Isi Khutbah Idul Adha di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh

Jum`at, 31 Juli 2020 12:00 WIB

Font: Ukuran: - +


Hari raya Idul Adha yang diperingati oleh semua muslim di seluruh belahan dunia setiap tahun, tidak terlepas dari kisah Nabi Ibrahim sebagaimana terekam dalam Alquran Surat al-Shaffat ayat 100 sampai 102. Dan jauh sebelumnya, praktik kurban ini telah diperlihatkan oleh putra Nabi Adam, yaitu Qabil dan Habil. 

Diceritakan bahwa kurban yang diterima adalah kurban Habil karena ketulusannya, bukan kurban dari Qabil karena ketidak ikhlasannya. Dalam surat al-Haj ayat 37 Allah berlirman:

Artinya : “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orangorang yang berbuat baik.”

Perintah Allah kepada Nabi Ibrahim untuk menyembelih anak kesayangannya, Ismail merupakan gambaran penting tentang ibadah kuran.

Sebagai mana diketahui bahwa Ibrahim AS tidak memiliki anak kecuali setelah beberapa tahun dia harus bersabar, kemudian setelah penantian yang panjang, Allah karunia seorang anak yang diidamkan. Dalam surat Al-Shaffat dijelaskan bahwa semula Nabi Ibrahim berdo’a;

Artinya : “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh. Lalu Allah menjawab “Kami beri dia khabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama lbrahim, lbrahim berkata:

"Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Bagaimana pendapatmu wahai anakku? Ismail menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”

 Kemudian ketika Ibrahim dan Ismail benar-benar pasrah kepada perintah Allah, Ibrahim pun membawa anaknya ke suatu tempat dan membaringkannya untuk disembelih. Tetapi dengan kehendak Allah, penyembelihan itu batal dilaksanakan. Allah berfirman:


Artinya : “Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) “Kesejahteraan dilimpahkan atas lbrahim”. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang . berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.”

Dari kisah tentang pengorbanan lbrahim di atas,. terdapat beberapa pesan penting yang dapat dipetik untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Totalitas ketaatan kepada Allah SWT. Ibrahim mampu menghilangkan segala keinginan dan kecintaannya demi untuk tunduk dan patuh kepada perintah Allah, ini sebuah ketaatan yang sangat luar.

Dia buang segala rasa dalam jiwanya untuk menuju dan mendekatkan diri kepada Allah dengan menaatiNya. Kita selaku orang beriman, sebenarnya juga telah berjanji dan berikrar bahwa hidup dan mati kita, kita serahkan kepada Allah. Dalam doa iftitah setiap kali salat, kita selalu membaca:

Artinya: “Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidup dan matiku karena Allah Tuhan semesta alam”.

Sebuah perjanjian yang selalu kita perdengarkan kepada Allah sebagai bukti ketaatan kita, tetapi dalam praktik keseharian, ikrar ini tampaknya sering diabaikan, dilupakan dan dinistakan. Betapa banyak dosa dan murka yang kita lakukan setiap hari, semakin hari semakin terkumpul beban-beban yang akan kita pikul di hari akhir nanti. Semoga dengan merenungkan ketaatan lbrahim, kita harus peka setiap saat, bahwa Allah selalu memantau kita, Dia tidak pernah lupa hadir mencatat amalan dan perilaku kita.

Editor :
Zulkarnaini

riset-JSI
Komentar Anda