Beranda / Berita / Aceh / IPB Teliti Keanekaragaman Hayati Gayo

IPB Teliti Keanekaragaman Hayati Gayo

Jum`at, 21 Agustus 2020 11:30 WIB

Font: Ukuran: - +


DIALEKSIS.COM| Bandung- Institut Pertanian Bogor (IPB) mulai meneliti keaneragaman hayati yang ada dalam masyarakat Gayo.

"Saat ini, kami mulai meneliti budaya dan tumbuhan. Kami memilih untuk fokus ke masyarakat Gayo. Selain untuk konservasi tumbuhan/tanaman pangan, juga untuk pelestarian bahasa lokal," kata Arzyana Sunkar, dosen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata Fakuktas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB), Jakarta, Kamis (20/8/2020).

Sayangnya, menurut Arzyana, karena Covid-19, pihaknya belum bisa berangkat ke lapangan, Gayo, Aceh. Namun penelitian ini harus tetap jalan. "Kami melihat alternatif untuk mengambil data dari masyarakat Gayo yang ada di wilayah Jabodetabek, yang masih bisa kami kunjungi dan diwawancarai," katanya.

Penelitian tersebut akan dilakukan selama tiga tahun. Fokus pada keanekaragaman hayati, tamanaman pangan, dan obat-obatan. Nanti, akan diukur tingkat pengetahuan tradisional dan vitalitas bahasa, yang menggambarkan kecenderungan hilangnya biodiversitas, dengan menggunakan TRALAVi ( Traditional Knowledge and Language Vitality) index.

Sementara itu, peneliti bahasa Gayo, Yusradi Usman al-Gayoni yang jadi narasumber dalam diskusi perdana tersebut, menjelaskan bahwa orang Gayo sudah ada di Sumatera (Aceh sekarang) sejak 8000-an tahun yang lalu (jaman prasejarah) dan merupakan suku asli/pertama di Aceh.

Mereka mendiami Aceh Tengah, Bener Meriah, Gayo Lues, Aceh Tenggara, sebagian Aceh Timur dan Aceh Tamiang. "Orang Gayo di daerah-daerah tadi disebut dengan Gayo Lut, Gayo Deret, Gayo Belang, Gayo Serbejadi, dan Gayo Kalui dan memiliki beberapa dialek dan subdialek bahasa," kata Yusradi.

Diungkapkan penulis buku Ekolinguistik itu, orang Gayo memiliki konsep pangan dan ketahanan pangan, yang dikenal beras padi tungket imen. Gadung-kepile peger ni keben. "Beras/padi merupakan makanan pokok. Singkong-ubi jadi makanan pendukung jika tidak ada beras.

Karenanya, disebut penger ni keben (pagarnya/pendukung lumbung padi). Masa Covid-19 ini, kearifan pangan ini kembali digalakkan, karena lesunya ekonomi, terbatasnya pergerakan, kurangnya pemasukan, dan rendahnya daya beli masyarakat.

Apalagi, pada masa sebelumnya, orang Gayo juga sudah pernah mengalami pandemi hewan dan pandemi manusia, dan sudah pernah melewati herd immunity."

Orang Gayo, sambung pendiri/pengelola Perpustakaan Gayo yang mengoleksi buku-buku Gayo terlengkap se-Indonesia itu, menyebutkan, orang Gayo juga mengenal dan memanfaatkan tumbuhan sebagai obat-obatan, tanaman pangan, dan upacara adat/kegiatan sosial.

Untuk mendalami keaneka ragaman hayati di Gayo, Arzyana Sunkar dosen ini, mengatakan, sebelum diadakan Webinar, pihaknya akan mengadakan Focus Group Discussion (FGD) terbatas dengan melibatkan orang Gayo yang ada di Jabodetabek yang paham keanekaragaman hayati Gayo.

"Direncanakan, hari Sabtu (29/8/2020) di Sekretariat Musara Gayo. Narasumbernya, kami minta bantuan pengurus Musara Gayo. Teman-teman Musara Gayo yang lebih paham, siapa saja yang diundang. Sekitar 10-15 orang. Dari kami, ada 7 orang," katanya, yang diamini Sekretaris Umum Ikatan Musara Gayo Jabodetabek, Yusradi Usman al-Gayoni yang akan jadi fasilitator/moderator dalam FGD tersebut. (rel/baga)


Keyword:


Editor :
Redaksi

Berita Terkait
    riset-JSI
    Komentar Anda