Rabu, 07 Oktober 2026
Beranda / Berita / Aceh / Mahasiswa HI USK Belajar Strategi P4GN BNN dari Perspektif Hubungan Internasional

Mahasiswa HI USK Belajar Strategi P4GN BNN dari Perspektif Hubungan Internasional

Selasa, 06 Oktober 2026 20:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Program Studi Hubungan Internasional (HI), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Syiah Kuala (USK), menggelar kuliah tamu yang membahas strategi Pencegahan, Pemberantasan, Penyalahgunaan, dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN) melalui perspektif hubungan internasional, Selasa (6/10/2026). [Foto: dokumen untuk dialeksis.com]


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Program Studi Hubungan Internasional (HI), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Syiah Kuala (USK), menggelar kuliah tamu yang membahas strategi Pencegahan, Pemberantasan, Penyalahgunaan, dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN) melalui perspektif hubungan internasional, Selasa (6/10/2026).

Kuliah tamu bertajuk “Hubungan Internasional dalam Memandang Dunia: Perspektif Idealisme, Realisme, Neorealisme, dan Konstruktivisme dalam Program P4GN BNN” tersebut berlangsung di Aula Lantai III FISIP USK.

Kepala BNN Provinsi Aceh Brigjen Pol. Dr. Dedy Tabrani, S.I.K., M.Si., hadir sebagai narasumber. Kegiatan dibuka Dekan FISIP USK Dr. Hamdani M. Syam, M.A., dan dihadiri Wakil Dekan FISIP, Ketua Prodi HI Ibnu Phonna Nurdin, M.Si., dosen, tenaga kependidikan, serta mahasiswa HI USK.

Dalam pemaparannya, Dedy menjelaskan bahwa persoalan narkotika merupakan bagian dari isu keamanan nontradisional dalam studi Hubungan Internasional. Menurut dia, ancaman keamanan tidak lagi hanya berasal dari negara, tetapi juga aktor nonnegara seperti jaringan narkotika dan terorisme.

“Dunia selalu berubah atau dinamis. Dulu yang dianggap sebagai ancaman adalah negara, tetapi ketika dunia terus berubah muncul konsep keamanan nontradisional dan human security,” ujar Dedy.

Ia mengatakan, perubahan bentuk ancaman tersebut mendorong negara membentuk berbagai lembaga khusus, termasuk BNN untuk menangani persoalan narkotika.

Dedy menegaskan, pemberantasan narkotika membutuhkan penegakan hukum yang tegas untuk mengungkap jaringan sekaligus melindungi kepentingan nasional. Namun, langkah tersebut harus diiringi pencegahan, kerja sama internasional, serta pembentukan norma dan kesadaran di masyarakat.

“Kita harus mengubah stigma negatif menjadi bentuk partisipasi, kepedulian, dan dukungan sosial, sehingga mereka bisa mendapatkan penanganan yang tepat dan keluar dari jeratan narkoba,” katanya.

Sementara itu, Dekan FISIP USK Dr. Hamdani M. Syam mendorong mahasiswa tidak sekadar mengikuti kuliah tamu, tetapi aktif mengaitkan teori Hubungan Internasional dengan persoalan nyata.

“Kami sangat mengharapkan kepada adik-adik mahasiswa untuk tidak hanya mendengarkan, tetapi aktif berdiskusi dan mengajukan pertanyaan,” ujar Hamdani.

Menurut dia, kegiatan tersebut menjadi bagian dari implementasi kerja sama antara Prodi HI USK dan BNN Provinsi Aceh sekaligus memperluas wawasan mahasiswa mengenai kejahatan transnasional dan penanganannya.

Kuliah tamu dipandu dosen HI USK Siti Dzuhra. Mahasiswa terlihat antusias mengikuti sesi diskusi dan tanya jawab.

Kegiatan tersebut juga dinilai mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-4 tentang pendidikan berkualitas dan tujuan ke-17 mengenai kemitraan untuk mencapai tujuan. [*]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI