Minggu, 09 Agustus 2026
Beranda / Berita / Aceh / ‎Panitia Bantah Aksi Bela Nanggroë Ditunggangi Pihak Tertentu, Tegaskan Murni Gerakan Ulama Aceh

‎Panitia Bantah Aksi Bela Nanggroë Ditunggangi Pihak Tertentu, Tegaskan Murni Gerakan Ulama Aceh

Minggu, 09 Agustus 2026 13:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Arn

‎‎Juru Bicara Doa Zikir dan Tolak Bala, Reki Nyak Wang alias Abu Syu'ja. Foto: doc Dialeksis


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Panitia pelaksana Doa Zikir dan Tolak Bala serta Aksi Bela Nanggroë dan Syariat menegaskan kegiatan tersebut merupakan gerakan yang lahir dari inisiatif para ulama, tokoh dayah, dan pemuda Aceh. Mereka membantah anggapan bahwa kegiatan tersebut merupakan agenda yang direkayasa atau ditunggangi pihak tertentu. Aksi itu sendiri direncanakan akan digelar di Masjid Raya Baiturrahman pada 15 Agustus 2026 pekan depan.

‎‎Juru Bicara Doa Zikir dan Tolak Bala, Reki Nyak Wang alias Abu Syu'ja, mengatakan penegasan ini disampaikan menyusul beredarnya sejumlah informasi di tengah masyarakat yang, menurut pihak panitia, berpotensi menimbulkan kesalahpahaman terkait tujuan dan penyelenggaraan kegiatan.

‎‎“Ini murni gerakan Tengku Dayah. Kami meminta masyarakat Aceh tidak mudah terprovokasi oleh informasi dari pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab,” kata Rek kepada Dialeksis, Minggu, 9 Agustus 2026.

‎‎Ia menceritakan latar belakang rencana aksi tersebut berawal dari pertemuan pertama yang melibatkan para ulama dan tokoh dayah di Dayah Abi Wahid di Dayah Abi Wahid, Lhoknga, pada 8 Juli 2026.‎

‎"Dalam pertemuan tersebut dibahas rencana kegiatan sekaligus penunjukan koordinator wilayah dan disepakati pelaksanaan kegiatan pada 15 Agustus 2026 di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh," ungkap Reki .

Riki melanjutkan, rapat lanjutan digelar pada 26 Juli 2026 di Kompleks Makam Syiah Kuala. Menurut Rek , pertemuan kedua tersebut dihadiri lebih banyak peserta dari kalangan ulama dan tokoh dayah untuk mematangkan persiapan.

‎‎“Jadi prosesnya jelas. Ini bukan kegiatan yang tiba-tiba muncul. Ada rapat pertama, ada rapat lanjutan, dan semuanya dibahas bersama para Tengku,” ujarnya.


‎Bukan Sekadar Zikir, Ada Aspirasi Rakyat

‎‎Dalam penjelasannya, Reki menegaskan kegiatan Doa Tolak Bala dan Aksi Bela Nanggroë & Syariat, memiliki dua dimensi, yakni kegiatan keagamaan dan penyampaian aspirasi masyarakat.

‎‎Dari sisi keagamaan, kegiatan diarahkan sebagai ikhtiar bersama untuk memohon perlindungan Allah SWT agar Aceh dijauhkan dari berbagai bala dan musibah. Rek juga menyinggung potensi banjir yang kerap menjadi persoalan ketika curah hujan tinggi.

‎‎Sementara dari sisi aspirasi, panitia menyebut sejumlah persoalan yang akan disampaikan dalam kegiatan tersebut, antara lain penerapan Syariat Islam secara kaffah, persoalan Blok Andaman, tambang Beutong, serta bantuan bagi masyarakat korban banjir.

‎‎"Aspirasi tersebut rencananya disampaikan melalui orasi oleh sejumlah tokoh, ulama, dan mahasiswa," terang Rek .


‎‎Panitia Tegaskan Tak Ingin Kegiatan Berujung Kericuhan

‎‎Di tengah adanya kekhawatiran mengenai potensi gangguan keamanan dalam kegiatan massa, panitia memberikan sejumlah imbauan kepada peserta.

‎‎"Peserta diminta menjaga ketertiban, mengenakan pakaian yang sopan dan sesuai dengan ketentuan syariat, serta menjaga persatuan," jelas Reki.

‎‎Panitia juga secara tegas mengingatkan peserta agar tidak membawa senjata tajam maupun senjata api. Selain itu, peserta diminta tidak membawa bendera ataupun atribut yang dilarang berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan.

‎‎Peserta juga diimbau tidak melakukan konvoi dan tetap menjaga ketertiban umum selama perjalanan maupun berada di lokasi kegiatan.

‎‎“Silakan hadir dengan niat yang ikhlas, menjaga persatuan dan mengikuti hukum yang berlaku. Jangan terpancing oleh ajakan pihak yang tidak bertanggung jawab,” ujar Reki .


‎Panitia Minta Masyarakat Tidak Mudah Terprovokasi

Reki mengatakan, pihaknya menyadari kegiatan yang melibatkan masyarakat dalam jumlah besar membutuhkan pengamanan dan koordinasi yang baik. Karena itu, ia meminta seluruh pihak mengedepankan komunikasi dan tidak membangun opini yang dapat memperkeruh suasana.

‎‎Ia juga mengajak masyarakat yang tidak dapat hadir di Banda Aceh untuk tetap mendoakan keselamatan Aceh dari rumah, meunasah, maupun masjid.

‎‎“Yang tidak mampu hadir tetap dapat berdoa dari rumah. Intinya kita ingin bermunajat kepada Allah untuk keselamatan dan kebaikan Aceh,” kata dia.

‎‎Dalam kesempatan itu Jubir aksi ini menyerukan kepada peserta untuk menjaga suasana tetap damai serta menghormati ketentuan hukum yang berlaku.

‎‎Menurut Reki , inti dari kegiatan tersebut adalah doa, zikir, penyampaian aspirasi, serta upaya memperkuat persatuan masyarakat Aceh. Karena itu, ia meminta semua pihak tidak menggunakan kegiatan tersebut untuk kepentingan yang dapat memecah belah masyarakat.

‎‎“Kami berharap kegiatan ini berlangsung tertib, damai dan penuh kekhidmatan. Jangan ada yang menunggangi kegiatan ini untuk kepentingan lain,” pungkas Reki .

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI