DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthalamuddin, menegaskan bahwa tantangan utama dunia pendidikan saat ini bukan semata soal infrastruktur, fasilitas, atau kesejahteraan guru. Yang justru kian mengkhawatirkan adalah terkikisnya kecintaan terhadap profesi guru itu sendiri.
Acara yang ikut dihadiri oleh media Dialeksis tersebut mendengar pesan yang disampaikan Murthalamuddin saat membuka acara Training of Trainer (ToT) Mendesain Pembelajaran STEM Inklusif melalui Model Kemitraan Sekolah--Universitas Berbasis Lesson Study, yang digelar di Aula Dinas Pendidikan Aceh, Kamis (15/012026).
“Banyak yang mengira lemahnya kualitas pendidikan karena sarana kurang atau gaji belum cukup. Faktanya, persoalan mendasar justru terletak pada jiwa keguruan yang mulai pudar. Guru jangan hanya menjadikan profesi ini sebagai lahan pekerjaan, tetapi sebagai panggilan pengabdian,” ujar Murthalamuddin.
Ia menilai, tidak adanya narasi baku dan pedoman nilai dalam membangun karakter guru membuat proses pendidikan kehilangan ruh. Padahal, menurutnya, kecintaan terhadap profesi adalah pondasi utama dalam membangun sumber daya manusia yang unggul dan berdaya saing.
“Kesadaran menjadi guru harus tercermin dari tindakan, dari cara mengajar, dari kemauan terus belajar dan beradaptasi dengan perubahan zaman,” katanya.
Dalam konteks pelatihan STEM inklusif, Murthalamuddin menekankan bahwa guru dituntut melek teknologi dan mampu mengaplikasikan inovasi pembelajaran digital di ruang kelas. Pembelajaran berbasis STEM, lanjutnya, bukan sekadar konsep, tetapi harus diimplementasikan secara kreatif dan relevan dengan kebutuhan peserta didik masa kini.
“Guru hari ini harus terus meng-update informasi, menguasai teknologi pembelajaran, dan berani berubah. STEM bukan hanya soal sains dan teknologi, tetapi tentang cara berpikir kritis dan adaptif,” ujarnya.
Pelatihan ToT ini diharapkan menjadi momentum penguatan kompetensi guru Aceh agar mampu menjawab tantangan pendidikan abad ke-21, sekaligus menghidupkan kembali semangat dan kecintaan guru terhadap profesinya.
“Ketika guru mencintai pekerjaannya, maka ilmu akan sampai dengan hati. Dari sanalah kualitas pendidikan akan tumbuh,” kata Murthalamuddin.[]