Beranda / Berita / Aceh / Pusat Penjualan Penganan Takjil di Sidak

Pusat Penjualan Penganan Takjil di Sidak

Minggu, 27 Mei 2018 13:32 WIB

Font: Ukuran: - +


 Banda Aceh - Jumat (25/5/2018, Pemerintah Kota Banda Aceh bersama Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) di Banda Aceh melakukan pengawasan pangan jajanan berbuka puasa.

Turut hadir dalam kegiatan itu Wakil Wali Kota Banda Aceh Zainal Arifin bersama para Kepala SKPK terkait, dan Kepala BBPOM di Banda Aceh Zulkifli beserta jajarannya. Salah satu lokasi pusat penjualan takjil yang didatangi yakni di Jalan Tgk Pulo Dibaroh (area samping eks Bioskop Garuda).

Pada kesempatan tersebut, pihak BBPOM juga menurunkan satu unit mobil laboratorium keliling untuk mengecek langsung ada tidaknya kandungan bahan berbahaya seperti borax maupun formalin dalam penganan berbuka puasa.

Sembari Cek Zainal -panggilan akrab wakil wali kota- menyambangi lapak para pedagang dan berdialog dengan mereka, pihak BBPOM mengambil sampel sejumlah penganan untuk diuji di laboratorium keliling

Dan hasil pengawasan dan uji laboratorium sore tadi, tidak ditemukan kandungan bahan berbahaya dalam penganan berbuka puasa yang dijual di lokasi ini. "Alhamdulillah, dari hasil uji lab tadi kita pastikan penganan berbuka puasa di lokasi ini aman untuk dikonsumsi masyarakat," kata Cek Zainal.

"Untuk itu, kami mengucapkan terima kasih kepada para pedagang yang sudah ikut serta dalam upaya menjaga kesehatan warga dengan menjual makanan dan minuman yang aman dikonsumsi, khususnya selama Ramadan. Semoga hal ini dapat terus kita jaga bersama ke depannya," ungkapnya.

Sementara itu, Kepala BBPOM Zulkifli mengatakan sejauh ini pihaknya telah mengawasi 22 lokasi pusat penjualan takjil di Banda Aceh sejak semingu yang lalu. "Sudah lebih dari 160 sampling yang kita ambil, dan sore ini kita uji lab 22 sampel lagi seperti mie dan minuman berwarna yang memang lebih berpotensi mengandung bahan berbahaya."

"Dari 22 sampel, hasil uji lab kita tidak ditemukan mie yang mengandung borax atau minuman yang mengandung pewarna tekstil. Untuk saat ini belum ada yang positif," katanya.

Meskipun begitu, ia menjelaskan dari 22 lokasi penjualan takjil di Banda Aceh pihaknya telah menguji lab 47 sampel penganan berbahan mi. "Dari 47 sampel tersebut, 41 di antaranya negatif dan hanya enam yang positif mengandung borax. Dan kita sudah punya data penjualnya dan akan segera turun ke tempat produksinya bersama pihak terkait," tegasnya. (Jun)

Keyword:


Editor :
Jaka Rasyid

riset-JSI
Komentar Anda