DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Puluhan mahasiswa Universitas Teuku Umar (UTU) menjalani proses pembentukan karakter kepemimpinan melalui kegiatan Retreat Organisasi Mahasiswa Tahun 2026. Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari, sejak Kamis hingga Sabtu, 23-25 April 2026, di kawasan Air Terjun El Naja Lhong, Aceh Besar.
Kegiatan tersebut dijelaskan langsung oleh Ketua Panitia, Muhammad Idris yang mengatakan bahwa retreat ini bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan dirancang sebagai ruang pembelajaran yang hidup bagi mahasiswa untuk memahami makna kepemimpinan secara lebih mendalam.
“Program retreat ini memang terinspirasi dari konsep yang dikemas oleh Presiden Prabowo Subianto. Namun kami mengadaptasinya ke dalam konteks mahasiswa, agar menjadi wadah pembentukan pemimpin yang siap menghadapi tantangan masa depan,” ujar Idris kepada media dialeksis.com.
Menurutnya, pendekatan yang digunakan dalam retreat ini sengaja dijauhkan dari kesan eksklusif yang selama ini identik dengan kegiatan di hotel atau ruang tertutup.
Sebaliknya, mahasiswa diajak langsung ke lapangan, berinteraksi dengan alam, dan menghadapi berbagai situasi yang menuntut ketahanan mental dan fisik.
“Kami ingin menghilangkan kesan bahwa proses pembelajaran harus selalu nyaman. Justru di sini mahasiswa belajar dari kondisi yang ‘tidak mudah’. Mereka harus merasakan bagaimana proses hidup yang keras, pahit, bahkan melelahkan. Dari situlah karakter kepemimpinan terbentuk,” jelasnya.
Idris menambahkan, kegiatan ini lahir dari kebutuhan nyata organisasi mahasiswa saat ini. Ia menilai, banyak pemimpin mahasiswa belum sepenuhnya memiliki kesiapan mental dan tanggung jawab dalam menjalankan peran organisasi.
“Retreat ini menjadi kebutuhan. Ke depan, kami berharap kegiatan seperti ini bisa menjadi salah satu syarat bagi mahasiswa yang ingin menjadi ketua organisasi. Mereka harus melewati proses pelatihan kepemimpinan yang benar-benar membentuk karakter,” katanya.
Lebih jauh, ia menguraikan sejumlah dampak yang diharapkan dari kegiatan tersebut. Pertama, mahasiswa diharapkan tumbuh menjadi pemimpin yang bertanggung jawab, tidak hanya terhadap organisasi, tetapi juga terhadap diri sendiri, orang tua, serta bangsa dan negara.
Kedua, retreat ini menekankan pentingnya nilai moral dalam kepemimpinan. Idris menyoroti fenomena krisis integritas yang kerap terjadi pada sejumlah pemimpin, yang menurutnya harus menjadi pelajaran bagi generasi muda.
“Ke depan kita butuh pemimpin yang mengutamakan moral. Bukan sekadar mengejar kepentingan pribadi atau kelompok, tetapi benar-benar bertanggung jawab kepada masyarakat,” tegasnya.
Selain itu, ia juga menyinggung tantangan besar yang dihadapi generasi muda saat ini, khususnya pengaruh digitalisasi terhadap sensitivitas sosial mahasiswa. Menurutnya, banyak mahasiswa yang mulai kehilangan kepekaan terhadap persoalan bangsa.
“Selama ini kita melihat mahasiswa kurang peka terhadap isu-isu sosial, politik, dan ekonomi. Ketika masyarakat membutuhkan kekuatan mahasiswa, hal itu tidak selalu bisa diwujudkan. Salah satu faktornya adalah pengaruh digitalisasi,” ungkap Idris.
Melalui retreat ini, peserta diajak untuk kembali memahami realitas sosial secara langsung. Mereka dilatih untuk membaca dinamika politik, memahami persoalan ekonomi, serta merespons isu-isu sosial yang berkembang di tengah masyarakat.
“Kami ingin mahasiswa lebih peka terhadap perkembangan bangsa. Mereka harus mampu melihat persoalan secara utuh, bukan hanya dari layar gadget, tetapi dari realitas di lapangan,” tambahnya.
Kegiatan ini diarahkan untuk melahirkan pemimpin masa depan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional dan kuat secara moral.
“Intinya, retreat ini adalah bagian dari penguatan kepemimpinan. Kita ingin melahirkan pemimpin yang siap menghadapi masa depan, yang tangguh, berintegritas, dan memiliki kepedulian tinggi terhadap bangsa,” tutup Idris. [nh]