Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Berita / Aceh / Sopir Angkutan Keluhkan Solar Sulit Didapat di Aceh

Sopir Angkutan Keluhkan Solar Sulit Didapat di Aceh

Sabtu, 16 Mei 2026 19:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Naufal Habibi

Sejumlah kendaraan dari berbagai jenis tampak mengantre panjang di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) kawasan Kampung Mulia, Banda Aceh, Sabtu (16/5/2026). [Foto: Naufal Habibi/dialeksis.com]


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Sejumlah kendaraan dari berbagai jenis tampak mengantre panjang di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) kawasan Kampung Mulia, Sabtu (16/5/2026).

Antrean didominasi truk angkutan barang, mobil penumpang umum, hingga kendaraan pribadi yang berburu bahan bakar minyak (BBM) jenis solar.

Pemandangan antrean panjang itu menjadi keluhan baru bagi para sopir angkutan lintas kabupaten di Aceh. Mereka mengaku semakin sulit mendapatkan solar dalam beberapa pekan terakhir. Jika pun tersedia, stok disebut cepat habis sehingga pengendara harus rela menunggu berjam-jam di SPBU.

Salah seorang sopir angkutan umum lintas pesisir utara dan timur Aceh, Riski, mengatakan kondisi kelangkaan solar kini semakin terasa hampir di sejumlah daerah yang ia lintasi setiap hari.

“Sekarang sangat susah cari solar. Kalau ada pun antreannya panjang dan sering cepat habis,” kata Riski saat ditemui media dialeksis.com, Sabtu (16/5/2026).

Ia mengaku kondisi tersebut sangat memengaruhi aktivitas para sopir angkutan umum yang menggantungkan operasional kendaraan pada BBM jenis solar subsidi. Menurutnya, banyak sopir terpaksa menghabiskan waktu di SPBU hanya untuk memastikan kendaraan tetap bisa beroperasi.

Riski bahkan mengaku pernah mengantre hingga dua jam di salah satu SPBU di Bireuen yang berada di samping kantor bupati demi mendapatkan solar.

“Beberapa hari lalu saya antre sampai dua jam di SPBU Bireuen dekat kantor bupati. Sepanjang perjalanan dari Banda Aceh ke Bireuen waktu itu solar kosong,” ujarnya.

Menurut Riski, kondisi ini memicu keresahan di kalangan sopir angkutan karena biaya operasional terus meningkat. Ia menduga adanya pengurangan pasokan solar ke SPBU dibanding sebelumnya.

“Ada isu dulu setiap SPBU dapat sekitar 16 ribu liter solar per hari, sekarang katanya tinggal sekitar 8 ribu liter per hari. Kami tidak tahu pasti, tapi kondisi di lapangan memang terasa stok makin sedikit,” katanya.

Selain kelangkaan solar subsidi, para sopir juga mengeluhkan naiknya harga BBM nonsubsidi yang dinilai semakin memberatkan.

Harga Pertamax Turbo disebut sudah menyentuh kisaran Rp19.400 per liter, sementara Dexlite dan Pertamina Dex mengalami kenaikan signifikan hingga mencapai kisaran Rp23.900 sampai Rp27.900 per liter.

Kondisi itu membuat sebagian sopir tidak memiliki banyak pilihan ketika solar subsidi kosong di SPBU. Menggunakan BBM nonsubsidi dianggap terlalu mahal dan tidak sebanding dengan pendapatan harian sopir angkutan.

“Kalau harus pakai Dex atau Pertamax Turbo tentu berat bagi kami. Penghasilan sopir tidak seberapa, sementara biaya jalan terus naik,” kata Riski.

Antrean panjang kendaraan di SPBU juga menyebabkan kemacetan di sejumlah titik sekitar lokasi pengisian BBM. Beberapa sopir tampak memilih mematikan mesin kendaraan sambil menunggu giliran agar bisa menghemat bahan bakar.

Para sopir berharap pemerintah maupun pihak PT Pertamina (Persero) dapat segera mencari solusi agar distribusi solar kembali normal dan tidak menyulitkan masyarakat kecil yang bergantung pada kendaraan untuk bekerja.

“Kami berharap ada solusi. Jangan sampai sopir semakin susah bekerja hanya karena sulit mendapatkan solar,” tutup Riski. [nh]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI