DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Tingginya frekuensi kecelakaan di jalur lintas Barat Selatan Sumatera, khususnya pada ruas yang menghubungkan Aceh dengan Sumatera Utara, kembali mencuat.
Kondisi jalan yang sempit, berkelok, serta dipenuhi tanjakan dan turunan curam dinilai menjadi faktor utama yang meningkatkan risiko kecelakaan, terutama bagi kendaraan angkutan logistik.
Wakil Sekretaris Jenderal DPP Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) bidang Organisasi, Keanggotaan, Hukum dan Advokasi, Fadhli Ali, SE, M.Si, meminta Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) untuk memberi perhatian serius terhadap kondisi jalan nasional di wilayah tersebut.
Menurut Fadhli, topografi kawasan pesisir Barat Selatan Sumatera yang didominasi pegunungan dan lembah membuat bentang jalan memiliki tanjakan curam serta kelokan tajam yang cukup berbahaya bagi kendaraan besar.
“Coba perhatikan jalur lintas dari Medan menuju Aceh melalui jalur Barat hingga Banda Aceh. Mulai dari Brastagi, Pakpak Barat, Subulussalam, Aceh Selatan, hingga Aceh Jaya dan Aceh Besar, hampir semuanya memiliki tanjakan dan turunan yang curam dengan kelokan tajam,” kata Fadhli Ali kepada wartawan, Jumat (13/3/2026).
Ia menjelaskan, kondisi tersebut sangat berbeda jika dibandingkan dengan jalur timur Aceh yang menghubungkan Langkat“Besitang hingga Banda Aceh. Di jalur tersebut, kata dia, kelokan tajam dan tanjakan ekstrem relatif lebih sedikit, kecuali di kawasan Seulawah.
“Di lintasan timur itu relatif lebih landai. Sementara lintasan Barat Selatan benar-benar menantang karena kombinasi tanjakan panjang, turunan curam, dan jalan berkelok,” ujarnya.
Fadhli menegaskan bahwa peran Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) sangat vital dalam menjaga konektivitas antarwilayah. Menurutnya, kualitas jalan nasional harus memenuhi standar kelayakan agar mampu menunjang mobilitas logistik serta pertumbuhan ekonomi di kawasan tersebut.
Namun dalam beberapa waktu terakhir, frekuensi kecelakaan disebut meningkat di sejumlah titik rawan.
Ia mencontohkan sejumlah lokasi yang kerap menjadi titik kecelakaan seperti tanjakan I, II, dan III Singgersing di jalur Aceh Selatan“Subulussalam, serta Tanjakan Kedabuhan di kawasan Jontor, Subulussalam yang berdekatan dengan perbatasan Kabupaten Pakpak Bharat, Sumatera Utara.
“Di wilayah Pakpak Bharat juga sangat sering terjadi kecelakaan. Dua minggu lalu dua unit truk CPO terjungkal di sana hingga menyebabkan kemacetan panjang. Bahkan dua malam lalu kejadian serupa kembali terjadi, satu truk CPO kembali terbalik,” ungkapnya.
Menurut Fadhli, meskipun jalan di Pakpak Bharat tidak memiliki tanjakan setinggi jalur Aceh Barat Selatan, namun kondisi badan jalannya sangat sempit dan rawan kecelakaan.
Lebar jalan nasional di kawasan tersebut, kata dia, hanya sekitar 4,5 meter. Selain itu, bahu jalan banyak yang tergerus air sehingga bagian tepi aspal menggantung dan berpotensi ambles saat dilalui kendaraan berat.
“Kondisi inilah yang membuat kecelakaan sering terjadi. Truk yang membawa muatan berat sangat rentan tergelincir atau terbalik ketika roda keluar sedikit dari badan jalan,” jelasnya.
Fadhli menilai kondisi tersebut tidak hanya membahayakan pengendara, tetapi juga berdampak pada biaya logistik yang semakin mahal.
Ia menyebut distribusi barang ke wilayah Barat Selatan Aceh hingga Sumatera Utara bagian barat seperti Sibolga dan Nias menjadi lebih mahal karena waktu tempuh yang lebih lama serta risiko kerusakan kendaraan yang tinggi.
“Sering terjadi pecah ban, velg rusak, bahkan kecelakaan fatal pada kendaraan angkutan barang. Ini tentu meningkatkan biaya distribusi logistik,” katanya.
Fadhli juga menyoroti dampak lain dari kondisi infrastruktur tersebut terhadap sektor perkebunan kelapa sawit di Aceh.
Ia menjelaskan bahwa perbedaan kondisi infrastruktur dan jarak tempuh membuat pemerintah menetapkan dua harga Tandan Buah Segar (TBS) di Aceh, yakni harga wilayah barat dan harga wilayah timur.
“Perbedaan kondisi jalan dan biaya transportasi ini ikut memengaruhi harga TBS. Wilayah barat biasanya memiliki biaya logistik lebih tinggi dibanding wilayah timur,” ujarnya.
Selain sempit dan berkelok, ruas jalan nasional di kawasan Pakpak Bharat juga kerap mengalami longsor.
Salah satu kejadian terjadi pada 5 Maret 2025 lalu di Dusun Buluh Didi, Desa Tanjung Mulia, Kecamatan Sitellu Tali Urang Jehe, Kabupaten Pakpak Bharat. Longsor sempat menutup jalur penghubung Sumatera Utara dengan Aceh tersebut.
Namun berkat penanganan cepat oleh BPBD Pakpak Bharat bersama TNI, Polri, serta pemerintah kecamatan menggunakan alat berat, jalur tersebut kembali dapat dilalui pada 6 Maret 2025.
Meski demikian, Fadhli menilai kondisi tersebut menunjukkan bahwa jalur tersebut membutuhkan penanganan lebih serius dan perencanaan infrastruktur yang lebih baik.
“Jalan di Pakpak Bharat itu adalah satu-satunya jalan nasional penghubung Aceh ke Medan melalui lintasan Barat Selatan. Jadi kalau ada gangguan, dampaknya sangat besar,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa jalur alternatif yang menghubungkan Desa Lae Balno di Kecamatan Danau Paris, Aceh Singkil dengan Desa Seragih di Kabupaten Tapanuli Tengah merupakan jalur terdekat menuju Padang, Sumatera Barat. Namun kondisi jalur tersebut juga masih terbatas dan membutuhkan peningkatan infrastruktur.
Karena itu, Apkasindo berharap Kementerian PUPR melalui BPJN Aceh dan BPJN Sumatera Utara dapat berkoordinasi untuk memperlebar serta memperbaiki ruas jalan nasional di kawasan tersebut.
Selain itu, Fadhli juga meminta anggota DPR RI dari daerah pemilihan Aceh dan Sumatera Utara untuk bersama-sama memperjuangkan peningkatan kualitas jalan di lintasan Barat Selatan Sumatera.
“Kami berharap ada perhatian serius dari pemerintah pusat. Jalan nasional di wilayah itu harus diperlebar dan ditingkatkan kualitasnya agar memenuhi standar pelayanan minimal jalan nasional,” tegasnya.
Sementara itu, Zulkarnain, seorang sopir angkutan lintas Aceh Barat Selatan“Medan, mengaku kondisi jalan yang sempit dan berkelok membuat perjalanan sering kali terasa sangat berisiko.
Ia mengatakan para sopir harus ekstra hati-hati, terutama ketika melintasi tanjakan curam atau tikungan tajam di kawasan pegunungan.
“Kalau bawa muatan berat, apalagi di tanjakan panjang, harus benar-benar fokus. Jalan sempit dan banyak tikungan tajam, sedikit saja salah bisa berbahaya,” kata Zulkarnain.
Menurutnya, kondisi bahu jalan yang banyak rusak juga membuat sopir kesulitan ketika harus berpapasan dengan kendaraan besar dari arah berlawanan.
“Kadang kalau berpapasan dengan truk lain harus benar-benar pelan. Kalau roda keluar sedikit dari aspal bisa langsung turun ke bahu jalan yang sudah tergerus,” ujarnya.
Zulkarnain berharap pemerintah dapat segera memperlebar badan jalan serta memperbaiki bahu jalan agar lebih aman bagi kendaraan logistik.
“Kalau jalannya lebih lebar tentu lebih aman. Sopir juga lebih tenang membawa barang, tidak terus was-was seperti sekarang,” pungkasnya.