Jum`at, 22 Mei 2026
Beranda / Berita / Aceh / UIN Ar-Raniry dan PNRI Pulihkan Manuskrip Kuno Warisan Aceh

UIN Ar-Raniry dan PNRI Pulihkan Manuskrip Kuno Warisan Aceh

Jum`at, 22 Mei 2026 10:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Rektor UIN Ar-Raniry Prof Dr Mujiburrahman di dampingi Dekan FAH Syarifuddin MA PhD meninjau langsung proses restorasi manuskrip kuno yang dilakukan terhadap koleksi masyarakat di Pidie Jaya dan Aceh Utara yang terdampak banjir, Kamis (21/5/2026). [Foto: Humas Kemenag]


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Ratusan naskah kuno Aceh yang terdampak banjir pada 2025 mulai diselamatkan dari ancaman kerusakan permanen melalui program restorasi yang dilakukan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI) bersama UIN Ar-Raniry Banda Aceh dan didukung Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa) Komisariat Aceh.

Sebanyak 130 manuskrip milik masyarakat dari Pidie Jaya dan Aceh Utara menjalani proses preservasi dan restorasi di Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry Banda Aceh pada 19 hingga 23 Mei 2026 dengan melibatkan lima konservator dari PNRI Jakarta.

Rektor UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Prof Dr Mujiburrahman, meninjau langsung proses restorasi manuskrip kuno tersebut, Kamis (21/5/2026). Menurutnya, manuskrip Aceh bukan sekadar dokumen lama, tetapi juga jejak penting sejarah, intelektual, dan peradaban Islam di Nusantara.

“Manuskrip Aceh memiliki nilai sejarah dan peradaban yang sangat tinggi. Karena itu, upaya preservasi harus dilakukan secara berkelanjutan,” ujar Mujiburrahman.

Ia menjelaskan, upaya penyelamatan manuskrip di Aceh telah berlangsung sejak masa rehabilitasi dan rekonstruksi pascatsunami Aceh melalui kerja sama dengan berbagai lembaga internasional, seperti Tokyo University of Foreign Studies (TUFS) Jepang, Universitas Leipzig Jerman, Pemerintah Aceh, serta Pusat Kajian Pendidikan dan Masyarakat (PKPM) Aceh.

Menurutnya, selain restorasi dan preservasi, UIN Ar-Raniry juga menargetkan pembangunan basis data manuskrip Aceh sebagai pusat kajian naskah kuno Aceh dan Nusantara.

“Kampus siap membangun database manuskrip sebagai pusat kajian naskah kuno Aceh dan Nusantara,” katanya.

Sementara itu, Ketua Tim Konservasi Perpustakaan Nasional RI, Imam Supangat, mengatakan proses konservasi diawali dengan identifikasi tingkat kerusakan manuskrip sebelum dilakukan penanganan lebih lanjut.

“Manuskrip dipilah berdasarkan tingkat kerusakan dan metode perbaikannya. Setelah itu dilakukan pendataan dan treatment konservasi sesuai kondisi masing-masing naskah,” ujar Imam.

Ia menyebutkan sebagian manuskrip mengalami kerusakan akibat tingkat kelembapan tinggi yang memicu pertumbuhan jamur serta membuat lembaran naskah saling menempel.

“Manuskrip terlebih dahulu dikeringkan melalui ruang pengeringan atau chamber,” katanya.

Menurut Imam, proses restorasi dilakukan secara bertahap mulai dari penanganan lembaran yang rusak, penambalan bagian berlubang, hingga penetralan kadar asam pada kertas manuskrip.

“Lembaran yang terlepas dijahit kembali, kemudian dibuatkan sampul dan kotak penyimpanan agar manuskrip lebih aman saat disimpan,” ujarnya.

Ia menegaskan, setelah seluruh proses restorasi selesai, manuskrip akan dikembalikan kepada pemilik koleksi untuk kembali dirawat oleh masyarakat sebagai bagian dari warisan budaya Aceh. [*]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI