Beranda / Berita / Membaca Skenario Bustami Hamzah di Pilkada Aceh

Membaca Skenario Bustami Hamzah di Pilkada Aceh

Rabu, 22 Mei 2024 13:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Biyu

Bustami Hamzah Pj Gubernur Aceh. Foto: net


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh -  Berbagai pemberitaan media mengungkapkan sejumlah bakal calon gubernur Aceh yang akan berpartisipasi dalam Pilkada 2024. Beberapa nama yang telah menyatakan sikap dan mendaftarkan diri ke partai politik di antaranya adalah Muzakir Manaf “Mualem”, Nasir Djamil, Prof Abdullah Sanny, dan Muhammad Nazar. Namun, sosok Bustami Hamzah tampaknya luput dari sorotan publik.

Bustami Hamzah terlihat tidak terlalu ambisius, namun pergerakannya terdeteksi oleh radar lawan politik. Menurut analisis Saddam Rafsanjani, akademisi FISIP Universitas Syiah Kuala, Bustami menjalankan agendanya dengan strategi "silent politic" (politik diam-diam). Dalam wawancara dengan Dialeksis beberapa waktu lalu (16/05/2024), Saddam mengungkapkan bahwa Bustami memilih menjalankan agendanya secara terselubung.

“Ambisi Bustami untuk selalu terdepan semakin terlihat dengan bukti bahwa ia berhasil meraih posisi sebagai Penjabat Gubernur Aceh menggantikan Ahmad Marzuki. Ambisinya di bidang politik terus berlanjut, terlihat ketika ia memilih Azwardi sebagai Penjabat Sekretaris Daerah yang dilantik pada 25 Maret 2024,” ujar Saddam.

Saddam juga menambahkan bahwa tim Bustami tampaknya mencoba peruntungan di jalur Pilkada dengan menguasai berbagai jabatan pemerintahan melalui penempatan orang-orang kepercayaannya.

“Termasuk dalam pengkondisian opini publik yang mengarah pada upaya menduetkan Muzakir Manaf dengan Bustami Hamzah, sehingga mempengaruhi lingkungan pemerintah bahwa dirinya akan maju pada Pilkada mendatang,” tambahnya.

Informasi terbaru yang diterima Dialeksis.com mengungkapkan bahwa tim inti Bustami Hamzah saat ini sedang melobi Hashim Djojohadikusumo agar Partai Gerindra memberikan dukungan kepada Bustami. Konsensus yang ditawarkan adalah pengelolaan migas di Aceh.

Teuku Muhammad Jafar Sulaiman, seorang pemikir politik Islam, menyatakan bahwa sah-sah saja Bustami maju dalam Pilkada 2024. Namun, menurutnya, terlihat jelas ambisi kekuasaan dari seorang Bustami Hamzah.

“Seharusnya ia fokus menyelesaikan berbagai agenda penting seperti PON, kegiatan Tsunami Internasional, peringatan Hari Bencana Internasional, dan yang paling penting adalah Pilkada itu sendiri. Bukan malah menjadi peserta dalam kompetisi Pilkada tersebut,” ujar Jafar kepada Dialeksis.com (22/05/2024).

Arah permainan politik Bustami juga terbaca dari kalangan penikmat kopi di Banda Aceh. Irwan (32), dalam diskusi santai di Kopi Darat beberapa hari lalu, mengungkapkan bahwa terlalu dini bagi Bustami Hamzah untuk maju ke arena politik yang memerlukan proses investasi politik jangka panjang di kalangan masyarakat bawah.

“Oke, dia punya uang, tetapi tidak semua masyarakat terpengaruh oleh uang. Ada ikatan emosional dengan partai politik, pengaruh ego kedaerahan, dukungan jejaring lainnya, dan yang paling penting adalah dukungan pusat,” tegas Irwan dalam bincang-bincang santai tersebut.

Semua ini akan terjawab apakah tim inti Bustami berhasil mengantarkannya menjadi partisipan di Pilkada atau sebaliknya meredup seiring pengaruh politik yang tak berpihak. [By]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI
Komentar Anda