Beranda / Berita / Makin banyak perempuan Indonesia hidup melajang?

Makin banyak perempuan Indonesia hidup melajang?

Jum`at, 30 April 2021 14:00 WIB

Font: Ukuran: - +


DIALEKSIS.COM | Jakarta - Jumlah perempuan yang belum pernah menikah semakin banyak? Paling tidak, itulah yang bisa ditangkap dari hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) pada 2016 dan 2020. Pada 2016 terdapat 8,3 juta perempuan yang tidak menikah. Pada 2020, perempuan dewasa yang hidup melajang naik delapan persen menjadi 9,04 juta orang.

Peningkatan proporsi perempuan masih melajang ini terjadi di semua kelompok umur, termasuk mereka yang masuk dalam kelompok produktif. Pada kelompok produktif (20-29 tahun), perempuan yang belum pernah menikah naik dari 6,87 juta orang menjadi 7,39 juta atau naik 7,62 persen.

Kenaikan lebih tinggi, yakni 8,32 persen terjadi pada kelompok umur 30-39 tahun. Pada 2016, jumlahnya masih 815 ribu orang, dan pada 2020 sudah meningkat menjadi 882,8 ribu perempuan. Peningkatan pada kelompok umur yang lain bisa dilihat dalam visual di atas.

Tentu saja, melalui potret sesaat ini tidak bisa disimpulkan bahwa makin banyak perempuan memilih hidup melajang, terutama pada kelompok perempuan pada umur produktif 20-39 tahun. Dari berbagai riset diketahui bahwa tidak menikah tidak bisa didekati dengan hanya satu cabang ilmu.

Secara sosiologis, status pernikahan masih menjadi identitas sosial yang dianggap penting di negeri ini. Hubungan baik dengan keluarga adalah salah satu dimensi kebahagiaan. Karena itu, Karel Karsten Himawan dalam tulisannya "Analisis: lajang bukan berarti tidak mau menikah, menikah juga bukan berarti karena tidak mau melajang" menyatakan bahwa melajang bukan pilihan sukarela bagi banyak lajang di Indonesia.

Kesetaraan gender, dan perempuan yang mandiri dengan karier cemerlang, merupakan dua alasan lain dari sekian banyak alasan untuk tidak menikah. Kepentingan rumah tangga dan karier merupakan salah satu pilihan yang sulit bagi perempuan. Acap kali mereka harus memilih salah satu dari dua opsi tersebut.

Di perusahaan media, misalnya, jarang perempuan yang menapak sampai jenjang karier tertinggi sebagai pemimpin redaksi karena tuntutan pekerjaan yang sering tidak bisa dikompromikan dengan status pernikahan. Global Report on the Status of Women in the News Media (2011) menunjukkan, dari 522 perusahaan pers yang diteliti, jurnalis perempuan yang bekerja secara full-time hanya 33,3 persen.

Fakta di atas tidak juga membuat kita mesti menyimpulkan bahwa untuk menjadi sukses, perempuan harus melajang. Hal yang sama juga bisa terjadi pada laki-laki. Sehingga, data hasil Susenas BPS soal perempuan yang tidak menikah masih memerlukan penelitian lanjutan, terutama menyangkut alasannya.[Lokadata]

Keyword:


Editor :
M. Agam Khalilullah

riset-JSI
Komentar Anda