DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Pemulihan Aceh setelah bencana hidrometeorologi tidak hanya bertumpu pada pemerintah. Lembaga filantropi, dunia usaha, perguruan tinggi, komunitas, dan relawan ikut mengisi ruang-ruang kebutuhan masyarakat yang belum sepenuhnya terjangkau.
Hasil riset digital Dialeksis hingga Jumat, 4 September 2026, menemukan Rumah Zakat menjadi salah satu lembaga yang menjalankan intervensi secara bertahap, mulai dari bantuan pangan pada masa darurat hingga hunian sementara, air bersih, pendidikan, dukungan psikososial, dan penguatan keterampilan warga.
Peran tersebut tetap relevan ketika Aceh resmi mengakhiri masa transisi darurat pada 28 Juli 2026 dan memasuki fase rehabilitasi dan rekonstruksi sejak 1 Agustus 2026. Tahap ini menuntut penanganan yang lebih panjang karena kerusakan tidak hanya terjadi pada rumah, tetapi juga fasilitas pendidikan, kesehatan, infrastruktur, lahan pertanian, dan sumber penghidupan masyarakat.
Bencana banjir, banjir bandang, dan tanah longsor pada penghujung November 2025 berdampak terhadap 18 kabupaten/kota di Aceh. Luasnya wilayah terdampak membuat distribusi bantuan menghadapi tantangan berat, terutama akibat terputusnya jalan, jembatan, serta terisolasinya sejumlah permukiman.
Menembus Wilayah Sulit
Pada fase awal bencana, Rumah Zakat memusatkan aktivitas pada pemenuhan kebutuhan paling mendesak. Berdasarkan Situation Report yang dipublikasikan 26 Desember 2025, lembaga tersebut mencatat telah menjangkau 49.688 penerima manfaat dengan dukungan 77 relawan.
Bantuan yang diberikan meliputi makanan siap saji, sembako, air minum, air bersih, perlengkapan kebersihan, selimut, dapur umum, dan pos hangat. Distribusi dilakukan hingga ke wilayah yang ketika itu masih sulit diakses.
Direktur Marketing Rumah Zakat, Didi Sabir, pada pertengahan Desember 2025 menyebut nilai bantuan yang telah dan akan disalurkan khusus untuk Aceh mencapai hampir Rp4 miliar. Aceh Tamiang menjadi salah satu titik prioritas karena mengalami dampak cukup berat.
Jangkauan bantuan saat itu meliputi Aceh Tamiang, Aceh Tengah, kawasan Gayo, Bener Meriah, Pidie Jaya, Bireuen, Lhokseumawe, dan Aceh Utara. Distribusi dilakukan bertahap dengan menyesuaikan keterbukaan akses dan tingkat kebutuhan masyarakat.
Di Bireuen, Rumah Zakat membuka dapur umum untuk warga terdampak di Gampong Kubu dan sejumlah titik lain. Sementara di Desa Geudumbak, Kecamatan Langkahan, Aceh Utara, dapur umum mampu menghasilkan hingga 400 paket makanan setiap hari.
Skala pelayanan diperbesar melalui kolaborasi dengan Paragon Corp. Di Aceh Tamiang, dapur umum yang dipusatkan di Dusun Bukit Suling, Desa Rantau Pauh, menyediakan sekitar 1.000 porsi makanan per hari. Makanan juga didistribusikan menggunakan food truck untuk menjangkau permukiman di sekitar Kecamatan Rantau.
Kebutuhan Berubah Setelah Air Surut
Penanganan pascabencana tidak dapat berhenti ketika persediaan makanan mulai tersedia. Setelah pengungsian berlangsung berpekan-pekan, kebutuhan warga bergeser kepada kesehatan, kebersihan pribadi, sanitasi, tempat tinggal, dan pemulihan psikologis.
Kepala Cabang Rumah Zakat Aceh, Riadhi, dalam wawancara dengan Dialeksis pada 25 Januari 2026, mengingatkan bahwa banyak kebutuhan dasar kerap luput dari perhatian.
“Banyak pengungsi kehilangan seluruh barang pribadinya saat banjir, termasuk pakaian dalam. Ini kebutuhan dasar, tapi sering dianggap sepele,” ujarnya.
Ia juga menyoroti kebutuhan suplemen, kelambu, pembalut, popok bayi, antiseptik, obat luar, perlengkapan mandi, serta perlengkapan ibadah bagi para penyintas. Anak-anak, lansia, dan ibu hamil menjadi kelompok yang perlu mendapat perhatian khusus karena lebih rentan terhadap penyakit dan tekanan psikologis.
Sejumlah program kemudian diarahkan untuk menjawab kebutuhan tersebut. BJB Syariah bersama Rumah Zakat menyalurkan 88 paket hygiene kit di Desa Seumentoh, Aceh Tamiang. Paragon Corp dan Rumah Zakat juga menyalurkan 157 paket serupa kepada penyintas di Dusun Dura Deli, Desa Kebun Tanjung Seumantoh.
Di Desa Gunci, Kecamatan Sawang, Aceh Utara, Rumah Zakat berkolaborasi dengan Pertamina dan BAZMA membangun fasilitas mandi, cuci, dan kakus bagi pengungsi. Fasilitas tersebut menjadi penting ketika sumber air dan sarana sanitasi warga belum sepenuhnya pulih.
Distribusi air bersih juga terus berlangsung setelah masa darurat. Pada Mei 2026, Rumah Zakat mencatat penyaluran 15.000 liter air bersih kepada penyintas banjir di Aceh Tamiang.
Intervensi jangka menengah diwujudkan melalui pembangunan sumur bor. Di Aceh Timur, ParagonCorp bersama Rumah Zakat membangun satu unit sumur bor lengkap dengan menara, tandon, keran, dan mesin pompa di Puskesmas Pembantu Tualang, Kecamatan Pantee Bidari. Fasilitas serupa juga dibangun di Desa Geudumbak, Aceh Utara.
Huntara dan Pemberdayaan Warga
Jejak paling menonjol dalam fase pemulihan terlihat pada program pembangunan 100 hunian sementara di Desa Geudumbak, Kecamatan Langkahan, Aceh Utara.
Program tersebut melibatkan Rumah Zakat, Bulak Sumur Peduli, Universitas Gadjah Mada, Tangguh Research Group on Resilient Architecture, pemerintah daerah, masyarakat, serta sejumlah mitra korporasi.
Pembangunan huntara tidak sepenuhnya menggunakan pola bantuan satu arah. Sebanyak 14 warga, terdiri atas 10 peserta dari Geudumbak dan empat peserta asal Bireuen, mengikuti pelatihan konstruksi kayu yang didampingi tim ahli UGM dan ahli kebencanaan.
Mereka dipersiapkan menjadi tenaga terampil yang terlibat langsung dalam pembangunan. Pola ini memberi dua manfaat sekaligus, yakni mempercepat penyediaan tempat tinggal dan meninggalkan keterampilan yang dapat digunakan warga setelah proyek selesai.
Kementerian Kehutanan juga mendukung pemanfaatan kayu hanyutan yang telah dipilah sebagai material pembangunan. Per 18 Januari 2026, sebanyak delapan huntara dilaporkan telah dihuni, lima memasuki tahap akhir, dan 12 lainnya masih dibangun.
Perkembangan berikutnya pada 27 Januari menunjukkan 21 unit telah selesai dan 40 unit dalam proses pengerjaan. Sejumlah unit kemudian diserahterimakan secara bertahap melalui dukungan donatur dan mitra, antara lain SeaBank Indonesia, BSI, serta perusahaan lainnya.
Menjaga Pendidikan dan Psikologis Anak
Rumah Zakat juga menempatkan anak-anak sebagai kelompok penting dalam pemulihan. Bersama Imsacare, lembaga itu memberikan layanan dukungan psikososial kepada 50 anak di Dusun Perantau, Desa Alur Cucur, Aceh Tamiang.
Kegiatan dilakukan melalui permainan edukatif, konseling kelompok, dan aktivitas interaktif. Tujuannya membantu anak mengekspresikan perasaan, mengurangi kecemasan, serta mengembalikan rasa aman setelah mengalami bencana.
Di Gampong Geudumbak, Rumah Zakat bersama mitra menyalurkan 100 paket perlengkapan sekolah. Sementara di SDIT Darul Mukhlisin, Aceh Tamiang, sebanyak 150 mushaf Al-Qur’an diberikan untuk mengganti mushaf siswa yang rusak akibat banjir.
Pendekatan pemberdayaan juga terlihat melalui program cukur gratis di Aceh Utara. Rumah Zakat melibatkan tiga tukang cukur lokal yang turut menjadi korban banjir, kemudian membekali mereka dengan peralatan baru. Program tersebut sekaligus memberikan pelayanan kebersihan kepada pengungsi dan membantu pelaku usaha lokal kembali memiliki alat kerja.
Menjadi Penghubung Kolaborasi
Dari rangkaian data itu, riset digital Dialeksis menemukan sedikitnya tiga peran Rumah Zakat dalam penanganan pascabencana Aceh.
Pertama, menjadi pelaksana bantuan di tingkat terakhir atau last mile, terutama ketika akses menuju desa terdampak belum sepenuhnya terbuka. Kedua, menjadi penghubung antara donatur, perusahaan, perguruan tinggi, pemerintah, dan komunitas lokal. Ketiga, menjaga kesinambungan bantuan dari fase penyelamatan menuju pemulihan tempat tinggal, kesehatan, pendidikan, dan keterampilan warga.
Namun, penelusuran Dialeksis juga menemukan laporan konsolidasi publik khusus Aceh yang memuat total penerima manfaat dan jumlah relawan terakhir masih bertanggal 26 Desember 2025. Setelah itu, informasi lebih banyak dipublikasikan secara terpisah berdasarkan program dan mitra.
Karena itu, angka 49.688 penerima manfaat dan 77 relawan tidak dapat diperlakukan sebagai angka akhir. Berbagai kegiatan masih terdokumentasi berlangsung pada Januari hingga Mei 2026. Pembaruan data terpadu mengenai realisasi anggaran, total penerima manfaat, sebaran bantuan, dan capaian akhir pembangunan 100 huntara diperlukan agar dampak program dapat diukur secara lebih utuh.
Memasuki fase rehabilitasi dan rekonstruksi 2026“2028, kebutuhan masyarakat juga akan kembali berubah. Hunian permanen, pemulihan mata pencaharian, perbaikan fasilitas publik, layanan kesehatan berkelanjutan, serta kesiapsiagaan menghadapi bencana berikutnya akan menjadi agenda utama.
Pada tahap inilah peran Rumah Zakat dan lembaga filantropi lainnya diuji: bukan sekadar hadir ketika bencana menyita perhatian, tetapi tetap mendampingi masyarakat sampai kehidupan, penghasilan, dan kemandirian warga benar-benar kembali pulih.

