Beranda / Data / RSUD Zainal Abidin Banda Aceh Paling Banyak Kasus Bullying Terhadap Peserta PPDS

RSUD Zainal Abidin Banda Aceh Paling Banyak Kasus Bullying Terhadap Peserta PPDS

Minggu, 14 Januari 2024 15:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Redaksi

Fenomena bullying di PPDS. (Foto ilustrasi: Getty Images/bymuratdeniz)


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - RSUD Zainal Abidin Banda Aceh menjadi tempat terbanyak terjadinya perundungan atau bullying di kalangan dokter peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) atau dokter residen selama 2023.

Berdasarkan data yang diperoleh Redaksi Dialeksis.com dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) ada 13 RSUD di seluruh Indonesia yang dilaporkan adanya kejadian perundungan selama 2023.

Di peringkat satu RSUD Zainal Abidin dengan 16 laporan, kedua RSUD Moewardi Surakarta 6 laporan, selanjutnya RSUD Saiful Anwar Malang 6 laporan, RSUD Dr Soekarno Surabaya 3 laporan, dan RSUD Ulin Banjarmasin 3 laporan.

Sedangkan RSUD Pirngadi Medan, RSUD Sofifi, RSUD dr Jusuf Kalla SK Tarakan, RSUD Sultan Surianyah Banjarmasin, RSUD NTB, RSUD Kabupaten Kediri, RSUD Menggala, dan RSUD Halmahera Barat masing-masing ada 1 laporan.

Sementara untuk kasus bullying yang terjadi di lingkungan Fakultas Kedokteran, Universitas ternama di Tanah Rencong yakni Universitas Syiah Kuala (USK) juga berada pada peringkat pertama terbanyak laporan perundungan yaitu sebanyak 7 laporan. 

Di posisi kedua Universitas Indonesia dan Universitas Hasanuddin dengan masing-masing 4 laporan. Posisi ketiga Universitas Brawijaya, Universitas Padjajaran, Universitas Airlangga, Universitas Sriwijaya, Universitas Sebelas Maret itu masing-masing 2 laporan.

Selain itu, untuk tempat kejadian bullying dalam lingkungan RS Universitas total ada 10 laporan. Terdiri dari RS Universitas Diponegoro Semarang 6 laporan, RS UI Depok, RS Universitas Hasanuddin Makassar, RS Universitas Andalas Padang, dan RS Lambung Mangkurat Banjarmasin masing-masing 1 laporan.

Menanggapi hal itu, Ketua Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) Aceh dr Azharuddin mengatakan data tersebut memicu perselisihan karena akibat tidak dipaparkan dengan jelas seperti apa kasusnya.

"Ini seperti melempar bola dan silahkan terka sendiri siapa melakukan apa, tidak mendidik, dan tidak ada pembelajaran. Semestinya data berbicara secara komprehensif," kata dr Azharuddin kepada Dialeksis.com, Minggu (14/1/2024).

Menurutnya, kasus perundungan/bullying menjadi populer kembali dalam beberapa waktu terakhir ini, sejak Budi Gunadi Sadikin menjadi menteri Kesehatan yang latar belakang seorang Bankir.

"Perlu disampaikan siapa pelaku dan bagaimana kejadian itu terjadi agar kasus-kasus yang diklasifikasikan sebagai perundungan bisa berkurang atau hilang total, jadi tidak ada yang menduga-duga apa dan siapa pelakunya," jelasnya.

Dirinya sepakat bahwa perundungan itu tidak boleh terjadi dan tidak boleh ada pembiaran. Perlu pencegahan dan penanganan perundungan terhadap peserta didik sebagai acuan dalam penyelenggaraan pendidikan serta penting sanksi terhadap pihak-pihak yang terbukti melakukan perundungan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

"Bagus lagi kalau mau dianalisis lebih mendalam latar belakang pelaku perundungan, juga latar belakang yang kena rundung, apakah ada sebab akibat dan sebagainya," imbuhnya.

Kata dr Azharuddin, sekarang siapa pun bisa melaporkan melalui situs web dan saluran siaga (hotline) yang disediakan Kemenkes, tanpa klarifikasi kebenarannya Kemenkes langsung publikasi.

"Oleh karena itu penjelasan yang lengkap perlu diketahui, apa, siapa, dimana, dan kapan kejadian juga harus disebutkan," sebutnya.

Sebelumnya, Kemenkes RI resmi menyediakan situs web dan saluran siaga (hotline) bagi para korban bullying di rumah sakit vertikal Kemenkes, pada Kamis (20/7/2023) lalu.

Sistem laporan perundungan di rumah sakit vertikal Kemenkes dapat diakses melalui perundungan.kemkes.go.id dan hotline WhatsApp 0812-9979-9777.

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI
Komentar Anda