Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Liputan Khusus / Diaspora / Sejarah Baru, Diaspora Aceh Resmi Miliki Meunasah Pertama di Amerika Serikat

Sejarah Baru, Diaspora Aceh Resmi Miliki Meunasah Pertama di Amerika Serikat

Kamis, 30 April 2026 19:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Naufal Habibi

Komunitas perantau Aceh, Aceh Community Center (ACC), sedang membuka banguna bekas gereja yang akan dijadikan meunasah pertama milik masyarakat Aceh di Benua Amerika. [Foto: Dokumen untuk dialeksis.com]


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Kabar bangga datang dari Amerika Serikat. Komunitas perantau Aceh yang bermukim di Harrisburg, berhasil mewujudkan impian lama mereka: menghadirkan sebuah meunasah sebagai pusat ibadah, budaya, dan kebersamaan. Ini akan menjadi meunasah pertama milik masyarakat Aceh di Benua Amerika.

Melalui Aceh Community Center (ACC), upaya panjang tersebut akhirnya mencapai titik penting. Pada Selasa, 28 April 2026 waktu setempat, atau Rabu (29/4/2026) WIB, proses pemindahan kepemilikan sekaligus fungsi bangunan resmi dilakukan.

Presiden ACC, Musdar Arsyad, menyampaikan rasa syukur atas pencapaian ini. Ia menggambarkan meunasah tersebut bukan sekadar bangunan fisik, tetapi ruang yang akan mengikat kembali nilai-nilai kebersamaan diaspora Aceh.

“Dengan penuh rasa syukur, hari ini kita resmi memiliki sebuah meunasah. Insya Allah, tempat ini akan menjadi pusat ibadah, ruang berkumpul, sekaligus tempat tumbuhnya persaudaraan yang lebih kuat di antara kita,” ujarnya kepada media dialeksis.com, Kamis (30/4/2026).

Musdar menegaskan, meunasah ini lahir dari semangat kolektif. Tidak ada satu pihak yang bisa mengklaim sebagai pemilik utama, karena seluruh proses dibangun dari kebersamaan, doa, dan kontribusi banyak orang.

“Ini bukan milik satu orang atau satu kelompok. Ini milik kita semua, hasil dari niat yang sama dan hati yang saling menguatkan,” tambahnya.

Bangunan yang akan difungsikan sebagai meunasah tersebut merupakan bekas gereja United Methodist Church yang berlokasi di 219 Locust Street, Steelton, Harrisburg. Properti itu dibeli dengan nilai sekitar USD 52.044 atau setara lebih dari Rp900 juta, termasuk biaya penutupan dari fungsi sebelumnya.

Secara administratif, status bangunan sebagai rumah ibadah dinilai mempermudah proses alih fungsi. Meski demikian, kondisi fisik bangunan masih memerlukan perhatian serius. Dari dokumentasi yang beredar, bagian interior tampak sudah lama tidak digunakan, dengan beberapa plafon rusak dan tata ruang yang tidak terawat.

ACC berencana melakukan renovasi secara bertahap tanpa mengubah struktur utama bangunan. Penyesuaian akan difokuskan pada kebutuhan ibadah umat Islam, seperti penentuan arah kiblat, pembangunan tempat wudhu, serta penyediaan ruang shalat dan kegiatan pengajian.

Di balik keberhasilan ini, kekompakan diaspora Aceh menjadi kekuatan utama. Dukungan juga datang dari berbagai pihak, termasuk keluarga pengusaha asal Aceh yang bermukim di New Jersey, yakni Teuku Malik bersama istrinya Tiwi Wijaya, yang turut berperan penting dalam proses pembelian dan alih fungsi bangunan.

Selain itu, ACC juga tengah menggalang dana sebesar 150.000 dolar AS untuk mendukung pembelian dan renovasi sebagai pusat komunitas permanen. Hingga kini, puluhan ribu dolar telah berhasil dihimpun dari para donatur yang tersebar di berbagai wilayah. [nh]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI