Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Berita / Dunia / Ali Larijani: Dari Negosiator Nuklir, Kini Arsitek Balas Dendam Iran

Ali Larijani: Dari Negosiator Nuklir, Kini Arsitek Balas Dendam Iran

Selasa, 03 Maret 2026 15:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, berbicara setelah bertemu dengan Ketua Parlemen Lebanon, Nabih Berri, di Beirut, Lebanon pada 13 Agustus 2025 [Foto: Aziz Taher/Reuters]


DIALEKSIS.COM | Teheran - Selama puluhan tahun,Ali Larijani dikenal sebagai sosok tenang di lingkaran kekuasaan Teheran -- seorang intelektual yang menulis tentang Immanuel Kant, sekaligus diplomat yang bernegosiasi alot dengan Barat dalam isu nuklir.

Namun pada 1 Maret, hanya sehari setelah serangan udara gabungan AS-Israel menewaskan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei dan komandan IRGC Mohammad Pakpour, nada Larijani berubah drastis.

Di televisi pemerintah, pria 67 tahun itu berbicara bukan sebagai akademisi, melainkan sebagai pemimpin dalam situasi perang.

“Amerika dan rezim Zionis telah membakar hati bangsa Iran. Kita akan membakar hati mereka,” ujarnya.

Pernyataan itu menandai babak baru dalam karier panjang seorang tokoh yang selama ini kerap dipandang sebagai pragmatis di dalam sistem keras Republik Islam.

Kini, Larijani berada di pusat respons Teheran terhadap krisis terbesar sejak Revolusi 1979 -- bahkan disebut-sebut akan memainkan peran penting dalam dewan transisi tiga orang yang memimpin Iran pasca-Khamenei.

Dinasti Politik yang Dijuluki “Keluarga Kennedy Iran”

Lahir di Najaf, Irak, pada 3 Juni 1958, Larijani berasal dari keluarga ulama berpengaruh dari Amol. Majalah Time pernah menyebut keluarganya sebagai “Kennedy-nya Iran”.

Ayahnya, Mirza Hashem Amoli, adalah cendekiawan agama terkemuka. Saudara-saudaranya menduduki posisi penting, termasuk di lembaga peradilan dan Majelis Pakar -- dewan yang berwenang memilih dan mengawasi pemimpin tertinggi.

Hubungan politiknya juga bersifat personal. Di usia 20 tahun, Larijani menikahi Farideh Motahari, putri Morteza Motahhari, tokoh kunci revolusi dan orang dekat pendiri Republik Islam, Ruhollah Khomeini.

Namun berbeda dengan banyak elite revolusi, Larijani tidak hanya ditempa di seminari keagamaan. Ia meraih gelar matematika dan ilmu komputer dari Universitas Teknologi Sharif, lalu menyelesaikan magister dan doktor filsafat Barat di Universitas Teheran dengan tesis tentang Kant.

Perpaduan antara rasionalisme akademik dan politik kekuasaan itulah yang membentuk reputasinya sebagai teknokrat konservatif yang fleksibel.

Dari IRGC ke Meja Negosiasi Nuklir

Setelah Revolusi 1979, Larijani bergabung dengan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), sebelum beralih ke jabatan sipil.

Ia pernah menjabat menteri kebudayaan di era Akbar Hashemi Rafsanjani, lalu memimpin lembaga penyiaran negara (IRIB) selama satu dekade.

Pada 2005, ia diangkat sebagai sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi dan menjadi kepala negosiator nuklir Iran. Di posisi inilah namanya dikenal dunia internasional.

Meski sempat berselisih dengan Presiden Mahmoud Ahmadinejad, pengaruhnya tetap kuat. Sebagai Ketua Parlemen (2008“2020), ia memainkan peran penting dalam pengesahan kesepakatan nuklir 2015, atau Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA).

Kesepakatan itu sempat membuka jalan bagi pelonggaran sanksi terhadap Iran sebelum akhirnya runtuh akibat perubahan kebijakan di Washington.

Terpental, Lalu Kembali ke Pusat Kekuasaan

Ambisi kepresidenannya dua kali kandas setelah didiskualifikasi Dewan Penjaga pada 2021 dan 2024. Banyak analis menilai langkah itu membuka jalan bagi tokoh garis keras Ebrahim Raisi.

Namun politik Iran penuh kejutan.

Pada Agustus 2025, Presiden Masoud Pezeshkian menunjuknya kembali sebagai sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi.

Sejak saat itu, nada Larijani kian keras. Ia bahkan dilaporkan membatalkan kerja sama tertentu dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA), menyebut laporan badan tersebut “tidak lagi efektif”.

Pragmatis yang Menghilang?

Ironisnya, hanya beberapa minggu sebelum eskalasi militer, Larijani masih terlibat dalam negosiasi tidak langsung dengan AS melalui mediasi Oman. Dalam wawancara, ia menyebut jalur diplomasi sebagai “jalan rasional”.

Kini, diplomasi itu tampaknya terkubur bersama puing-puing serangan udara.

Larijani menegaskan Iran tidak akan bernegosiasi dengan Washington dalam kondisi saat ini. Ia memperingatkan bahwa membunuh para pemimpin tidak akan menggoyahkan sistem Republik Islam.

“Kami tidak bermaksud menyerang negara-negara regional,” katanya, “tetapi kami menargetkan pangkalan-pangkalan yang digunakan oleh Amerika Serikat.”

Titik Balik Sejarah

Dengan wafatnya Khamenei dan kawasan yang berada di ambang konflik lebih luas, Larijani kini bukan sekadar teknokrat atau politisi parlemen.

Ia adalah arsitek strategi keamanan Iran di tengah perang terbuka.

Pria yang pernah menulis tentang moralitas dan rasionalitas Kant kini menjanjikan respons dengan “kekuatan yang belum pernah mereka alami sebelumnya”.

Sejarah mungkin akan mencatat momen ini sebagai transformasi terbesar dalam hidupnya: dari filsuf pragmatis menjadi figur sentral dalam konfrontasi paling berbahaya dalam sejarah modern Iran. [MM/Aljazeera]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI