DIALEKSIS.COM | Gambia - Presiden Gambia Adama Barrow berjanji meningkatkan pasokan listrik paling lambat bulan depan setelah pemadaman berkepanjangan memicu aksi demonstrasi di sejumlah wilayah.
Para pengunjuk rasa membakar ban dan memasang barikade di jalan-jalan di Banjul dan sekitarnya pada Senin (7/9/2026) dan Selasa (8/9/2026). Mereka juga menuntut Barrow mengundurkan diri.
Polisi membubarkan massa menggunakan gas air mata, termasuk demonstran yang berkumpul di sekitar kediaman Presiden Barrow dan kantor perusahaan listrik negara, National Water and Electricity Corporation (NAWEC).
Barrow menyebut krisis listrik tersebut sebagai situasi darurat dan "masalah keamanan nasional". Ia mengatakan pemerintah akan memasang mesin pembangkit berkapasitas 24 megawatt pada akhir Oktober.
"Saya tahu kipas angin berhenti berputar, anak-anak belajar dalam kegelapan, para ibu membuang makanan yang basi, dan udara panas terasa sangat menyiksa baik siang maupun malam," kata Barrow dalam pidato nasional.
Pemadaman listrik bergilir berlangsung di tengah musim panas dan mencapai 48 jam di sejumlah wilayah Gambia.
Selain pembangkit baru, pemerintah juga berencana segera memulai pembangunan pembangkit listrik tenaga surya berkapasitas 50 megawatt.
Direktur Pelaksana NAWEC, Gallo, mengatakan krisis listrik antara lain dipengaruhi perubahan iklim dan konflik AS-Israel dengan Iran. NAWEC sebelumnya juga menyebut terjadi lonjakan permintaan listrik yang tidak terduga akibat tingginya suhu udara.
Krisis listrik tersebut terjadi beberapa bulan menjelang pemilihan presiden Gambia pada Desember. Barrow diketahui mencalonkan diri untuk masa jabatan ketiga. [AFP/Aljazeera]