DIALEKSIS.COM | Port-au-Prince - Setidaknya 30 orang tewas akibat gelombang kekerasan baru yang melanda Haiti.
Para pejabat melaporkan bahwa sebuah koalisi geng yang kuat melancarkan serangan mematikan terhadap komunitas petani di Kenscoff, sebelah selatan ibu kota Port-au-Prince, pada Minggu malam. Lonjakan kekerasan ini terjadi di tengah harapan Haiti untuk menggelar pemilihan umum pertamanya dalam lebih dari satu dekade.
Wali Kota Kenscoff, Jean Massillon, mengatakan bahwa orang-orang bersenjata "menebar kekacauan" dengan membakar rumah-rumah dan membunuh warga.
Ia menyebutkan bahwa anggota geng menyasar sebuah gereja dan sejumlah rumah, termasuk kediaman Jean William Pape, seorang pakar kesehatan masyarakat terkemuka.
Massillon menuding anggota Viv Ansanm -- kelompok yang tahun lalu ditetapkan sebagai "organisasi teroris asing" oleh pemerintah Amerika Serikat -- sebagai pelaku serangan tersebut.
Geng-geng menguasai sekitar 70 persen wilayah Port-au-Prince. Viv Ansanm telah berulang kali menyasar Kenscoff, wilayah yang memiliki posisi strategis karena menghadap ke jalur akses menuju Petion-Ville -- lokasi sejumlah kedutaan besar, hotel mewah, dan pusat pemerintahan sementara.
Sebuah pasukan penumpas geng yang didukung PBB telah diberi mandat untuk membantu polisi memerangi geng dan memulihkan ketertiban, namun pasukan ini belum mencapai kapasitas penuhnya yang berjumlah 5.500 personel.
Menurut PBB, kekerasan geng telah menyebabkan 1,5 juta orang mengungsi di seluruh Haiti. Kekerasan terus berlanjut meskipun berbagai upaya telah dilakukan untuk mengendalikannya. Lebih dari 3.100 orang dilaporkan tewas dan 1.189 lainnya terluka antara bulan Januari hingga Juni, seiring berlanjutnya teror geng di Port-au-Prince yang telah memicu kekhawatiran internasional sejak tahun lalu.
Pada hari Senin (24/8/2026), kantor perdana menteri Haiti mengecam "serangan keji" tersebut dan berupaya meyakinkan warga Haiti bahwa aparat keamanan bersiaga penuh serta pasukan tambahan sedang dikerahkan.
"Kenscoff tidak akan dibiarkan begitu saja," demikian bunyi pernyataan tersebut. "Otoritas pemerintah akan dipulihkan, tanpa keraguan dan tanpa penundaan."
Warga Haiti telah mulai mendaftarkan diri untuk memberikan suara dalam pemilihan umum yang dijadwalkan pada bulan Januari, namun para ahli memperingatkan bahwa situasi saat ini terlalu berbahaya untuk menggelar pemungutan suara. [Aljazeera, AP, Reuters]

