Jum`at, 17 Juli 2026
Beranda / Berita / Dunia / Iran Ancam Hancurkan Infrastruktur Timur Tengah Jika AS Serang Lagi

Iran Ancam Hancurkan Infrastruktur Timur Tengah Jika AS Serang Lagi

Kamis, 16 Juli 2026 21:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Para pendukung pemerintah berdiri di samping spanduk yang menampilkan potret mendiang Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei selama unjuk rasa malam hari di Teheran, Iran, pada 12 Juli 2026. [Foto: Morteza Nikoubazl/Nurphoto/Getty Images]


DIALEKSIS.COM | Teheran - Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali meningkat. Teheran memperingatkan akan menghancurkan berbagai target strategis di Timur Tengah apabila Presiden AS Donald Trump benar-benar merealisasikan ancamannya untuk menyerang infrastruktur penting Iran dalam beberapa hari ke depan.

Dalam wawancara dengan Fox News pada Selasa (14/7/2026), Trump mengatakan AS akan menargetkan pembangkit listrik hingga jembatan di Iran jika tidak ada terobosan diplomatik.

"Minggu depan akan menjadi sangat buruk bagi mereka. Akan ada pembangkit listrik, akan ada jembatan. Kami akan menghancurkan semua pembangkit listrik mereka dan semua jembatan mereka, kecuali mereka bersedia kembali ke meja perundingan," kata Trump.

Menanggapi pernyataan tersebut, juru bicara komando militer tertinggi Iran menegaskan bahwa setiap serangan terhadap negaranya akan dibalas dengan menghancurkan infrastruktur penting di kawasan Timur Tengah.

Dalam pernyataan yang dipublikasikan melalui Telegram pada Kamis (16/7/2026), Iran menyatakan seluruh infrastruktur yang masih utuh di kawasan akan menjadi sasaran jika ancaman AS benar-benar dijalankan.

Iran juga menegaskan tidak akan membiarkan AS ikut campur di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu rute utama perdagangan minyak dunia.

"Dalam keadaan apa pun kami tidak akan mengizinkan Amerika, sebagai negara asing di luar kawasan, ikut campur di Selat Hormuz. Ini adalah garis merah Iran yang tidak bisa ditawar," demikian pernyataan tersebut.

Selat Hormuz dalam beberapa waktu terakhir menjadi pusat ketegangan antara pasukan AS dan Iran, menyusul meningkatnya serangan terhadap kapal-kapal komersial yang melintas di wilayah tersebut.

Di saat yang sama, Reuters melaporkan Iran diduga tengah berupaya memperluas tekanan terhadap jalur pelayaran global. Mengutip sejumlah sumber yang mengetahui persoalan itu, Reuters menyebut Teheran telah meminta kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran untuk bersiap menutup jalur pelayaran minyak di Laut Merah apabila AS melancarkan serangan baru.

Eskalasi konflik meningkat setelah AS awal pekan ini melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran sebagai respons atas serangan terhadap kapal-kapal komersial di Selat Hormuz. Sebagai balasan, Teheran dilaporkan telah meluncurkan serangan ke beberapa negara di kawasan Teluk.

Komando Pusat AS (CENTCOM) pada Kamis (16/7/2026) mengonfirmasi telah melakukan gelombang serangan baru terhadap sejumlah target militer Iran.

Menurut CENTCOM, serangan tersebut menyasar pusat komando, sistem pertahanan udara, fasilitas rudal dan drone, serta instalasi pengawasan pantai guna mengurangi kemampuan Iran mengancam jalur pelayaran di Selat Hormuz. Serangan presisi itu juga disebut mencakup sejumlah target di Bandar Abbas.

Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran menegaskan negaranya siap melakukan pembalasan.

"Tangan kami tidak terikat. Pasukan kami akan membalas agresi Amerika dengan seluruh kekuatan yang kami miliki," ujarnya dalam sebuah acara di Teheran.

Pekan lalu, Trump menyatakan gencatan senjata yang sebelumnya disepakati kedua pihak telah berakhir. Pada Rabu (15/7/2026), ia juga mengatakan kepada Fox Business bahwa para pejabat Iran menginginkan pertemuan dengan delegasi AS untuk membuka kembali jalur perundingan. [ct-cnbc]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI