Beranda / Berita / Dunia / Krisis di Laut Merah Menyebabkan Gangguan Global dalam Perdagangan Internasional

Krisis di Laut Merah Menyebabkan Gangguan Global dalam Perdagangan Internasional

Sabtu, 06 Januari 2024 17:00 WIB

Font: Ukuran: - +


Dampak positif dari perdagangan internasional adalah menjadi sumber devisa bagi negara. Foto: Pixabay


DIALEKSIS.COM | Dunia - Sentimen negatif terus melingkupi sektor pelayaran internasional, dengan dua faktor utama yang memengaruhi denyut nadi perdagangan internasional pada awal tahun 2024. 

Pemanasan eskalasi terjadi di jalur perdagangan vital Asia-Eropa, Laut Merah, sebagai akibat dari pertempuran antara Israel dan milisi Palestina, Hamas. Konflik ini telah melibatkan kelompok dalam Aliansi Perlawanan yang disokong Iran, termasuk Hizbullah di Lebanon, Houthi di Yaman, dan milisi di Suriah dan Irak.

Eskalasi mencapai puncaknya dengan serangan dari Hizbullah dan Houthi ke Israel dan kapal dagang yang terkait dengan Israel di Laut Merah. Akibatnya, beberapa perusahaan pelayaran dunia seperti Maersk, Mediterranean Shipping Company (MSC), Ocean Network Express (ONE), Hapag Lloyd, dan Hyundai Merchant Marine (HMM) memilih untuk menghindari perairan Laut Merah dan Terusan Suez. Ini telah mengakibatkan kenaikan tarif pengiriman secara signifikan.

Perusahaan-perusahaan besar ini beralih ke rute melalui Tanjung Harapan di ujung Selatan Afrika, mengakibatkan kenaikan tarif pengiriman dari Asia ke Eropa Utara melebihi dua kali lipat. Hal ini menciptakan tekanan tambahan pada rantai pasokan global dan berpotensi menyebabkan inflasi.

Pengaruhnya tidak hanya terbatas pada sektor perkapalan, tetapi juga menciptakan dampak luas pada pengecer besar seperti Walmart, IKEA, Amazon, serta produsen makanan seperti Nestle dan pedagang grosir termasuk Lidl. 

Larry Lindsey, kepala eksekutif Lindsey Group, menyatakan bahwa tekanan pada rantai pasokan yang menyebabkan inflasi pada tahun 2022 mungkin kembali terjadi akibat masalah di Laut Merah dan Samudera Hindia yang terus berlanjut.

"Selain itu, ada potensi eskalasi ketegangan geopolitik di wilayah lain, seperti Selat Taiwan dan Laut Hitam pasca perang Rusia-Ukraina," ujarnya. 

Sementara itu, penyeberangan melalui Terusan Panama mengalami penurunan 33% karena menyusutnya permukaan air, yang berdampak pada kenaikan biaya pengiriman komoditas curah kering.

Kondisi cuaca buruk, terutama di Brasil dengan kekeringan di Amazon dan hujan lebat di bagian Utara, telah menyebabkan antrian kapal yang lebih panjang dari biasanya di pelabuhan Paranagua pada akhir tahun 2023. Ini memperburuk situasi seiring dengan Brasil yang akan memasuki musim puncak pengiriman kedelai. 

John Kartsonas, Managing Partner di Breakwave Advisors, menyebutnya sebagai gelombang kekacauan yang terus menerus mengganggu normalitas dalam perdagangan internasional.

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI
Komentar Anda