DIALEKSIS.COM | Internasional - Departemen Kehakiman Amerika Serikat mengumumkan penangkapan seorang mantan pilot jet tempur siluman F-35 Angkatan Udara Amerika Serikat atas dugaan melatih personel militer China tanpa izin resmi pemerintah AS.
Pria bernama Gerald Brown (65) ditangkap oleh agen Federal Bureau of Investigation (FBI) di Indiana setelah kembali ke Amerika Serikat dari China, tempat ia berada sejak Desember 2023. Pengumuman penangkapan tersebut disampaikan pada Rabu dan dilaporkan kantor berita Agence France-Presse (AFP), Kamis (26/2/2026).
Dalam keterangan resminya, Departemen Kehakiman menyebut Brown diduga bersekongkol dengan warga negara asing untuk memberikan pelatihan pesawat tempur kepada pilot Angkatan Udara China tanpa lisensi yang diwajibkan oleh Departemen Luar Negeri Amerika Serikat. Pelatihan tersebut berkaitan dengan kemampuan operasional jet tempur canggih, termasuk F-35.
Brown diketahui memiliki karier panjang selama 24 tahun di Angkatan Udara AS. Ia pernah memimpin unit-unit sensitif yang bertanggung jawab atas sistem pengiriman senjata nuklir, memimpin berbagai misi tempur, serta bertugas sebagai instruktur pilot dan instruktur simulator untuk sejumlah pesawat tempur dan pesawat serang.
Setelah pensiun dari militer pada 1996, Brown bekerja sebagai pilot kargo. Ia kemudian beralih menjadi kontraktor pertahanan yang melatih pilot AS untuk menerbangkan jet tempur A-10 dan F-35.
Menurut dokumen dakwaan, Brown mulai menegosiasikan kontrak pada Agustus 2023 dengan Stephen Su Bin”warga negara China yang sebelumnya dijatuhi hukuman empat tahun penjara di AS pada 2016 atas kasus spionase. Pada Desember 2023, Brown disebut melakukan perjalanan ke China untuk memulai pelatihan.
Pejabat Divisi Kontra Intelijen dan Spionase FBI, Roman Rozhavsky, menegaskan bahwa pemerintah China terus berupaya mengeksploitasi keahlian personel aktif maupun mantan anggota militer AS untuk memodernisasi kemampuan militernya.
“Penangkapan ini menjadi peringatan bahwa FBI dan mitra kami tidak akan berhenti hingga siapa pun yang berkolaborasi dengan musuh untuk membahayakan keamanan nasional dimintai pertanggungjawaban,” ujar Rozhavsky.
Kasus ini kembali menyoroti ketegangan hubungan antara Amerika Serikat dan China, terutama dalam isu keamanan nasional dan persaingan teknologi militer canggih.