DIALEKSIS.COM | Sudan - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan lebih dari 8 juta anak usia sekolah di Sudan masih tidak mendapatkan pendidikan akibat perang yang telah berlangsung lebih dari tiga tahun.
Wakil Sekretaris Jenderal PBB Amina Mohammed mengatakan konflik antara tentara Sudan dan kelompok paramiliter Rapid Support Forces (RSF) telah menghancurkan sistem pendidikan sekaligus mengancam masa depan satu generasi anak Sudan.
“Di antara segala hal yang direnggut oleh perang ini, salah satu yang paling signifikan adalah masa depan Sudan,” kata Mohammed dalam sidang informal Dewan Keamanan PBB, Jumat (7/8/2026).
PBB mencatat hampir tiga perempat sekolah di wilayah Darfur rusak, hancur, atau tidak dapat digunakan sejak perang pecah pada April 2023. Sejak 2024, sedikitnya 67 serangan terhadap sekolah dan 154 kasus penggunaan sekolah untuk kepentingan militer juga telah terdokumentasi.
Kondisi tersebut membuat sekitar lima dari enam anak di Sudan tidak bersekolah. Banyak orang tua bahkan memilih mempertahankan anak-anak mereka di rumah karena khawatir terhadap keselamatan mereka.
Krisis juga berdampak pada tenaga pendidik. Lebih dari separuh guru di Sudan dilaporkan tidak menerima gaji, meski sebagian tetap mengajar di tengah kondisi yang sangat sulit.
PBB dan mitranya telah membantu lebih dari satu juta anak kembali mengikuti kegiatan belajar pada tahun ini. Namun, jumlah tersebut masih jauh dari kebutuhan di tengah krisis kemanusiaan yang terus memburuk.
UNICEF memperkirakan sekitar 15 juta orang di Sudan telah mengungsi sejak perang dimulai, sementara hampir 33 juta orang membutuhkan bantuan kemanusiaan. Lebih dari separuh kelompok yang membutuhkan bantuan tersebut merupakan anak-anak.
Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia Volker Turk sebelumnya menyebut laporan pembunuhan massal dan kekerasan seksual dalam konflik Sudan sebagai bagian dari “bencana hak asasi manusia yang sedang terjadi”. [Aljazeera]