DIALEKSIS.COM | Jantho - Ketua Kamar Dagang dan Industri Kabupaten Aceh Besar, Afdhal, menegaskan bahwa Aceh Besar saat ini tengah dipersiapkan menjadi kawasan peternakan ayam terpadu berbasis teknologi modern dengan nilai investasi mencapai Rp2 triliun.
Proyek besar tersebut dinilai menjadi langkah strategis untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah sekaligus memperkuat ketahanan pangan Aceh di masa mendatang.
Menurut Afdhal, Aceh membutuhkan lebih banyak investasi produktif yang mampu membuka lapangan kerja, memperkuat sektor pangan, serta menggerakkan ekonomi masyarakat secara luas.
Karena itu, rencana pembangunan industri peternakan modern di Aceh Besar harus dipandang sebagai peluang besar untuk mempercepat transformasi ekonomi daerah menuju sektor industri pangan modern.
“Aceh membutuhkan investasi yang benar-benar produktif. Investasi yang mampu membuka lapangan kerja, memperkuat ketahanan pangan, dan memberikan dampak langsung bagi masyarakat. Karena itu, setiap investasi yang memberi manfaat bagi daerah harus dijaga bersama,” kata Afdhal kepada media dialeksis.com, Rabu (13/5/2026).
Ia menyampaikan, Aceh tidak boleh terus terjebak pada narasi yang justru menghambat pertumbuhan ekonomi daerah.
Menurutnya, yang paling penting adalah memastikan investasi berjalan sehat, melibatkan masyarakat lokal, serta memberikan dampak nyata bagi petani, peternak, dan pelaku usaha di Aceh.
“Kita jangan terjebak pada narasi yang justru menghambat pertumbuhan ekonomi Aceh. Yang harus dipastikan adalah investasi berjalan sehat, melibatkan masyarakat lokal, serta memberikan dampak nyata bagi petani, peternak, dan pelaku usaha daerah,” ujarnya.
Afdhal menjelaskan, Kamar Dagang dan Industri Aceh saat ini mulai membidik peluang besar di sektor industri peternakan modern dengan menyiapkan lahan seluas 1.050 hektare di wilayah Aceh Besar.
Kawasan tersebut dirancang menjadi pusat industri peternakan ayam terpadu berbasis teknologi modern yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.
Proyek itu diperkirakan membutuhkan investasi mencapai US$120 juta atau setara sekitar Rp2 triliun. Nilai investasi tersebut dinilai realistis karena konsep pengembangan yang disiapkan mengadopsi sistem peternakan modern berbasis teknologi “closed house” yang selama ini dikenal lebih efisien, higienis, dan produktif.
Menurutnya, investasi peternakan modern tidak boleh dipahami hanya sebatas pembangunan kandang ayam, tetapi harus menjadi bagian dari pembangunan ekosistem industri yang lebih luas.
Dalam perspektif ekonomi modern, Aceh membutuhkan rantai industri yang saling terhubung mulai dari petani jagung, peternak, industri pakan, sektor logistik, hingga pasar nasional dan ekspor.
“Yang dibutuhkan Aceh bukan hanya masuknya modal, tetapi hadirnya ekosistem industri yang mampu menghubungkan petani, peternak, industri pakan, logistik, hingga pasar nasional dan ekspor. Ini yang harus mulai dibangun di Aceh,” jelasnya.
Ia juga menekankan bahwa pengembangan industri unggas harus dibarengi penguatan sektor pertanian lokal, khususnya produksi jagung sebagai bahan baku utama pakan ternak. Dengan demikian, petani di Aceh akan memperoleh kepastian pasar sekaligus meningkatkan nilai ekonomi hasil pertanian mereka.
“Pengembangan industri unggas harus dibarengi penguatan industri jagung lokal agar petani di Aceh mendapatkan pasar yang pasti dan biaya produksi bisa ditekan lebih efisien,” kata Afdhal.
Lebih lanjut, ia menilai Aceh memiliki posisi strategis sebagai pintu gerbang kawasan Pantai Barat Indonesia. Potensi geografis tersebut, menurutnya, harus dimanfaatkan untuk menjadikan Aceh sebagai basis produksi pangan dan agroindustri yang mampu melayani pasar regional hingga ekspor.
“Aceh memiliki posisi strategis sebagai pintu Pantai Barat Indonesia. Karena itu Aceh harus mulai diarahkan menjadi basis produksi pangan dan agroindustri yang mampu melayani pasar regional hingga ekspor,” ujarnya.
Afdhal berharap tidak ada pihak yang menghambat lahirnya industri-industri produktif di Aceh Besar. Ia menilai daerah membutuhkan keberanian untuk maju dan membangun kapasitas produksi agar mampu keluar dari ketergantungan ekonomi yang selama ini membebani masyarakat.
“Kami berharap tidak ada pihak yang menghambat lahirnya industri produktif di Aceh Besar. Daerah ini membutuhkan keberanian untuk maju, membangun kapasitas produksi, dan keluar dari ketergantungan ekonomi yang selama ini membebani masyarakat,” tegasnya.
Rencana pengembangan kawasan peternakan modern tersebut diyakini dapat menjadi salah satu proyek strategis yang membuka peluang kerja baru dalam jumlah besar. Selain menyerap tenaga kerja lokal, industri ini juga diproyeksikan mampu menghidupkan berbagai sektor penunjang lainnya, mulai dari distribusi, perdagangan, jasa transportasi, hingga usaha mikro masyarakat di sekitar kawasan industri.
Jika terealisasi, proyek peternakan ayam terpadu berbasis teknologi modern itu berpotensi menjadi tonggak baru pembangunan ekonomi Aceh, khususnya dalam memperkuat ketahanan pangan dan mendorong lahirnya kawasan agroindustri modern di wilayah paling barat Indonesia. [nh]