DIALEKSIS.COM | Jakarta - Rencana besar Presiden Prabowo Subianto untuk mengembangkan Pelabuhan Sabang di Aceh sebagai penghubung strategis Indonesia dengan Kepulauan Andaman dan Nikobar di India dinilai sebagai langkah revolusioner.
Menanggapi momentum penting ini, Mantan Senator DPD RI asal Aceh 2014-2024 dan tokoh nasional asal Aceh, Dr. Fachrul Razi, M.I.P., menegaskan bahwa jalur konektivitas Sabang-Andaman merupakan strategi konektivitas yang dinilai bukan sekadar proyek infrastruktur pelabuhan biasa, melainkan sebuah poros baru yang menyimpan potensi luar biasa dari kacamata geoekonomi, geopolitik, dan geostrategi Indonesia di wilayah barat.
Dr. Fachrul Razi menjelaskan bahwa pembukaan jalur pelabuhan ini akan membuka keran perdagangan langsung antara Indonesia (melalui Aceh) dan India. Komoditas unggulan Aceh kini memiliki jalur logistik yang lebih dekat, teratur, dan kompetitif ke pasar Asia Selatan.
"Ini adalah peluang emas bagi Aceh untuk keluar dari stagnasi ekonomi. Namun, Aceh tidak boleh hanya menjadi penonton atau sekadar tempat transit bahan mentah. Kebijakan ini harus dibarengi dengan percepatan hilirisasi. Kita harus membangun kapasitas pengolahan lokal agar produk yang keluar dari Sabang memiliki nilai tambah tinggi bagi masyarakat daerah," ujar Fachrul Razi yang juga alumni politik UI dan studi global Universitas Indonesia.
Jika ekosistem industri ini terbentuk, arus investasi baru dipastikan akan mengalir deras, membuka lapangan kerja luas, serta efektif menekan angka pengangguran dan kemiskinan di Aceh.
Dr. Fachrul Razi juga menilai langkah ini memperkuat posisi Indonesia di Samudra Hindia. Secara geopolitik, letak geografis Sabang sangat krusial karena berada di pintu masuk Selat Malaka, salah satu jalur pelayaran terpadat di dunia. Selama puluhan tahun, potensi ini dinilai belum dimanfaatkan secara optimal.
Melalui kerja sama konkret Sabang-Andaman, Indonesia memperkuat posisi tawarnya dalam diplomasi maritim di kawasan regional. Hubungan bilateral yang semakin erat antara Jakarta dan New Delhi melalui titik temu Sabang-Andaman ini memposisikan Indonesia sebagai pemain kunci yang menjaga keseimbangan stabilitas politik dan keamanan di kawasan Samudra Hindia, sekaligus membendung dominasi ekonomi sepihak dari kekuatan luar lainnya.
Dr. Fachrul Razi juga mengatakan bahwa dorongan dari Presiden Prabowo Subianto menempatkan kembali Sabang ke dalam peta strategis nasional dan global. Sabang di masa depan harus diarsiteki bukan hanya sebagai simbol geografis ujung barat Indonesia, melainkan sebagai simpul pertahanan, pusat logistik internasional, serta kawasan ekonomi maritim yang produktif.
"Pemerintah pusat sudah memberikan sinyal hijau yang sangat kuat. Sekarang bola ada di tangan Pemerintah Daerah, Badan Pengusahaan Kawasan Sabang (BPKS), dan seluruh stakeholder di Aceh. Diperlukan sebuah 'orkestrasi' kebijakan yang rapi, transparan, dan visioner demi kepentingan jangka panjang," tambah Dr. Fachrul Razi yang juga mantan ketua Komite I DPD RI 2019-2024.
Ia mengingatkan agar proyek strategis ini tidak terjebak dalam urusan seremonial belaka. Penyiapan peta jalan (roadmap) yang konkret mengenai kapasitas pelabuhan, rantai pasok logistik, ketersediaan energi, serta kemudahan regulasi investasi harus segera dirumuskan secara terintegrasi bersama kalangan akademisi, swasta, dan perbankan.
Konektivitas Sabang-Andaman adalah momentum politik-ekonomi langka yang tidak boleh disia-siakan. Jika dikelola dengan komitmen tinggi, sinergi ini akan menjadi pintu keluar Aceh dari keterpurukan ekonomi, sekaligus meneguhkan posisi strategis Indonesia Wilayah Barat di mata dunia.