Jum`at, 09 Oktober 2026
Beranda / Ekonomi / Harga Kedelai Mendekati Rp 12.000 per Kg, Bapanas Siapkan Rp100 Miliar

Harga Kedelai Mendekati Rp 12.000 per Kg, Bapanas Siapkan Rp100 Miliar

Jum`at, 09 Oktober 2026 13:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Indri

Pekerja menunjukan kacang kedelai di salah satu distributor kedelai di Cibuntu, Bandung, Jawa Barat, Rabu (10/6/2026). [Foto: Antara/Raisan Al Farisi]


DIALEKSIS.COM | Jakarta - Harga kedelai impor di tingkat perajin tahu dan tempe masih relatif stabil dan berada di bawah Harga Acuan Penjualan (HAP) pemerintah. Berdasarkan data Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo) per 7 Oktober 2026, rata-rata harga kedelai impor di Pulau Jawa mencapai Rp 11.573 per kilogram (kg).

Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas) Hermawan mengatakan, harga kedelai di sejumlah wilayah masih terkendali. Di Banten, harga rata-rata tercatat Rp 11.900 per kg, mendekati HAP Rp 12.000 per kg. Sementara itu, harga tertinggi di DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan DI Yogyakarta mencapai Rp 11.850 per kg.

“Yang paling penting, pemerintah tidak tinggal diam atau hanya menunggu harga kedelai di perajin naik,” kata Hermawan, Jumat (9/10/2026).

Pemerintah menetapkan HAP kedelai impor di tingkat perajin tahu dan tempe maksimal Rp 12.000 per kg. Adapun HAP kedelai lokal ditetapkan maksimal Rp 11.400 per kg melalui Keputusan Kepala Badan Pangan Nasional Nomor 330 Tahun 2026.

Untuk menjaga stabilitas harga, pemerintah menyiapkan anggaran Rp 100 miliar untuk program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) kedelai pada semester II 2026. Program ini diprioritaskan bagi daerah yang harga kedelainya di tingkat perajin telah melampaui HAP.

Hermawan menegaskan, pelaksanaan SPHP dilakukan secara terukur dengan mempertimbangkan perkembangan harga dan kondisi pasokan di masing-masing wilayah. Pemerintah juga memantau stok serta distribusi kedelai untuk memastikan bahan baku tetap tersedia dan usaha tahu-tempe dapat terus berjalan.

Di sisi lain, ketergantungan terhadap kedelai impor masih menjadi tantangan. Kebutuhan kedelai nasional pada 2026 diproyeksikan mencapai 2,7 juta ton, dengan sekitar 95 persen atau 2,6 juta ton dipenuhi dari impor. Pemerintah mendorong peningkatan produksi dalam negeri untuk mengurangi ketergantungan tersebut. [in]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI