DIALEKSIS.COM | Bireuen - Menjelang Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah, penjualan hewan kurban di Aceh khususnya di Matang Geulumpang Dua, Kabupaten Bireuen, tidak seramai tahun-tahun sebelumnya.
Sejumlah pedagang mengaku mengalami penurunan penjualan yang cukup signifikan akibat melemahnya daya beli masyarakat, dampak banjir bandang yang melanda sejumlah wilayah Aceh, hingga kenaikan nilai tukar dolar Amerika Serikat yang kini disebut telah menyentuh angka Rp17.700 per dolar.
Kondisi tersebut dirasakan langsung oleh para penjual hewan kurban yang setiap tahun menggantungkan harapan besar pada momentum Iduladha. Namun tahun ini, pasar kurban disebut tidak sebergairah biasanya.
Salah seorang penjual lembu di Matang Geulumpang Dua, Kabupaten Bireuen, Rizkan, mengatakan penjualan hewan kurban mengalami penurunan cukup tajam dibandingkan tahun lalu.
“Biasanya bisa laku sekitar 100 lembu saat musim kurban seperti tahun lalu. Tapi tahun ini cuma sekitar 70 ekor sapi yang terjual. Belum lagi kambing, penjualannya juga ikut turun,” kata Rizkan kepada wartawan dialeksis.com, Selasa, 26 Mei 2026.
Menurutnya, situasi ekonomi masyarakat menjadi faktor utama menurunnya penjualan hewan kurban tahun ini. Ia menilai masyarakat kini lebih berhati-hati membelanjakan uang karena harga kebutuhan pokok terus meningkat.
“Daya beli masyarakat memang sedang menurun. Harga barang pokok naik semua. Banyak orang akhirnya mengurangi pengeluaran, termasuk untuk berkurban,” ujarnya.
Rizkan juga menyoroti dampak banjir bandang yang beberapa waktu terakhir melanda sejumlah daerah di Aceh. Bencana tersebut disebut ikut memukul kondisi ekonomi warga, terutama masyarakat yang menggantungkan hidup dari sektor pertanian dan usaha kecil.
“Banyak masyarakat yang terdampak banjir. Ada sawah rusak, usaha terganggu, ekonomi jadi sulit. Jadi wajar kalau yang berkurban juga berkurang tahun ini,” katanya.
Selain faktor banjir dan melemahnya ekonomi lokal, Rizkan menyebut kenaikan dolar juga ikut berpengaruh terhadap harga dan biaya pemeliharaan hewan ternak.
Menurutnya, kenaikan harga pakan ternak dan biaya operasional membuat para pedagang harus menyesuaikan harga jual.
“Sekarang dolar juga naik tinggi. Dampaknya ke harga pakan dan biaya lainnya ikut terasa. Kami pedagang juga serba sulit karena biaya naik, tapi pembeli justru berkurang,” jelasnya.
Para pedagang berharap kondisi ekonomi masyarakat segera membaik agar tradisi berkurban tetap dapat berjalan dengan baik di Aceh. Mereka juga berharap pemerintah hadir memberikan perhatian terhadap kondisi peternak dan pedagang kecil yang terdampak situasi ekonomi dan bencana alam.
“Harapan kami tentu ekonomi masyarakat membaik. Karena kalau ekonomi sulit, semua sektor ikut terdampak, termasuk kami pedagang hewan kurban,” tutup Rizkan.