Selasa, 14 Juli 2026
Beranda / Ekonomi / Kemenperin: Ekspor Batik Naik 13 Persen, Konsumen Diminta Kenali Batik Asli

Kemenperin: Ekspor Batik Naik 13 Persen, Konsumen Diminta Kenali Batik Asli

Selasa, 14 Juli 2026 12:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Indri

Direktur Jenderal IKMA Reni Yanita mengatakan, Batikmark menjadi identitas resmi yang membantu konsumen mengenali keaslian batik sekaligus memberikan perlindungan dan nilai tambah bagi perajin. [Foto: dok. Kemenperin]


DIALEKSIS.COM | Jakarta - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengajak masyarakat lebih memahami perbedaan batik asli dengan kain printing bermotif batik di tengah maraknya produk tekstil bermotif batik yang beredar di pasaran. Langkah ini dilakukan untuk melindungi perajin sekaligus menjaga kelestarian batik sebagai warisan budaya tak benda Indonesia.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, edukasi kepada konsumen penting agar masyarakat dapat memilih batik otentik yang dibuat melalui proses perintangan warna menggunakan malam (lilin), baik dengan teknik tulis maupun cap.

"Produk printing dipasarkan dengan harga lebih murah dan diproduksi secara massal sehingga berpotensi menggeser posisi batik asli, baik dari sisi pasar maupun apresiasi terhadap nilai budayanya," kata Agus dalam keterangan resmi yang diterima pada Selasa (14/7/2026).

Menurut Agus, batik asli memiliki ciri motif yang tembus hingga bagian belakang kain, aroma khas malam, serta garis motif yang tidak selalu presisi karena dikerjakan secara manual. Sementara kain printing umumnya hanya bermotif pada satu sisi, memiliki warna yang seragam, dan dicetak menggunakan mesin.

Di sisi lain, industri batik nasional masih menunjukkan tren positif. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor produk batik pada 2025 mencapai 30,62 juta dollar AS, meningkat 13,03 persen dibandingkan 2024 yang sebesar 26,63 juta dollar AS.

Untuk memperkuat daya saing industri batik, Kemenperin melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) terus menjalankan berbagai program pembinaan. 

Program tersebut meliputi fasilitasi sertifikasi Batikmark, bimbingan teknis peningkatan efisiensi produksi, penguatan Indikasi Geografis, sertifikasi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) self declare, restrukturisasi mesin dan peralatan, pelatihan sumber daya manusia, hingga fasilitasi akses pasar dan pembiayaan.

Direktur Jenderal IKMA Reni Yanita mengatakan, Batikmark menjadi identitas resmi yang membantu konsumen mengenali keaslian batik sekaligus memberikan perlindungan dan nilai tambah bagi perajin.

Upaya tersebut juga diwujudkan melalui dukungan Kemenperin terhadap Pagelaran Seni Batik Indonesia Puspa Nuswantara 2026 yang diselenggarakan Asosiasi Perajin dan Pengusaha Batik Indonesia (APPBI) bersama Yayasan Batik Indonesia pada 8-12 Juli 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta. [in]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI