DIALEKSIS.COM | Jakarta - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mendorong hilirisasi minyak atsiri nasional untuk meningkatkan nilai tambah industri berbasis bahan alam. Salah satu langkah yang dilakukan yakni memperkuat pengembangan Pusat Flavor and Fragrance (PFF) Bali sebagai pusat inovasi, pelatihan, hingga inkubasi bisnis produk turunan minyak atsiri.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, Indonesia memiliki peluang besar mengembangkan industri flavor, fragrance, dan wellness karena didukung kekayaan biodiversitas serta pasokan minyak atsiri yang melimpah.
“Pengembangan Pusat Flavor and Fragrance Bali menjadi bagian dari upaya pemerintah dalam memperkuat hilirisasi minyak atsiri nasional agar tidak hanya diekspor dalam bentuk bahan mentah, tetapi dapat diolah menjadi produk bernilai tambah tinggi seperti parfum, aromaterapi, produk spa, kosmetik, hingga produk rumah tangga berbasis bahan alam,” ujar Agus, Rabu (13/5/2026).
Menurut Agus, Bali dipilih karena memiliki pasar potensial bagi industri hilir minyak atsiri. Tingginya aktivitas pariwisata dan berkembangnya industri spa serta wellness dinilai mampu mendorong permintaan produk berbasis bahan alami seperti minyak spa, parfum, lilin aromaterapi, hingga produk perawatan tubuh.
Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Putu Juli Ardika mengatakan, PFF Bali diarahkan untuk memperkuat ekosistem industri flavor dan fragrance nasional melalui pengembangan inovasi produk dan peningkatan kompetensi sumber daya manusia (SDM).
“PFF Bali tidak hanya menjadi pusat pelatihan, tetapi juga diharapkan mampu menjadi katalis pengembangan industri flavor dan fragrance nasional berbasis minyak atsiri Indonesia,” kata Putu.
Sejak dikembangkan, PFF Bali telah menggelar sejumlah program pelatihan, mulai dari sertifikasi peracikan minyak spa berbasis minyak atsiri bagi pekerja migran Indonesia hingga pelatihan aromaterapi untuk masyarakat umum. Kemenperin juga menyiapkan pelatihan peracikan parfum, pembuatan sabun dan lilin aromaterapi, serta dupa aromaterapi sepanjang 2026.
Kemenperin berharap penguatan PFF Bali dapat mempercepat hilirisasi minyak atsiri nasional sekaligus mendorong Indonesia menjadi pusat pengembangan produk flavor, fragrance, dan wellness berbasis bahan alam di pasar global. [in]