Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Ekonomi / Ruqyah Dijadikan Dagangan, Abu Faisal: Jangan Jual Agama dengan Kemasan Sugesti

Ruqyah Dijadikan Dagangan, Abu Faisal: Jangan Jual Agama dengan Kemasan Sugesti

Minggu, 10 Mei 2026 17:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Arn

Ketua MPU Aceh, Tgk. H. Faisal Ali atau yang akrab disapa Abu Faisal. [Foto: Ist.]


DIALEKSIS.COM | Jantho - Fenomena penjualan produk bertajuk “garam ruqyah” yang kian marak di ruang digital menuai perhatian serius dari Ketua MPU Aceh, Tgk. H. Faisal Ali atau yang akrab disapa Abu Faisal

Ia mengingatkan, praktik tersebut berpotensi menyesatkan umat ketika agama direduksi menjadi sekadar alat pemasaran, bahkan lebih jauh lagi, menyeret nama ulama besar yang telah wafat untuk kepentingan komersial.

Dalam tausiahnya, Abu Faisal menegaskan bahwa keberkahan tidak pernah lahir dari label, kemasan, atau klaim sepihak yang dibangun di atas sugesti. Menurutnya, agama memiliki batas-batas yang harus dijaga, termasuk dalam hal praktik ruqyah yang kerap dipahami secara keliru oleh masyarakat.

“Agama ini bukan alat jualan. Kalau sudah dibungkus sedemikian rupa untuk menarik pembeli, apalagi dengan klaim-klaim yang berlebihan, maka yang dijual itu bukan lagi keberkahan, tapi sugesti,” ujar Abu Faisal dengan nada tegas namun tetap menyejukkan saat menjelaskan kepada Dialeksis, Minggu (10/5/2026).

Ia menggarisbawahi bahwa ruqyah dalam ajaran Islam adalah bentuk ikhtiar spiritual yang bersifat personal, dilakukan dengan doa-doa yang diajarkan Rasulullah, bukan dikomodifikasi menjadi produk massal yang diperjualbelikan. Karena itu, ia meminta masyarakat untuk tidak mudah tergiur oleh narasi religius yang tidak memiliki dasar kuat dalam syariat.

Lebih jauh, Abu Faisal menyoroti praktik pencatutan nama ulama besar yang telah wafat untuk mendongkrak kepercayaan publik terhadap produk tertentu. Baginya, tindakan tersebut bukan hanya tidak etis, tetapi juga mencederai adab dalam menghormati ulama.

“Ulama itu pewaris nabi. Mereka dimuliakan karena ilmu dan akhlaknya. Jangan jadikan nama mereka sebagai alat promosi. Itu bukan bentuk penghormatan, tapi justru merendahkan martabat mereka,” katanya.

Dalam pandangannya, fenomena ini menjadi cermin lemahnya literasi keagamaan di tengah masyarakat, yang kerap kali lebih mudah percaya pada simbol dibanding substansi. Ia pun mengajak umat untuk kembali kepada pemahaman agama yang lurus, tidak berlebihan, dan tidak mudah terbawa arus komersialisasi spiritual.

“Kalau kita ingin keberkahan, maka jalannya jelas: perbaiki ibadah, luruskan niat, dan dekatkan diri kepada Allah. Bukan dengan membeli sesuatu yang diklaim punya kekuatan tertentu tanpa dasar yang jelas,” ujarnya.

Abu Faisal menutup tausiahnya dengan pesan agar masyarakat lebih kritis dan selektif dalam menerima informasi, terutama yang berkaitan dengan praktik keagamaan. Ia menegaskan, menjaga kemurnian agama adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya ulama, tetapi seluruh umat.

“Jangan sampai agama ini kita turunkan derajatnya hanya karena kepentingan sesaat. Agama harus tetap menjadi cahaya, bukan komoditas,” pungkasnya. [arn]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI